Kasus Pedofilia Bak Gunung Es

WH: Pelaku Harus Dihukum Berat

TANGERANG,SNOL-Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar angkat bicara terkait kasus pedofilia yang terjadi di Kecamatan Rajeg dan Gunung Kaler. Menurut Bupati Zaki, fenomena pedofilia iba­rat gunung es. Butuh kerjasama semua pihak agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

“Ini sangat memilukan. Korbannya sangat banyak, yakni 41 anak. Kasus ini ibarat gunung es. Jadi butuh penanganan serius dan dukungan dari semua pihak, karena dikhawatirkan kasus serupa akan terjadi kembali, ” kata Bupati Zaki saat ditemui Satelit News di ruang kerjanya, Senin (9/1).

Menurut bupati yang kembali mencalonkan diri pada pilkada 2018 ini, sebenarnya kasus ini sudah terkuak beberapa hari sebelumnya. Namun saat itu, Zaki meminta agar kasus ini tidak diekspose dulu karena melihat kondisi psikologis para kor­ban.

“Kenapa tidak langsung terekspose, karena kita berupaya melakukan pendampingan dulu terhadap para korban. Para korban pasti mengalami trauma yang mendalam, malah ada yang tidak mau ke sekolah,” jelas Zaki.

Dalam hal ini, Bupati Zaki te­lah mengerahkan Dinas Pem­berdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak agar kon­sen mendampingi para korban. “Kalau soal proses hukum itu ranahnya kepolisian. Pemkab punya kewajiban untuk mence­gah terjadinya hal-hal semacam ini, makanya kita ngotot untuk membentuk dinas pember­dayaan perempuan dan perlind­ungan anak,” tukasnya.

Dijelaskan Bupati Zaki, upaya pencegahan inilah yang mem­butuhkan dukungan serius dari semua pihak. “Seperti yang saya bilang, ini ibarat gunung es. Pelaku pedofil biasanya memi­liki faktor ‘balas dendam’ karena dulunya pernah diperlakukan serupa. Apalagi saya menden­gar si pelaku ini dulunya pernah digitukan juga,” bebernya.

Terpisah, Gubernur Banten Wahidin Halim meminta aparat kepolisian untuk menghukum berat para pelaku pedofilia dan pencabulan terhadap anak yang terjadi di wilayah Kecamatan Rajeg. Itu dilakukan agar para pelaku jera dan menerapkan prinsip keadilan. “Para pelaku pedofilia dan pencabul anak harus dihukum berat itu,” kata Wahidin, Senin (8/1).

Oleh karena itu, dirinya setu­ju jika aparat penegak hukum menggunakan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 yakni para pelaku pencabul anak dihukum kebiri, karena para pencabul ini se­lain meresahkan juga membuat masa depan anak-anak yang menjadi korban menjadi suram. “Di Banten jangan diberi tempat bagi para pelaku pencabul anak,” papar Wahidin.

Soal konselling dan penyedi­aan trauma healing, Pemprov Banten telah menyediakannya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Banten. Jadi setiap anak yang menjadi korban bisa segera ditangani. “Tugas itu juga dibantu Dinas Sosial (Dinsos),” papar Wahidin.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Banten Nurhana meminta ling­kungan keluarga untuk peduli terhadap kondisi anak-anaknya. Kedua orang tua juga harus mengawasi buah hatinya ketika bermain di luar rumah. “Fak­tor yang paling dominan untuk menekan tingginya angka pen­cabulan terhadap anak adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Mari kita sama-sama peduli,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala UKP Pancasila Setuju Hukuman Kebiri untuk Pedofil Sekjen Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Henny Adi Hermanoe, membeberkan pe­nyebab munculnya pedofil, dan membaginya menjadi 3 hal, yaitu kelainan otak, kelainan neurologis, dan faktor lingkun­gan. Wanita yang akrab disapa Kak Henny itu mengakui, faktor lingkungan menjadi penyebab paling banyak yang ditemui. “Maksud dari faktor lingkungan yaitu pelaku sebelumnya pernah menjadi korban pedofil,” kata Henny seperti dikutip Liputan6.com, Senin (8/1).

Kak Henny pun menjelaskan bahwa pelaku yang dahulu per­nah menjadi korban pedofil, mengulangi apa yang pernah dialaminya sebagai bentuk iden­tifikasi diri. Umumnya, pelaku merasa direndahkan di mata masyarakat, sehingga dengan bertindak seperti yang telah di­lakukan kepadanya, dia merasa lebih berdaya.

Pedofil merupakan salah satu bentuk pelecehan yang dialami oleh anak-anak. Namun, siapa sangka jika tindakan tidak ter­puji ini justru dilakukan oleh orang terdekat korban? Kak Henny mengungkapkan bahwa pelaku umumnya berani men­jalankan aksi demikian kar­ena sudah mengenal korban. “Pelaku pedofil biasanya suka dengan anak-anak, sehingga dia mengiming-imingi sesuatu yang disukai mereka,” ujar dia.

Guna mengantisipasi hal tersebut, Kak Henny menga­takan, perlu adanya pendekatan psikologis pada anak dengan mengedukasi mereka soal sek­sualitas. Orangtua dan lingkun­gan sekitar dirasa perlu turun andil dalam melindungi anak dari pelaku pedofil. “Melindungi anak-anak menjadi tugas dan tanggung jawab warga sekam­pung,” tutupnya.

Sebelumnya diketahui WS diduga melakukan aksi sodomi terhadap 41 orang anak laki-laki di Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang. WS merupakan seorang guru hon­orer dan mengaku melakukan pelecehan seksual karena telah lama ditinggal istrinya yang bek­erja sebagai TKW di Malaysia. Modus tersangka dalam men­jalankan aksinya dengan cara membujuk korban dengan imi­ng-iming ilmu ajian pelet. (ah­madi/aditya/gatot/lp6/net)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.