Baznas Butuh Perda Zakat Profesi

Baru Pungut 10 Persen dari 30 Miliar Rupiah

TANGERANG,SNOL—Pengelolaan za­kat profesi di Kota Tangerang dinilai belum optimal. Potensi zakat profesi yang mencapai Rp 30 miliar di 2017 tercapai kurang dari 10 persen. Peng­umpulan zakat profesi di instansi neg­eri serta swasta disebut memerlukan peran Pemerintah Daerah dengan dibuatkan Peraturan Daerah (Perda).

Unit Pengumpul Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang mencatat pengumpulan zakat pro­fesi sebesar Rp 1.915.387.882 di tahun 2017. Jumlah tersebut naik sebesar 61 persen dibanding tahun lalu. Meski demikian, Kepala Unit Pengumpul Zakat Baznas Kota Tangerang, Zaka Firmansyah mengatakan, jumlah tersebut masih jauh dari potensi zakat profesi yang mencapai Rp 30 miliar. Dia menambahkan, potensi tersebut dihitung berdasarkan belanja pega­wai APBD Kota Tangerang pertahun.

“Untuk potensinya zakat profesi dari Pegawai Negeri bisa mencapai 30 Miliar, dihitung dari Belanja Pega­wai APBD (Kota Tangerang) dikali 2.5 persen,” jelasnya.

Belum optimalnya pengelolaan zakat profesi, disebut Zaka, lantaran belum ada peraturan yang mengi­kat. Perda, lanjutnya, perlu dibuat sebagai penguat landasan hukum Undang-undang Nomor 23/2011 Tentang Pengelolaan zakat.

Lebih lanjut, Zaka menjelaskan, zakat prfoesi berasal dari penghasi­lan periodik seorang pegawai. Teknis pengumpulan zakat ini, sambung Zaka, dengan membentuk unit pen­gumpul di instansi pegawai tersebut, baik instansi swasta maupun negeri. Pemungutan zakat ini, tambahnya, melalui sistem yang telah disepakati pihak Baznas dan instansi tersebut.

“Zakat Profesi diambil dari peng­hasilan dari profesi seperti PNS, Dokter, Karyawan. Teknisnya bisa dengan membentuk UPZ (Unit Pen­gumul Zakat) pada masing-masing instansi, perusahaan, universitas, sekolah atau langsung ke (kantor) Baznas,” jelasnya.

Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Tangerang, Dedi Mahfudin menambahkan, pihaknya sudah membuka pembicaraan den­gan Pemkot terkait dukungan terha­dap Baznas. Dia menyebut perolehan zakat profesi yang rendah di Kota Tangerang merupakan tanggungjaw­ab banyak pihak. Dukungan terhadap Baznas, sebutnya, salah satunya beru­pa pembuatan Perda tersebut.

“Kalau bicara optimalisasi zakat memang sudah sangat mendesak. Harus segera (dibuat Perda). Saya sendiri sudah mencoba mengangkat perolehan zakat melalui pemungutan zakat profesi di lingkup PNS Kota Tangerang,” paparnya. Dedi menam­bahkan, pengumpulan zakat profesi sudah berjalan sejak 2015 di lingkun­gan Kemenag Kota Tangerang.

“Kalau di Internal Kemang itu sudah sejak 2015 dilakukan, dan itu tertinggi terus, semua sampai ke ma­drasah. Semua sudah kita terapkan, sudah kita maksimalkan,” imbuhnya via sambungan telepon, Selasa (2/1).

Selain dukungan berupa pembua­tan Perda, Dedi menyebut, dukungan penyediaan sarana juga dibutuhkan Baznas Kota Tangerang. Sejak berdiri 2015 silam, Dedi menjelaskan, Ba­znas Kota Tangerang belum mempu­nyai gedung sendiri. Selama ini, sam­bungnya, Baznas menempati gedung milik Kemenag Kota Tangerang.

“Memang dengan keterbatasan yang ada baznas harus bersusah payah. Tapi hasilnya sudah bagus, na­mun apresiasi tetap harus diapresiasi. Seperti sekarang ini kan, Baznas be­lum punya gedung, sementara dip­injamkan Kemenag Kota Tangerang. Saya sih berharap ada regulasi wa­likota yang menunjuk langsung ge­dung untuk baznas, apakah gedung lama ataupun baru,” ujarnya.

Perolehan zakat Baznas Kota Tangerang secara keseluruhan men­capai Rp 4.549.176.972 di tahun 2017. Jumlah tersebut naik sekitar 25 pers­en dari target Rp 4 miliar. Sementara tahun ini Baznas menarget dua kali lipat perolehan tahun ini, yaitu Rp 8 miliar. (irfan/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.