Abdul Mutholib, Empat Tahun Mengukir Mimbar Shalahuddin Masjid Al-Aqsa

KERJA keras Abdul Mutholib membangun kembali replika mimbar Shalahuddin Masjid Al-Aqsa diapresiasi kalangan internasional. Ia meraih penghargaan dari Aliansi Internasional Pembela Al-Quds dan Palestina di Turki beberapa waktu lalu.

KHOIRUL ANWAR, Jepara

SUARA palu dan pahat terdengar dari dalam rumah Abdul Mutholib di RT 4 RW 1, Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara. Tampak ornamen khas Timur Tengah sedang diukir olehnya. Mengetahui ada yang berkunjung, laki-laki berusia 47 tahun itu menghentikan aktivitas tersebut.

Tholib-panggilan akrabnya-kemudian mengajak ke ruang tamu yang tidak jauh dari ruang kerjanya. Di ruang tamu berukuran 3 x 2 meter persegi itu, ia berbagi pengalamannya ketika meraih penghargaan di negeri orang. Tepatnya di Turki.

Diceritakan, penghargaan tersebut diraih tanpa ia duga sebelumnya. Bahkan ia tidak mengetahui bahwa keberangkatannya ke Turki untuk menerima penghargaan.

“Awalnya diajak teman relawan pegiat Palestina ke Turki. Setahu saya menghadiri pertemuan komunitas saja. Saya ya bersedia,” terangnya.

Laki-laki kelahiran Jepara, 2 Juni 1970 ini mengungkapkan, acara penganugerahan penghargaan itu merupakan pertemuan akbar kesembilan para pegiat Palestina. Acara dihelat di kota Istanbul. Tepatnya di hotel Kaya Istanbul. “Dari Indonesia ada saya dan Adara Relief International. Ada juga teman-teman dari negara Aljazair, Tunisia, Jordania, Turki, Sudan, dan Malaysia, serta negara-negara berpenduduk muslim lainnya,” katanya.

Selama sepekan ia berada di sana. Berbagai rangkaian acara diikuti. Puncaknya ia meraih penghargaan dari Lembaga Al-I’tilaf Al-Alamiy li Nushrati Al-Quds wa Filisthin (Aliansi Internasional Pembela Al-Quds dan Palestina). Penghargaan tersebut ia raih atas kerja kerasnya selama empat tahun merekonstruksi ukiran mimbar Shalahuddin Masjid Al-Aqsa Palestina.

“Prosesnya mulai akhir 2002 sampai awal 2007. Pengerjaannya dilakukan di Jordania. Setelah selesai harus menunggu beberapa bulan baru dikirim ke Palestina untuk dirangkai,” kenangnya.

Ia mengaku dibantu empat perajin ukir lainnya untuk menyelesaikan mimbar tersebut. Dia bertugas memasang potongan-potongan ukiran langsung di Masjid Al-Aqsa. Selama sepuluh hari, bapak dua anak ini tinggal di lingkungan Masjid Al-Aqsa.

“Saya sangat senang sekaligus bangga bisa terlibat dalam proses replikasi mimbar Shalahuddin ini. Yang membuat saya bisa langsung mendatangi dan salat di Masjid Al-Aqsa,” tutur suami dari Siti Roliyah ini.

Tholib melanjutkan, usai menerima penghargaan, dirinya mempersembahkan ukiran mimbar mini dan cermin berukir Masjid Al-Aqsa untuk dilelang. Hasil lelang disumbangkan untuk perjuangan menjaga Masjid Al-Aqsa. Mimbar mini tersebut ia buat selama sebulan.

Dikatakan, mimbar mini itu sengaja dibuat untuk koleksi pribadi. Ketika berangkat ke Turki, salah seorang temannya menyuruh Tholib untuk membawa ke sana.

“Ada teman relawan dari Tunisia yang menebusnya. Saat ini sedang proses pembuatan lagi,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, ia menyadari bukanlah hal yang mudah untuk terus memperjuangkan bangsa Palestina. Perjuangan kemerdekaan Palestina butuh keseriusan dan kerja sama dari berbagai pihak.

“Ini sebagai motivasi umat Islam di Indonesia dan membangkitkan kepedulian mereka. Lakukan apa yang kita bisa untuk Palestina. Meski jauh secara geografis, Indonesia dan Palestina tidak bisa dipisahkan,” tutur Tholib.

Lebih lanjut Tholib menceritakan pengalaman menariknya ketika kali pertama menginjakkan kakinya di tanah Palestina. Sambutan warga Palestina luar biasa. Mulai dari anak-anak sampai yang lanjut usia tampak senang melihat kedatangan orang Indonesia.

“Kalau di Indonesia seperti ramainya karnaval. Masyarakat kumpul di tengah jalan menyambut rombongan orang Indonesia,” kenangnya.

Bahkan dia sempat diajak oleh pengurus Masjid Al-Aqsa untuk melihat ruang kontrol. Tidak semua orang bisa memasuki ruang tersebut. Di dalamnya terdapat monitor lengkap dengan peralatan elektroniknya.

“Mulai dari sound system, kamera tersembunyi, dan kebersihan bisa dilihat dari dalam ruangan tersebut. Sebuah kehormatan dapat pengalaman berharga seperti itu,” tandas ayah dari Rofi Maulana dan Nurlita Fahana Ningrum ini. (war/ks/aji/aji/JPR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.