SBY Sentil Kriminalisasi Ulama

Di Peringatan 50 Tahun Ponpes Daar El Qolam, Jayanti

JAYANTI, SNOL—Presiden Repub­lik Indonesia ke 6 Susilo Bam­bang Yudhoyono melayangkan kritik terhadap pemerintahan Jokowi saat menghadiri Sarase­han Pondok Pesantren Alumni Gontor dan peringatan 50 ta­hun Pondok Pesantren Daar El-Qolam di Pasir Gintung, Jayanti, Kabupaten Tangerang, Sabtu (20/1). SBY menyatakan ada kekurangharmonisan dalam hubungan antara pemerintah, penegak hukum dan para ulama saat ini.

SBY hadir di Pesantren Daar El Qolam sebagai pembicara dalam rangka Milad ke-50 pesantren terbesar di Provinsi Banten. Tampak hadir juga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Bupati Tangerang A Zaki Iskandar bersama ra­tusan Kiai Alumni Gontor dan Daar El-Qolam.

Dalam kesempatan tersebut, Yudhoyono meminta Pemerin­tah agar tak mudah melakukan pemidanaan terhadap para pen­dakwah dan kiai lewat dugaan ujaran kebencian. Pemerintah, kata SBY, semestinya menguta­makan upaya mediasi dan saling mengingatkan ketimbang men­jerat ulama dengan delik hukum.

“Pemerintah jangan sedikit-sedikit, dengan mudah meng­kriminalisasi, memanggil, se­olah-olah dianggap kejahatan. Saya kira bisa dengan saling mengingatkan agar tidak jadi ka­sus itu,” ujar SBY dalam gelaran Milad ke-50 Pondok Pesantren Daar el-Qolam, di Jayanti sep­erti dilansir cnnindonesia, Sabtu (20/1) .

Pandangan presiden RI se­lama dua periode itu disampai­kan terkait pengakuan beberapa ulama dan kiai yang merasa mu­dah dikriminalkan melalui delik ujaran kebencian. Menurut SBY, pemimpin negara dan ulama harusnya satu, bukan malah menjadi musuh.

“Kalau dianggap ucapan Anda (ulama dan kiai) bisa dikrimi­nalkan, menurut saya, penda­kwah, ulama, tentu tahu batas­nya. Selama tidak melanggar konstitusi, maka tidak boleh ter­lalu cepat (dianggap) melanggar hukum,” ucap dia.

SBY, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, mengakui pentingnya penegakan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Termasuk dalam hal pem­berantasan korupsi.

“(Tapi) jangan terlalu dikekang, disalahkan, kalau mereka (rakyat) berbicara. Ini harapan rakyat, bukan pan­dangan SBY, tapi (pandangan) saudara-saudara kita,” dalihnya.

Dia juga mengingatkan soal kemungkinan banyaknya isu toleransi dan kebhinnekaan jelang tahun politik, tahun 2019. SBY meminta Pemerintah tak mudah untuk melontarkan tu­dingan intoleran, anti-kebhin­nekaan, ataupun radikal. Sebab, hal itu bisa saja terjadi di semua kelompok dan agama.

“Jangan terlalu cepat menuduh ini tidak bhineka, ini radikal, seterusnya. Tujuannya adalah menyatukan. Lebih baik dibimbing supaya enggak ben­turan,” imbuh SBY.

Pimpinan Pondok Pesantren Daar El-Qolam Kiai Odhy men­gatakan kegiatan tersebut dige­lar sebagai rasa syukur kepada Allah SWT karena Daar el-Qol­am masih tetap eksis mengem­ban visi dan misinya sebagai lembaga pendidikan Islam wa­laupun usianya sudah mencapai 50 tahun.

Ia menjelaskan, Pondok Pesantren Daar El-Qolam meru­pakan salah satu lembaga pen­didikan Islam yang didirikan pada 20 Januari 1968 oleh Kiai Ahmad Rifa`i Arief. Pesantren Daar El-Qolam juga memiliki 5.500 santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kami ucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kabu­paten Tangerang yang mem­percayai Daar el-Qolam sebagai tempat menggali ilmu pengeta­huan,” ungkapnya.

Sementara Bupati Tangerang A Zaki Iskandar mengaku sangat senang dengan terselenggaran­ya acara ini. Dirinya juga bangga karna pondok pesantren daar El-Qolam bertempat di wilayah Kecamatan Jayanti yang juga wilayah Kabupaten Tangerang.

“Semoga pondok pesantren daar El-Qolam ini bisa terus membawa masyarakat Kabu­paten Tangerang menjadi ma­syarakat yang religius dan ber­wawasan lingkungan sesuai dengan Visi Misi Kabupaten Tangerang,” tutup Zaki. (cnnin­donesia/aditya/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.