Petani Mengalami Kesulitan Air

Sebagai Dampak Buka Tutup Pamarayan

KAB SERANG, SNOL—Dinas Pertanian (Distan)‎ Kabupaten Serang mencatat lahan persawahan yang ada di lima kecamatan, yakni Lebakwangi, Ciruas, Pontang, Kramatwatu dan Tanara kesulitan air. Hal itu terjadi lantaran adanya aktifitas buka tutup pada saluran Pamarayan barat dan utara.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Distan Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana mengatakan, bahwa buka tutup saluran air tersebut dinilai sangat tidak tepat dengan jadwal tanam petani.‎ Sehingga saat ini banyak lahan pertanian yang mengalami kekeringan.

“Kita sih bukan tidak boleh buka tutup, cuma jadwalnya tolong disesuaikan dengan jadwal tanam petani. Mungkin juga pihak yang mengerjakan pemeliharaan pamarayan menghitungnya akan hujan dengan curah hujan 200 milimeter perbulan, tapi tiba tiba tidak hujan, PHP doang,” ujarnya.

Selain itu, kata dia , sampai saat ini  para petani sangat menyesalkan kegiatan buka tutup tersebut tidak disosialisasikan lebih luas.”Memang disurat tersebut ada tandatangan GP3A (Gabungan Petani Pemakai Air), tapi ternyata ada beberapa kelompok tani yang sekarang butuh air seperti Kramatwatu, Pontang dan Lebakwangi, itu nggak tahu ada jadwal buka tutup, berarti ini kurang sosialisasi,” tuturnya.

Melihat kondisi ini, ia mengaku langsung melakukan komunikasi dengan Dinas Pekarjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Serang, sehingga yang tadinya dijadwal 14 hari tutup dan buka 7 hari, sekarang ini buka 10 hari dan tutup 10 hari. “Jadi memang ukuran di Kramatwatu itu harus 10 buka dan 10 tutup, karena jika bukanya kurang dari satu minggu airnya tidak keburu nyampe ke Kramatwatu,” katanya.

Ia menuturkan, target tanam padai sampai bulan ini sampai 20.000 hektar, jadi dengan adanya kondisi seperti sekarang ini tentunya menjadi terhambat. Karena dibeberapa lokasi tanahnya sudah mengering, bahkan sudah ada yang retak-ratak. “‎Minggu lalu kalau nggak salah laporan tanam itu ada 13.000, tapi kalau situasinya begini (kekeringan-red) agak sulit mencapai 20.000. Bisa juga kemungkinan puso, kalau memang masih keuslitan air,” pungkasnya. (sidik/made)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.