Vaksinasi Ulang Berlangsung Sebulan

Prioritaskan Anak Usia 1 Hingga 19 Tahun

SERANG, SNOL—Dinas Kesehatan Provinsi Banten menyediakan tak kurang dari 9 juta dosis vaksin untuk outbreak response immunization (ORI) atau vaksin ulang difteri. Pemberian vaksin akan digelar serentak di delapan kabupaten/kota se-Provinsi Banten selama sebulan mulai 11 Desember 2017.

Kepala Seksi (Kasi) Surveillence, Imunisasi dan Krisis Kesehatan Rostina mengatakan, saat ini Dinkes telah menerima vaksin dari pemerintah pusat untuk kegiatan vaksin ulang. Hal itu perlu dilakukan dalam upaya mengisolasi bakteri difteri agar tidak kembali mewabah.

“Logistik kami sudah siap,” ujarnya kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi dengan Dinkes kabupaten/kota se-Provinsi Banten di aula Kantor Dinkes Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Jumat (8/12).

Una, sapaan akrab Rostina menuturkan, vaksin ulang akan dilakukan sebanyak 3 kali di mana satu putaran vaksinasi pihaknya menyiapkan 3.050.789 dosis vaksin.

“Sasarannya satu putaran untuk 3 juta orang. Itu untuk sekali putaran dan ini (vaksin ulang) harus 3 kali putaran. Sekarang 0 bulan, kemudian putaran kedua satu bulan kemudian dan putaran ketiga enam bulan setelahnya putaran kedua,” katanya. Soal jumlah penderita, menurutnya hingga kemarin belum mengalami penambahan yaitu 68 kasus dan 8 orang diantaranya telah dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Dinkes Provinsi Banten Sigit Wardojo mengatakan, vaksin ulang menjadi hal yang sangat perlu dilakukan untuk melindungi masyarakat Banten. Agar semua berjalan dengan baik maka pihaknya sengaja menggelar rapat koordinasi dengan Dinkes kabupaten/kota se-Banten.

“Menyikapi perkembangan penyakit difteri di Banten, kita harus mengambil langkah cepat untuk melindungi masyarakat dari difteri. Koordinasi sudah kita lakukan tinggal nanti melakukan action,” ungkapnya.

Untuk jadwal vaksin ulang, kata dia, seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, itu akan dilakukan mulai Senin (11/12). Itu berlaku untuk 8 kabupaten/kota se-Banten dan akan dilaksanakan di tempat terbatas seperti posyandu, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

“Mulai Senin sudah melaksanakan di tempat-tempat terbatas sambil melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak kaget,” ujarnya.

Prioritas utama pemberian vaksin ulang diperuntukan bagi anak usia 1 hingga 19 tahun. Meski demikian pihaknya akan tetap melayani bagi siapa pun yang ingin mendapat vaksin tersebut.

“Silakan siapa saja, terbuka untuk umum. Saya dan petugas medis juga sudah semua divaksin ulang,” paparnya.

Disinggung soal status kejadian luar biasa (KLB) Sigit mengaku, pihaknya belum mengeluarkannya. KLB di tingkat provinsi baru akan dikeluarkan jika kabupaten/kota sudah menerbitkannya.

“Kita tunggu dari kabupaten/kota. Sampai sekarang baru Kabupaten Tangerang yang sudah mengeluarkannya,” katanya.

Mengingat logistik yang diberikan hanya sebagai vaksin dan alat pendukung lainnya, Sigit meminta kepada Dinkes kabupaten/kota bisa mencari alternatif untuk pembiayaan operasional vaksin ulang.

“Masih ada beberapa kesulitan, misal pendanaan. Nanti coba cari alternatif yang memungkinkan. Vaksin sudah disiapkan dari pusat tapi vaksin enggak bisa jalan sendiri,”ungkapnya.

Dia mengimbau kepada masyarakat bisa berperan aktif dalam proses vaksin ulang. “Secara pasif dan aktif, partisipasi masyarakat sangat kami harapkan karena difteri merupakan penyakit yang sangat menular dan mematikan,” pungkasnya.

Dinkes Banten menerima 66 kasus difteri hasil laporan dari delapan kabupaten/kota sepanjang tahun 2017. Dari jumlah tersebut, 8 orang penderita dari empat kabupaten/kota dinyatakan telah meninggal dunia.

“Rinciannya itu Kabupaten Tangerang 25 kasus, Kabupaten Serang 12 kasus, Kota Tangerang 8 kasus, Kabupaten Pandegalng 7 kasus, Kota Serang 8 kasus, Kota Tangerang Selatan 4 kasus, Kabupaten Lebak 3 kasus dan Kota Cilegon 1 kasus,” ujar Rostina, Kamis (7/12) lalu.

Ia menuturkan, pihaknya belum bisa berbuat banyak untuk menangani penyakit tersebut selain melakukan imunisasi. Menurut Rostina, kelangkaan antidifteri serum membuat penanganan cenderung lambat. Akibatnya, tingkat kematian akibat penyakit itu di Banten cukup tinggi yaitu mencapai 8 orang. Adapun rincian pasien yang meninggal terdiri atas Kabupaten Serang 2 orang, Kabupaten Tangerang 4 orang, Kabupaten Lebak 1 orang dan Kota Serang 1 orang.

Pemerintah Kabupaten Serang telah menyiapkan diri menghadapi difteri. Kendati demikian, mereka terkendala minimnya ruang isolasi untuk pasien difteri pada Rumah Sakit rujukan regional atau dr Dradjat Prawiranegara (RSDP) Kabupaten Serang. Saat ini, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang tersebut hanya memiliki ruang isolasi untuk dua pasien.

Direktur RSDP Kabupaten Serang, dr Agus Gusmara mengatakan, bahwa terkait banyaknya warga yang terjangkit virus difteri,  RSDP sendiri mau tidak mau, dan suka tidak suka harus menerima rujukan pasien tersebut karena sudah ditunjuk oleh Menteri Kesehatan dan Gubernur Banten. Walaupun, kata Agus, sarana dan prasarana yang dimiliki masih sangat kurang.

“Kapasitas ruang isolasi (pasien Difteri -red) dua ruangan, kalau dipaksakan untuk tiga pasien masih bisa sih,”kata Agus Gusmara, Jumat (8/12).

Disinggung mengenai tenaga medis, ia memastikan tenaga medis yang menangani pasien difteri banyak, seperti  dokter anak dan dokter THT. Begitu juga,  serum, vaksin, dan antidifteri tidak ada kendala.

“Sebetulnya kendala yang terjadi dilapangan itu karena banyak penolakan imunisasi itu, sehingga ngabeledug bae  (meledak saja-red)  kasus difteri,?sehingga banyak anak-anak yang tidak terlindungi, tidak terimunisasi,” ujarnya.

Menurutnya, kasus difteri ini bukan hanya terjadi di wilayah Serang, melainkan sudah terjadi secara nasional. Paling banyak terutama di wilayah Tengerang. Namun ia mengimbau agar masyarakat untuk bisa mengikuti program imunisasi yang telah dicanangkan pemerintah.

“Dengan munculnya kasus difteri yang sangat banyak, ada kesadaran masyarakat untuk mengikuti program pemerintah ini, dan vaksin itu mahal sebetulnya. Jangan mempermasalahkan halal haram, sekarang kan hal-hal yang sifatnya tidak didingnkan terjadi, ini bencana yah,” ujarnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Serang, Sri Nurhayati menyebut, ada 12 warga di wilayah kerjanya terkena virus difteri. Dari jumlah tersebut, 9 diantaranya sudah dalam keadaan baik dan masih ada satu yang masih menjalani masa perawatan di rumah sakit.

Menurut Sri, virus difteri datang dan menyasar seluruh wilayah melalui udara seiring dengan datangnya cuaca yang ekstrem. Namun penyakit tersebut hanya bisa menyerang warga yang kondisi fisiknya lemah. “Difteri terbawa angin, bisa menyasar kemana saja,” ujarnya.

Salah satu faktor pendukung yang bisa memudahkan virus difteri masuk pada tubuh manusia yakni lingkungan yang tidak bersih. Dengan demikian, Sri mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dan bersih. “Agar difteri tidak mudah menyerang,” pungkasnya. (ahmadi/sidik/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.