Jerit Tangis Warnai Vaksinasi Difteri

Hari Pertama Outbreak Response Imunization Berjalan Lancar

TANGERANG, SNOL—Jerit tangis anak – anak ter­dengar di berbagai sekolah yang melaksanakan Outbreak Response Imunization (ORI) vak­sinasi difteri di berbagai wilayah di Banten, Senin (11/12). Jutaan anak diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi penyakit mematikan tersebut.

Di Kota Tangerang, sebanyak 618 ribu anak usia 1 hingga 18 tahun akan mendapat imunisa­si difteri. Imunisasi akan dilakukan di posyandu maupun sekolah. Selain itu, juga akan dibuka posko imunisasi di 33 puskesmas dan sejumlah rumah sakit.

Pemberian imunisasi berupa DPT dan HIB diberikan kepada anak usia 1 hingga 5 tahun, vaksin DT untuk anak usia 5 hingga 7 tahun, se­dangkan untuk dewasa diberikan obat antibiotik berupa elitromecyn. Imunisasi akan dilakukan tiga kali dalam kurun waktu delapan bulan ke depan.

“Ini hari pertama di kota Tangerang, Sekolah, posyandu dan 33 puskesmas juga sudah ada posko,” ujar Kepala Dinkes Kota Tangerang, Liza Puspadewi di SDN 3 Karawaci, Senin (11/12).

Kepala SDN Karawaci 3, Sri Astuti Natalia mengatakan, se­luruh siswa dari kelas 1-6 ber­jumlah 316 siswa mengikuti imunisasi tersebut. Menurutnya banyak kejadian lucu saat pros­es imunisasi diantaranya ada siswa yang menangis dan berse­mbunyi.

“Kalau yang pingsan ga ada, yang nangis banyak, justru yang nangis anak kelas 5 dan 6, malahan kelas 1dan 2 mah pada berani, Terus ada juga tadi yang ngumpet ke kolong meja,”terangnya.

Di Kabupaten Tangerang, pelaksanaan vaksinasi difteri ini dilakukan tiga tahapan, pada Bulan Desember 2017, Januari dan Juli 2018. Kegiatan ini diharapkan menyasar 1,1 juta anak-anak di Kabupaten Tangerang.

“Kita fokuskan di posyandu atau 44 puskesmas di Kabu­paten Tangerang,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pen­anggulangan Penyakit (P2) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi ke­pada Satelit News melalui tele­pon, Senin (11/12).

Hendra menyebutkan men­catat KLB difteri di Kabupaten Tangerang ada 29 kasus terhi­tung sejak pertengahan Januari hingga Desember 2017 yang paling banyak yaitu di Keca­matan Kosambi terdapat 3 ka­sus. “Sepanjang 2017 ada 29 ka­sus, dua di antaranya meninggal dunia,” tutur Hendra.

Hendra berharap, tak ada lagi orangtua di Kabupaten Tangerang yang tidak memvak­sinasi anaknya. “Kami minta sekarag jangan takut imunisasi, meski dampaknya panas tapi cuma sehari- dua hari, karena manfaatnya berkepanjangan,” kata dia.

Kepala Tata Usaha Puskesmas Kosambi Gianto mengatakan, meski 3 kasus difteri di Keca­matan Kosambi masuk wilayah pelayanan Kesehatan Salem­baran Jaya namun petugas Puskesmas Salembara Jaya dan Puskesmas sudah menggelar vaksinisasi difteri terhadap war­ga Kecamatan Kosambi. “Saat kejadian ada terinfeksi difteri di Kosambi kita langsung diperin­tahkan oleh Dinkes Kabupaten Tangerang untuk menggelar imunasi Ori,” kata Gianto.

Gianto menambahkan, imu­nisasi Ori yang dilakukan petu­gas Puskesmas Salembaran Jaya dan Puskesmas Kosambi dilaku­kan dengan skala kecil yaitu di­lakukan disekitar lokasi korban terkena difteri yakni Desa Rawa Rengas.

“Kita terus awasi perkemban­gan penyebaran difteri khusus­nya di Kosambi,” pungkasnya.

Di Kabupaten Serang yang sudah menetapkan status ke­jadian luar biasa untuk penyakit difteri, imunisasi dilakukan ter­hadap 526.314 orang dari umur 1 sampai 19 tahun. Kepala Bi­dang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinkes Kabupaten Serang, dr Riris Budiharni mengatakan, Provinsi Banten sudah berjanji bahwa vaksin difteri untuk ke­jadian luar biasa (KLB) ini semua akan terpenuhi sesuai dengan sasaran. Pelayanan imunisasi sendiri diberikan secara gratis.

“Kita intruksikan imunisasi ha­rus terlebih dulu dilakukan ter­hadap stafnya, tapi hari ini juga ada yang sudah jalan ke Posyan­du dan sekolah. Pelaksanaannya kita gak bisa bilang berapa hari, karena kan kebanyakan anak sekolah sasaran itu, sedangkan anak sekolah sebentar lagi libur. Pokoknya, di jadwal kegiatan kami diantaranya untuk interval pertama di bulan ke nol mulai Desember sampai Januari kita upayakan sudah dapat semua, kemudian untuk interval kedua akan dimulai pada Maret,” kata Riris saat ditemui di ruang ker­janya, Senin (11/12).

Diakuinya, bahwa selama ini kesadaran masyarakat un­tuk melakukan imunisasi pada pelayanan kesehatan terdekat masih sangat rendah. Hal ini ter­lihat dari kasus masyarakat yang terjangkit difteri hampir seba­gian besar tidak mendapatkan imunisasi.

Menurutnya, masih enggan­nya masyarakat untuk mem­bawa anaknya imunisasi tak lain karena masih banyak yang tidak mau menerima reaksi dari imunisasi. Diantaranya seperti panas.

“Biasanya orang tua tidak mau ribet kalau anaknya panas, karena memang reaksi panas itu menandakan vaksin itu bereak­si. Tapi saya yakin teman-teman di Puskesmas selalu memberi­kan penyuluhan,” katanya.

Ia mengungkapkan, berdasar­kan data yang dimilikinya sam­pai 6 Desember 2017 sudah ada sebanyak 13 kasus difteri yang menyerang masyarakat, dari jumlah tersebut dua diantaran­ya dinyatakan meninggal dunia.

“Yang menyebabkan dia me­ninggal itu karena ada zat tok­sik yang dihasilkan kuman yang lapisan putih itu, ciri-cirinya hampir sama dengan radang tenggorokan, tapi dia yang khas itu begitu kita lihat ada bercak puti ke abu-abuan, itu mudah berdarah kalau ke senggol” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehat­an Banten menyatakan banyak menemui kendala di lapangan dalam pelaksanaan vaksinasi. Kendala itu diantaranya seko­lah-sekolah swasta banyak yang libur, ketika di Posyandu masih ada masyarakat yang menolak karena takut anaknya demam, dan lain-lain.

Kepala Seksi (Kasi) Surveil­lence, Imunisasi dan Krisis Kes­ehatan drg Rostina mengatakan, kendala-kendala itu tentu meng­hambat proses vaksinisasi yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Apa­lagi, Dinkes Banten ditarget untuk menuntaskan persoalan difteri di wilayah yang dipimpin Gubernur Wahidin Halim (WH) ini.

“Kendala memang ada ketika kita menjalankan sebuah ke­bijakan. Di manapun itu,” kata Rostina, Senin (11/12).

Kendati demikian, pihaknya melalui tim medis di lapangan melakukan sosialisasi lagi den­gan melibatkan semua pihak mulai dari aparat kecamatan, Polsek, Majelis Ulama Indone­sia (MUI) di tingkat kecamatan, Babinsa dan lain-lain.

Kepala Dinkes Banten Sigit Wardojo memastikan, pelak­sanaan vaksinisasi difteri pada hari pertama kemarin berlang­sung lancar. (imron/sidik/ir­fan/ahmadi/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.