Korban Pedofil Jadi 41 Anak

TIGARAKSA, SNOL—Jumlah korban keganasan pedofil WS alias Babeh bertambah. Polisi me­nyebutkan korban kasus sodomi yang dilaku­kan oknum guru honorer itu menjadi 41 orang, dari sebelumnya 25.

Kapolresta Tangerang Kombespol Sabilul Alif saat konferensi pers, Jumat (5/1) kemarin, mengatakan berdasarkan laporan terbaru, jumlah korban mencapai 41 anak. Rata-rata usia kor­ban antara 10 hingga 15 tahun.

Polisi, kata Sabilul, masih terus mengem­bangkan kasus pencabulan tersebut dengan meminta keterangan dari para saksi. Pihaknya juga sedang mencari barang bukti di lapangan.

“Polresta Tangerang akan membuka posko pengaduan korban WS. Sehingga, jumlah korban masih dimungkinkan bertambah,”ujar Sabilul.

Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo menjelas­kan, selain bekerja sebagai guru honorer, WS sehari-hari bekerja sebagai pengawas sawah di Desa Tamiang Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang. Untuk mengawasi sawah, WS mendirikan gubuk.

Di gubuk itu, WS memangsa para korbannya. Dia memikat para korban dengan iming-iming menurunkan ajian semar mesem yang dikenal sebagai ilmu pelet. Setelah berhasil memperdayai korban pertama, WS memer­intahkan agar korban tersebut mengajak kawannya yang ingin belajar ilmu semar mesem.

“Bermula dari satu korban ke korban lainnya. Korban per­tamanya ini diminta WS untuk mengajak temannya yang lain. Namun, selama itu, korban ti­dak pernah dites ilmunya oleh WS,” kanya.

Warga Gunung Kaler yang marah sempat membakar gubuk yang dihuni WS. Tapi, dia justru membangun gubuk serupa di Kecamatan Rajeg. Di tempat ba­runya, dia kembali melakukan perbuatan keji tersebut.

Kapolda menyatakan, pi­haknya akan menyebarkan maklumat sebagai peringatan kepada masyarakat agar ikut ambil bagian dalam pencega­han kasus kekerasan seksual. “Agar tidak muncul trauma-trauma baru,”tandasnya.

Wakil Gubernur Provinsi Banten, Andika Hazrumy men­gutuk keras kasus pelecehan seksual sodomi, yang diduga dilakukan oleh seorang konum guru SD honorer. Andika men­gungkapkan tindakan paedofilia tersebut sangat tidak terpuji, terlebih status tersangka meru­pakan seorang guru yang seha­rusnya menjadi panutan bagi siswa-siswanya. “Seharusnya guru kan menjadi panutan bagi siswa, perbuatan itu (pelecehan sesksual, red) itu tidak bisa di­tolelir lagi,” ujar Andika.

Mengingat kasus tersebut melibatkan anak kecil dan ban­yaknya korban Andika berharap pelaku dapat dijerat hukuman seadil-adilnya apabila terbukti melakukan tindakan keji terse­but. “Ketika mendapat informa­si itu saja saya tidak tega men­dengarnya,” katanya.

Penanganan kasus tersebut diharapkan dapat berjalan se­cara maksimal, lantaran mem­butuhkan penanganan khusus mengingat korban merupakan anak-anak sehingga diperlukan pendampingan serta tindakan trauma healing, agar korban ti­dak terganggu secara psikologi.

Sebelumnya diberitakan, WS alias Babeh (49) melakukan sodomi kepada 25 anak. Babeh melakukan aksi bejatnya di Ke­camatan Gunung Kaler dan di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Perbuatannya di­lakukan sejak April hingga De­sember 2017. WS yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan itu mengaku telah berbuat kejahatan seksual setelah ditinggal istrinya men­jadi TKW di Malaysia. (mg1/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.