Korban Tewas Difteri Tembus 13 Orang

RSDP Serang Sebut Aufatul Terkena Penyakit Lain

SERANG, SNOL—Warga Banten yang tewas akibat penyakit difteri menjadi 13 orang. Korban tera­khir bernama Aufatul Khuzzah (19), mahasiwa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang tercatat sebagai warga Kampung Ceruk­cuk, Tanara Kabupaten Serang.

Aufatul menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (24/12) lalu. Dia meninggal du­nia setelah sempat dirawat di RSUD Drajat Prawiranegara Kabupaten Serang selama satu minggu.

Kepala Seksi (Kasi) Surveil­lance, Imunisasi dan Krisis Kes­ehatan Dinas Kesehatan Banten Rostina mengatakan, menin­ggalnya salah seorang warga asal Kecamatan Tanara Kabu­paten Serang itu diduga karena korban belum mendapatkan vaksinasi difteri. Korban, kata Rostina, menolak divaksi sejak tahun 2005 lalu. Seluruh warga di wilayah Kecamatan Tanara memang menolak untuk divak­sin difteri.

Dikatakan Rostina, total warga Banten yang meninggal kare­na difteri sejak Januari hingga Desember 2017 berjumlah 13 orang. Mereka umumnya beru­sia antara 0 hingga 25 tahun.

Kepala Dinkes Banten dr Sigit Wardojo menyatakan, Aufatul Khuzzah (19) dirawat RSUD DP setelah sebelumnya badannya menggigil dan susah menelan. Setelah didiagnosa oleh tim me­dis di RS yang bersangkutan, Au­fatul Khuzzah terserang difteri.

“Penanganan tim medis su­dah maksimal, namun sayang nyawa pasien tak tertolong,” im­buhnya.

Sementara itu, keterangan berbeda disampaikan Direktur Rumah Sakit Drajat Prawiraneg­ara (RSDP), dr Agus Gusmara. Dia menyebut Aufatul Khuzzah (19), pasien suspect difteri yang berasal dari Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang meninggal dunia bukan semata-mata kare­na Difteri. Tapi, karena korban menderita penyakit lain.

Agus menuturkan, Aufatul masuk RSDP tanggal 9 Desem­ber 2017 dengan suspect difteri. Kemudian, karena secara klinis mirip difteri maka pasien dberi Anti Difteri Serum (ADS) walau­pun belum dinyatakan positif. Pasien saat itu masuk ruang iso­lasi pada pukul 12.35 WIB.

“Pasien kita rawat di ruang isolasi,” katanya.

Ia mengungkapkan, selama dirawat diruang isolasi kondisi pasien naik turun. Dari semula pada awal masuk rumah sakit, hemoglobin (HB) pasien 9,8, kemudian pada 14 Desember kondisi pasien ngedrop HB-nya turun hingga mencapai 6. Ke­mudian dokter spesialis memer­intahkan transfusi darah seban­yak 2 labu.

“Besoknya 16 Desember ada perbaikan HB-nya jadi 7,8 tapi itu belum aman, jadi dikasih lagi transfusi lagi 1 labu darah. Tang­gal 18 HB-ya jadi 11,3, ini diang­gap aman jadi diberhentikan,” ujarnya.

Namun pada 21 Desember, kata dia kondisi pasien kembali drop dengan HB 7,5, tetapi dok­ter belum memerintahkan un­tuk tranfusi lagi. “22 Desember HB jadi 6 lagi, ini rencana mau tranfusi 2 labu dan tanggal 22 ada informasi dari Litbankes Ke­menkes hasilnya negatif difteri,” ujarnya.

Melihat hasil informasi terse­but yang menyatakan pasien negatif difteri, kata dia pihak rumah sakit akhirnya memind­ahkan pasien ke Ruang Dahlia, ruang perawatan biasa. “Tang­gal 23 Desember dipindah ke Dahlia. Namun tanggal 24 De­sember meninggal, kelihatan­nya belum keburu ditransfusi darah,” ujarnya.

Agus juga menegaskan bahwa pasien kekurangan jumlah cai­ran tubuh ( termasuk c. Darah) disebabkan keluar darah dari saluran cerna atau berak darah, dimana disebabkan infeksi otot jantung disebabkan keracunan atau keasaman cairan tubuh.

“Ini kelihatannya ada penya­kit lain. Sementara diduganya difteri ternyata mungkin penya­kit lain,” ujarnya.

Disinggung mengenai jum­lah pasien suspect difteri yang kini masih ditangani oleh RSDP, Agus menyebut saat ini ada em­pat pasien suspect difteri masih menjalani perawatan di ruang isolasi. Empat pasien tersebut belum dinyatakan positif karena masih menunggu hasil pemerik­saaan laboratorium Litbangkes Kemenkes.

“Hari ini masuk lagi ke ru­ang isolasi tiga pasien suspect. (Ruang isolasi-red) Penuh lagi. kapasitas empat orang sudah penuh terus. Kan hasilnya (dari Litbang Kemenkes-red) yang empat pasien ini belum ada. Ka­lau ada pasti sudah dinyatakan positif. Kalau negatif dipindahin ke ruang biasa,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasar­kan data yang dimiliki di 2017, RS Dradjat Prawiranegara se­bagai rumah sakit rujukan re­gional Banten telah menangani 39 pasien suspect difteri. Dari jumlah tersebut, enam di anta­ranya dinyatakan positif. Dari enam pasien positif tersebut, dua di antaranya sudah dipu­langkan dan empat orang me­ninggal dunia.

“Yang meninggal dari Leb­ak satu orang, Tangerang satu orang, Kabupaten Serang satu orang, dan Kota Serang satu orang,” pungkasnya. (ahmadi/sidik/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.