KPAI: Kekeliruan dalam Buku Pelajaran Sudah Sering Terjadi

JAKARTA, SNOL—Unggahan viral di me­dia sosial soal isi buku IPS Kelas 6 SD terkait Ibu Kota Negara Israel menam­bah daftar panjang kekeliruan yang sering didapati dalam buku pelajaran. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai hal itu menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap buku yang digunakan oleh satuan pendidi­kan.

“Penulisan buku ajar yang ada keke­liruan isi bahkan substansi bukanlah kejadian pertama. Ini sudah terjadi kesekian kalinya. Ini menunjukkan le­mahnya pengawasan terhadap buku-buku ajar, terutama buku SD,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (13/12).

Retno menyebutkan, masalah dalam buku pelajaran antara lain mulai dari adanya konten kekerasan sampai por­nografi. Yang terbaru adalah kekeliruan penulisan Ibu Kota Israel adalah Yeru­salem sebagaimana tercantum dalam buku terbitan Yudhistira.

Menurut Retno, pengawasan buku ajar mestinya menjadi kewenangan Pusat Perbukuan dan Kurikulum (Pus­bukur) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Karena itu, KPAI akan meminta keterangan kepada Kemen­dikbud terkait lolosnya buku ini dalam penilaian perbukuan di Pusbukur.

“Jika dalam proses penilaian buku tersebut ada kelalaian Kemendikbud, maka tentu saja Kemdikbud menjadi pihak yang bertanggung jawab,” ujar Retno.

Selain itu, kata Retno, untuk meng­umpulkan data dan penjelasan yang utuh dalam proses penyusunan buku hingga lolos penilaian buku, maka KPAI berencana memanggil penerbit Yud­histira untuk dimintai keterangan. Pe­manggilan dijadwalkan pada Senin, 18 Desember 2017 mendatang.

Sebelumnya, Penerbit Yudhistira membenarkan bahwa informasi dalam isi buku yang tengah viral di Facebook, Twitter, dan WhatsApp adalah terbitan mereka. Yudhistira secara resmi me­nyatakan permohonan maaf dan men­gaku keliru dalam memuat informasi soal Ibu Kota Negara Israel dalam buku terbitannya.

Dalam Surat Pemberitahuan yang diterima wartawan pagi ini, Kepala Penerbitan Yudhistira Dedi Hidayat mengungkapkan bahwa pihaknya men­gambil data dari sumber internet world population data sheet 2010.

“Kami tidak mengetahui kalau ternyata data tersebut masih menjadi perdebatan dan belum diakui secara internasional,” kata Dedi dalam surat dengan Nomor 12/Pnb-YGI/XII/2017.

Surat itu ditujukan kepada kepala sekolah dan guru pengajar. Dedi men­gatakan, beberapa sumber di internet juga mencantumkan hal yang sama. Yakni, Yerusalem merupakan Ibu Kota Negara Israel. Terkait hal itu, Penerbit Yudhistira meminta maaf kepada ma­syarakat atas kekeliruan mereka dan berjanji akan melakukan revisi pada buku terbitan berikutnya.

Sebelumnya diberitakan, Kehebohan kembali terjadi di dunia pendidikan In­donesia. Kali ini, tengah viral di media sosial soal isi buku dalam pelajaran Ke­las 6 Sekolah Dasar.

Dalam buku Pelajaran Ilmu Penge­tahuan Sosial (IPS) keluaran Penerbit Yudhistira, dituliskan bahwa Yerusa­lem adalah Ibu Kota dari Israel. Ung­gahan yang tersebar di Facebook dan WhatsApp itu menjadi ramai diperbin­cangkan apalagi menyusul keputusan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengakui Yeru­salem sebagai ibu kota Israel. Kepu­tusan sepihak terhadap kota yang dis­engketakan selama puluhan tahun itu kembali membangkitkan amarah yang kuat di seluruh dunia.

Terkait viralnya unggahan isi buku pelajaran itu, Kementerian Pendidi­kan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pun membenarkan bahwa buku itu merupakan buku terbitan Yudhistira Tahun 2008.

“Ya, itu buku yang di SK-kan tahun 2008. Itu merupakan hasil penilaian dari Kemendikbud pada 2008 itu untuk menjalankan Kurikulum 2006,” kata Ke­pala Litbang Kemendikbud RI Totok Su­prayitno di Jakarta, Selasa (12/12).

Totok mengatakan, pihaknya me­nyambut positif respons masyarakat dalam menanggapi informasi soal isu buku IPS kelas 6 tersebut. Masyarakat kini sudah jeli dalam menerima bahan pelajaran yang ada di satuan pendidi­kan. (jpg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.