Pengawasan Ekspor Manggis Diperketat Petugas BBKP

2.000 Ton Manggis Diekspor Jelang Imlek

BANDARA, SNOL—Balai Besar Karan­tina Pertanian (BBKP) Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang meningkatkan pengawasan ter­hadap proses packaging (pengema­san) buah manggis yang akan diek­spor langsung ke Tiongkok. Mulai dari tahap pencucian hingga penge­masan diawasi oleh petugas. Penge­tatan dilakukan menyusul adanya peningkatan pesanan manggis dari Tiongkok.

Kepala Bidang Karantina Tumbu­han BBKP Bandara Soetta, Maman Suparman mengatakan, pihaknya melakukan pembinaan sekaligus pengawasan langsung terhadap eksportir atau packing house agar memenuhi syarat untuk diekspor.

“Kita melakukan pembinaan seka­ligus pengawasan, sehingga buah yang dikemas oleh packing house ini betul-betul buah yang sesuai dengan protokol dan layak untuk diekspor ke Tiongkok,” kata Maman saat dite­mui di Gudang PT Agung Mustika Se­laras, Senin (22/1).

Petugas BBKP Bandara Soetta memeriksa satu persatu buah mang­gis yang sudah melalui tahap pen­cucian sampai quality control sebe­lum dilakukan pengemasan. “Kami melakukan pengawasan dan melaku­kan pemeriksaan setelah melalui tahap pencucian kemudian peny­emprotan dengan angin bertekanan tinggi sampai pembersihan lanjutan. Buah manggis ini diperiksa satu per­satu,” ujar Maman.

Apabila dalam pemeriksaan petu­gas BBKP masih ditemukan serangga ataupun telur serangga di bagian kelopak buah manggis tersebut, akan dikembalikan ke tahap awal yakni pencucian hingga quality control.

Bahkan dalam pemeriksaan buah manggis tersebut, petugas menggu­nakan alat yang bisa dibilang cang­gih yakni microskop portable yang tersambung ke komputer. Tidak ada buah manggis yang lolos dari pemer­iksaan alat ini. “Pemeriksaan terakhir sebelum dikemas kami melakukan pemeriksaan menggunakan micros­kop portable untuk memastikan tidak terdapat serangga atau organisme pengganggu,” kata Maman.

Permintaan manggis mening­kat jelang perayaan hari raya Imlek. Pemerintah Tiongkok memesan buah Manggis asal Indonesia sebanyak 2.000 ton. Permintaan ini menyusul adanya kesepakatan protokol ekspor manggis antara pemerintah Tiongkok dengan Indonesia pada 2017 lalu.

“Berdasarkan kesepakatan Tion­gkok dengan Indonesia, mereka membutuhkan sekitar 2.000 ribu ton selama musim panen manggis ini yaitu menjelang hari raya Imlek,” ujar Maman.

Dikatakannya, hingga saat ini, ter­dapat sebanyak 7 perusahaan pack­ing house atau eksportir yang su­dah layak dan sudah didaftarkan ke Tiongkok. Sehingga hanya 7 packing house tersebut yang boleh melaku­kan ekspor langsung ke Tiongkok. “Saat ini ketujuh packing house tersebut sudah melakukan ekspor langsung ke Tiongkok kurang lebih 6 hingga 7 ton per hari,” katanya.

Guna memenuhi permintaan tersebut pihaknya meminta ke­pada eksportir atau packing house mendaftarkan perusahaannya untuk diregistrasi agar dapat melakukan ekspor langsung buah manggis ke Tiongkok. “Maka dari itu, kita meng­harapakan eksportir lainnya pun segera mendaftar untuk diregistrasi. Sehingga banyak packing house yang sudah layak untuk melakukan ekspor langsung ke Tiongkok,” imbuhnya. Sehingga lanjut Maman, kebutuhan 2.000 ton buah manggis dari pemer­intah Tiongkok bisa terpenuhi dan dengan harapan harga lebih tinggi dan dapat meningkatkan kesejahter­aan petani. (irfan/made)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.