Pabrik Ekstasi Rumahan Digerebek

Dikendalikan Narapidana, Hasilkan 7 Ribu Butir per Hari

BENDA, SNOL—Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek sebuah rumah yang diduga dija­dikan pabrik ekstasi di Perumahan Alam Raya Blok B, Benda, Kota Tangerang, Rabu (17/1). Pabrik ekstasi itu memproduksi 7 hingga 11 ribu ekstasi per hari.

Direktur Penindakan BNN Arman Depari me­nyatakan penggerebekan tersebut dilakukan setelah pengamatan dan serangkaian operasi dari beberapa waktu lalu. BNN menindaklanjuti informasi ada pengiriman bahan baku pembua­tan ekstasi ke daerah Tangerang.

“Setelah bahan baku tiba di tempat ini, kita pastikan di dalam rumah yang sekarang ini, ditemukan pabrik atau laboratorium pembuat narkoba jenis ekstasi dengan skala yang cukup besar,” kata Arman, Rabu (17/1).

Di lokasi kejadian, sejumlah polisi dan anggota TNI berjaga di rumah tersebut. Bila dilihat dari luar, rumah tersebut sep­erti rumah tinggal pada um­umnya. Di depan atau garasi rumah, nampak kandang untuk hewan peliharaan. Sementara sisi kiri terdapat tumpukan ba­rang bekas. Di dalam rumah tersebut, sejumlah anggota BNN memakai seragam dan masker tampak duduk dekat jendela.

Tampak bahan baku untuk memproduksi ribuan butir ba­rang haram tersebut. Kemudian didapati juga dua mesin cetak otomatis dan semi otomatis yang digunakan untuk produksi.

Bila ditotal, pelaku mem­produksi sekitar 7 ribu ekstasi per harinya. Bila dua alat terse­but beroperasi, pelaku bisa memproduksi sekitar 15 ribu butir ekstasi per harinya.

“Sementara banyaknya ba­han-bahan akan diperiksa di laboratorium BNN, nanti akan dikonfirm lagi. Sementara ini diamankan 11 ribu butir ekstasi siap edar,” ujar Arman.

Dia mengatakan, di dalam pabrik ini, pemesan bisa me­minta bentuk dan warna pil ekstasi. “Di dalam itu ada 5 alat cetak untuk membentuk logo. Misalnya diamond, strip, se­gitiga dan sebagainya, termasuk warnanya,” paparnya.

Arman Depari mengatakan, dari pabrik ekstasi tersebut dia­mankan dua orang. Satu di anta­ranya adalah DPO BNN dengan kasus yang sama di tahun 2013, atas nama Anyu.

“Kemudian seorang lagi atas nama Law, yang membantu melakukan produksi, sekaligus yang meracik bahan-bahan,” ujarnya.

Operasi laboratorium atau pabrik ini ini juga dikendalikan oleh seorang narapidana atas nama Nico. “Kalau saudara per­nah ingat, Nico ini dulu pernah melakukan tindak pidana pen­embakan terhadap busway tran­sjakarta dua tahun yang lalu, ke­mudian juga yang bersangkutan terlibat dalam pembuatan dan produksi narkoba ekstasi dan bukan hanya sekali,” papar Ar­man.

Termasuk tahun 2013 saat menggerebek dan satu orang tersangka waktu itu melarikan diri adalah Anyu. Arman juga menuturkan, peredaran barang haram ini di seputaran Jabo­detabek hingga ke daerah Jawa Barat.

“Ngakunya di Jakarta saja, tapi berdasarkan penyelidikan kita bukan hanya Jakarta saja, tapi sampai ke Jabar,” tutur Arman.

Direktur Prekusor dan Psikotropika BNN Anjan P Pu­tra mengatakan tim BNN men­emukan 7 kg bahan prekusor dari rumah itu. Pabrik tersebut ditengarai telah beroperasi se­lama 2 bulan berjalan. (irfan/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.