Pemkot Diminta Audit Industri

CILEGON, SNOL – Persoalan in­siden kegagalan teknologi in­dustri di kota Cilegon menjadi persoalan yang cukup serius dan mendapat perhatian sejum­lah kalangan. Beberapa insiden kegagalan teknilogi industri yang terjadi beberapa waktu lalu, di antaranya suara ledakan yang bersumber dari PT Dover Chemical dan semburan pence­maran bahan kimia oleh PT In­dorama Petrochemical.

Akademisi Universitas Tir­tayasa, Suwaib Amirudin men­gatakan, persoalan insiden keg­agalan teknologi atau bencana industri perlu diawasi ketat oleh Pemerintah. Hal itu penting, karena berkaitan erat dengan keberadaan masyarakat Cilegon. Pemerintah yang dimaksud, kata Suwaib, adalah baik pusat mau­pun daerah harus benar-benar menjalankan tugasnya menga­wasi ketat produksi yang dihasil­kan oleh industri.

“Kita lihat dua persoalan in­dustri kemarin di Cilegon, baik (pemerintah, red) pusat dan daerah, (pengawasan, red) harus sinkron. Industri di Cilegon itu kan memang mega proyek dan ditangani pusat. Tetapi ini kan tuan rumah di Cilegon, kalau ada ketidaknyamanan sekitar, yang bertanggung jawab itu tuan rumah,” ujar Suwaib, kemarin.

Menurutnya, persoalan yang mendasar, yakni Pemerintah masih lemah dalam mengawasi persoalan limbah industri. Hal itu tidak lepas karena kurangnya kontrol yang komprehensif ke­pada industri. Untuk itu, dirinya meminta, agar Pemerintah da­pat turut mengaudit kerja indus­tri secara menyeluruh, karena hal itu menyangkut keberadaan masyarakat luas.

“Saya menilai, industri itu tidak pernah peduli, hanya mengejar keuntungan. Padahal, harusnya industri melakukan penataan terkait limbah, baik asap maupun limbah lainnya. Pemerintah di sini harus turun mengaudit dampak industri,” terang Suwaib.

Lemahnya pengawasan itu, kata Suwaib, berdampak pada adanya indikasi praktek-praktek industri yang dapat berimbas kepada masyarakat. “Ini bu­kan persoalan aturan, tetapi ini masyarakat yang berimbas. Jan­gan sampai, produksi (industri, red) yang dipandang sebagai hal yang paling diprioritaskan. Padahal, masyarakat sekitarnya lebih penting,” papar dosen so­siologi itu.

Pada pemberitaan sebelum­nya, Anggota Komisi II DPRD Kota Cilegon, Erick Rebiin men­gatakan, insiden suara ledakan keras di PT Dover dan pencema­ran bahan kimia di PT Indorama merupakan pukulan yang cukup serius bagi masyarakat Kota Ci­legon.

Pengawasan pemerintah terh­adap pencemaran suara dan ba­han kimia itu yang terjadi di dua industri itu masih lemah. Selain itu, sambung Erick, Pemerintah juga kurang tanggap dalam me­nangani dampak pencemaran atas dua insiden yang telah ter­jadi.

“Kalau tindakan standar yang kita tahu hanya persiapan evakuasi. Itu lazim dan itu di semua industri bisa saja dilaku­kan. Tetapi di Cilegon, bukan itu yang terpenting. Ini persoalan­nya pabrik-pabrik kita di Cilegon ini, sangat berbahaya. Industri di sini hampir semua industri kimia. Istilahnya kalau terjadi seperti itu, di udara kita kena se­sak, di laut kita ke siram bahan kimia. Nah, di sini semestinya tidak lagi mengurus evakuasi. Pemerintah harus melakukan pencegahan sebelum itu terja­di,” papar Erick, beberapa waktu lalu. Ia menilai, Pemkot masih belum menjalankan tugasnya secara komprehensif dalam mengawasi.(nal/eky/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.