IKM Tangsel Dibekali Izin Edar

CIPUTAT,SNOL— Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangerang Selatan melalui bi­dang perindustrian bakal menjaring pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang belum memiliki perizinan. Bagi yang belum memiliki izin akan didorong untuk segera mem­buatnya.

Kabid Perindustrian, Disperindag Kota Tangsel, Ferry Payacun fokus pada tahun 2018 menjaring IKM yang ada di Tangsel, terutama IKM yang pernah mendapatkan pem­binaan di tahun sebelumnya. IKM akan didata ulang, mana yang sudah memiliki izin dan mana yang belum sama sekali.

“Fokus kami tahun ini melalukan pendataan ulang IKM. Mereka meru­pakan pembinaan kami sebelumnya melalui berbagai pelatihan dan pem­binaan. Tentunya dari sekian banyak pelaku usaha sudah mengurus izin ada yang belum mengurusnya. Inilah tugas kami untuk mendorong mereka segera melakukan pengurusan izin,” tutur Ferry.

Perizinan mulai dari izin edar, ha­lal food, hak paten dan kedaluarsa. Mengapa hal ini penting? Dikarena­kan semakin tahun masyarakat su­dah terarah pada pasar industri ma­kanan siap saji dan praktis, apalagi pola ritail seperti gerai atau toko saat ini hampir terlewati dengan hadirnya online. Dengan online penjual tak perlu harus memiliki gerai besar, cu­kup dari rumah bisa berjualan.

“Inilah tantangan yang harus dihadapi, era saat ini tidak dapat dibendung, maka kita harus mengikuti perkembangan. Jika tidak kita yang akan mengalami kemunduran. Untuk membuat kepercayaan produk IKM wajib memiliki izin edar,” tambahnya.

Selesai perizinan, bakal didorong dalam pengemasan yang menarik. Tampilan kemasan saat dipajang di media sosial, harus bagus. Jika asal-asalan, pembeli akan malas. Jadi banyak hal yang harus diperhatikan dalam berjualan di media sosial. “Kemasan juga menjadi persoalan, dituntut dengan rapi dan bagus tidak boleh asal-asalan,” tuturnya.

Diakui Ferry tidak mudah mem­bantu atau memfasilitasi banyak orang, misalnya di Kampung Tempe Kedaung Pamulang saja ada 200 perajin yang harus diberikan pembi­naan dan perizinan. Industri tempe ini akan berkembang diversifikasi atau makanan tambahan, meski tempe tidak melulu dijual ke pasar dan tukang sayur, tapi tempe bisa di­jual di super market.

“Kami akan dorong mereka bisa melakukan ekperimen bagaimana cara membuat kripik tempe yang lezat, rasa original, keju dan sapi panggang dengan kemasan menarik dan harga terjangkau. Jangan mem­produksi tempe yang dibungkus daun semata, tapi harus banyak varian,” imbuhnya.

Selain di Kampung Tempe, pihaknya bakal mendorong kam­pung konveksi di Jurang Mangu Timur, Pondok Aren kurang lebih ada 300 perajin. Pengembangan lain di kampung digital Keranggan, Setu menjadi salah satu pengungkit per­tumbuhan ekonomi di Tangsel mela­lui berbagai sentra-sentra di masing-masing wilayah.

“Semakin banyak yang dikembang­kan di masing-masing wilayah, maka pemerataan ekonomi akan dirasakan masyarakat. Jadi perputaran ekono­mi tidak hanya di kawasan BSD dan Bintaro saja, tapi di kecamatan-keca­matan lain harus sama,” harapnya.

Saripah, perajin tempe, menutur­kan, dorongan pemerintah dalam memajukan Kampung Tempe cukup besar. Banyak yang diberikan berupa pelatihan dan lain-lain. Diharapkan ini akan terus membangkitkan per­ekonomian masyarakat. “Kami ber­harap keberadaan Kampung Tempe di Tangsel terus dikembangkan, se­hingga dampaknya akan lebih luas,” tuturnya. (din/bnn/jarkasih)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.