Pasien RS Hingga Napi pun Panik

GUNCANGAN gempa bumi me­nimbulkan kepanikan di tengah masyarakat Tangerang. Warga berhamburan ke luar rumah ketika gempa selama 10 detik menggoyang bangunan tempat mereka beraktivitas.

Gempa menimbulkan kepani­kan di RSU Kota Tangerang. Para pasien, pegawai maupun pengunjung rumah sakit berlar­ian ke luar gedung. Para pasien yang dirawat dievakuasi ke titik kumpul, tepat di halaman RS tersebut.

Petugas bahu membahu me­mindahkan pasien dari dalam gedung ke titik kumpul.

Kepanikan juga terjadi di pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Para pegawai berlarian ke luar ge­dung. Mereka berkumpul di la­pangan Maulana Yudha Negara selama sepuluh menit. Bupati Tangerang A Zaki Iskandar juga tampak ke luar kantor dan ber­kumpul di halaman gedung.

Rasa panik lebih ekstrem dira­sakan para narapidana di Lapas Wanita Tangerang. Mereka tak dapat ke luar dari penjara ke­tika gempa terjadi. Para narapi­dana pun menggelar aksi unjuk rasa menyuarakan protes akibat peristiwa tersebut.

“Warga binaan panik karena gempa, minta segera dikeluar­kan dari kamarnya sehingga ter­jadi kepanikan berujung demo sesaat. Kamar hunian segera di­buka dan kondisi lapas perem­puan Tangerang saat ini sudah terkendali,”ujar Humas Ditjen PAS Kemenkum HAM Ade Kus­manto seperti dilansir detikcom, Selasa (23/1).

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan dampak gempa dapat diibaratkan seperti keru­cut terbalik.

“Analoginya seperti kerucut yang terbalik, semakin dalam pusat gempa, maka wilayah yang terkena dampaknya akan semakin luas. Tetapi kekuatan­nya berkurang seiring cakupan wilayahnya yang luas. Gempa itu merembet melalui kerak bumi, gempa tadi juga sampai ke Yogyakarta dan Lampung,” kata Daryono, Selasa (23/1).

“Semakin dangkal pusat gem­pa, cakupan wilayah terdampak akan semakin kecil,” tambah Daryono.

Seperti diketahui, gempa tekton­ik 6,1 mengguncang Banten, Jawa Barat dan Jakarta pada hari Selasa pukul 13:34 WIB dengan titik gem­pa di wilayah Samudera Hindia.

Koordinat episenter gempa 7,23 LS dan 105,9 BT atau 67 ki­lometer arah barat daya kota Bo­jonghaur, Sukabumi, Jawa Barat dengan kedalaman 61 kilometer.

“Hingga saat ini, sudah ada gempa susulan 11 kali dan kekuatannya cenderung berkurang. Kecil kemungkinan akan terjadi gempa lebih besar,” jelas Daryono.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan saat terjadi Gempa Bumi? BPBD Provinsi DKI Jakar­ta melansir sejumlah tips yang dapat dijalankan.

Pertama, bila berada di dalam bangunan, segera berlindung di bawah rangka bangunan atau di kolong benda yang kuat (meja, kursi-red). Setelah itu keluarlah menuju tempat terbuka meng­gunakan tangga darurat. Men­jauhlah dari jendela kaca dan benda-benda yang berpotensi akan jatuh.

Bila berada di luar, cari tempat terbuka yang jauh dari bangunan, tiang listrik, baliho, pohon tinggal dll yang berpotensi roboh. Bila sedang mengemudi, berhenti­lah dan menjauh dari jembatan atau terowongan dan bila berada di pegunungan, hindari lereng dan jurang dan waspadalah den­gan reruntuhan batu atau tanah longsor akibat gempa. Sementara bila berada di pantai, segeralah berpindah kedaerah yang lebih tinggi untuk menghindari apabila gempa berpotensi menyebabkan gelombang tsunami. (irfan/mg1/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.