ICW Minta Polda Serius Tangani Kasus Situ Sitengin

KEMERI,SNOL—Deputi Koordinator In­donesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan meminta Polda Banten serius menagani kasus dugaan adanya pen­jualan tanah negara berupa Situ Siten­gin di Kampung Kayu Apu RT 009 RW 005, Desa Klebet, Kecamatan Kemiri. Karena menurut Ade jika hal ini tidak ditangani hingga tuntas dan berakhir ditengah jalan bakal menjadi preseden buruk penanganan korupsi di Indone­sia khususnya di Banten.

“Jika tak ditangani dengan serius ka­sus dugaan penjualan aset Situi Sitengin tentunya merupakan kontra produkstif dengan gerakan Presiden Jokowi untuk memberantas korupsi di Indonesia,” jelas Ade saat dihubungi Satelit News, melalui telepon, Senin (25/12).

Ade mengatakan untuk memastikan jika kasus ini ditangani serius maka dirinya bersama rekan-rekan di ICW akan turut memantau perkemban­gan kasus ini. Karena menurut Ade jika korupsi seperti ini dibiarkan terus menerus maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak aset negara yang hilang karena diperjualbelikan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung­jawab.

“Jika kasus ini dibiarkan maka bu­kan tak mungkin kasus yang sama akan terjadi. Maka dari itu kami ingin kasus ini tetap ditangani serius untuk men­imbulkan efek jera bagi oknum-oknum lain,” jelas pria asli Balaraja ini.

Sebelumnya Direktorat Reserse Kriminal Khusus (DirKrimsus) Polda Banten terus menyelidiki dugaan ad­anya penjualan tanah negara berupa Situ Sitengin di Kampung Kayu Apu RT 009 RW 005, Desa Klebet, Kecamatan Kemiri. Bahkan berberapa pihak pun sudah diminta keterangan seperti Ca­mat Kemiri Madisa, Kepala Desa Klebet Aang Holid dan pembeli dari CV Klebet Jaya Farm Dua Katherine Sunarjo serta keluarga penggarapan dari almarhum Rabiah yaitu Nuryamin, Mustopa, Im­ran dan Dalpan,

Andi anak pemilik CV Klebet Jaya Farm Dua, Katherine Sunarjo mengaku orang tua sebagai pembeli yang tidak tahu tanah tersebut Situ Sitengin ten­gah diperiksa oleh DirKrimsus Polda Banten. Menurut Andi orang tua saya sebetulnya korban karena tidak tahu ta­nah yang dibeli ini tanah negara,” kata Andi yang tidak meyebutkan menjadi korban siapa saat ditemui di kantornya.

Namun begitu Andi mengaku, peru­sahaan CV Klebet Jaya Farm Dua yang bergerak di bidang peternakan ayam ini adalah perusahaan yang sah karena sudah mengantongi Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU) dan Surat Ijin Tempat Us­aha (SITU) yang dikeluarkan oleh Camat Kemiri Madisa. Bahkan menurut Andi SKDU dan SITU tersebut sampai saat ini masih berlaku hingga 26 April 2019.

Sedangkan menurut Dinas Penana­man Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tangerang dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabu­paten Tangerang tidak akan mengelu­arkan Surat Izin Mendirikan Banguan (IMB), Surat Izin Analisa Dampak Lingkungan (Amdal), dan surat izin lainnya bila tidak ada SITU yang meru­pakan kewenangan dari camat. Untuk itu DPMPSTP sangat hati-hati untuk mengeluarkan SITU kalau tidak mem­buktikan kepemilikan tanah.

Ditemui terpisah, Warga Kampung Klebet, Desa Klebet, Kecamatan Kemiri Nurdin mengaku keluarganya baik adik dan kaka yang bernama Nuryamin, Im­ran dan Dalpan mendapat surat pang­gilan dari Dirkrimsus Polda Banten untuk diminta keterangan pada Kamis (14/12). Nurdin menuturkan, keluar­ganya mendapat surat panggilan dari Polda Banten sebab tanah Situ Sitengin di Desa Klebet awalnya digarap oleh ibunya bernama Rabiah dan bapaknya bernama Ratnan.

Menurut Nurdin, memang ada ganti rugi garapan lahan dari Kepala Desa Klebet yang diberikan ke orang tuanya yang sekarang sudah meninggal namun jumlahnya dirinya tidak tahu. Sekarang lahan Situ Sitengin tersebut sudah bera­lih fungsi menjadi peternakan ayam. (imron/hendra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.