Dua Wanita Serang Dijual

Dijanjikan Pekerjaan, Ditempatkan di Lokalisasi

SERANG, SNOL—Iming-iming pekerjaan dengan upah be­sar nyaris saja membuat RH dan ES, warga Pabuaran Ka­bupaten Serang menjadi ko­rban perdagangan manusia. Ditawari bekerja di restoran, keduanya justru dijual untuk dijadikan pekerja seks komer­sial di Desa Sungai Pakit, Ke­camatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimatan Tengah.

Dari informasi yang dihim­pun, awalnya kedua perem­puan tersebut berkenalan dengan seorang pria saat naik angkot di wilayah Se­rang. Pria tersebut menawar­kan pekerjaan pada mereka di daerah Kalimantan.

Setelah berkenalan selama tiga hari, mereka dibelikan tiket untuk berangkat kerja di Kalimantan, Jumat (19/1).

Kedua korban kemudian be­rangkat dan mendarat di Pang­kalan Bun Kotawaringin Barat, dan langsung menuju lokalisasi yang dulu dikenal dengan sebu­tan Lokalisasi Amin Jaya di Desa Sungai Pakit. Mereka diserah­kan ke seorang “papih” di loka­lisasi tersebut.

Hampir sepekan kedua kor­ban tersebut dipaksa bekerja di sebuah kafe untuk menemani tamu. Namun keduanya meno­lak untuk melayani hubungan badan dengan tamu, sehingga membuat pemilik kafe marah.

Karena pekerjaan yang dijanjik­an tidak sesuai dengan kenyataan, akhirnya ES menghubungi salah seorang anggota keluarganya di Serang, memberitahu jika dirinya dan RH kini sedang berada di Ka­limantan dipaksa menjadi PSK di Lokalisasi Amin Jaya.

Tak mau kehormatannya ter­noda, keduanya memutuskan kabur ke arah Sampit dengan bantuan seorang mantan ang­gota TNI yang berbaik hati me­nolong mereka, Rabu (24/1), sekitar pukul 04.00 WIB.

Saat ditemui di kediamannya, ayah dari ES, Ahmad mengaku sangat kaget atas peristiwa yang menimpa anaknya tersebut. Karena semula anaknya terse­but hanya berniat untuk bekerja di restoran, namun setelah be­berapa hari justru dikabarkan sudah ada di Kalimantan dan dipekerjakan di sebuah cafe.

“Dia berhasil kabur ke perke­bunan sawit, terus pagi-pagi ketemu purnawirawan TNI dan diselamatkan, kemudian langsung diterbangkan, alham­dulillah selamat,” katanya. Aki­bat kejadian tersebut, kata dia anaknya tersebut saat ini men­galami trauma.

“Pelaku mudah-mudahan se­cepatnya bisa ketemu, di daerah Serang juga mungkin ada yah,” tuturnya.

Terpisah, ayah dari RH, Ajid menuturkan, bahwa anaknya tersebut berangkat dari rumah pada Kamis (18/1) sekitar pu­kul 09.00 wib. Saat berangkat anaknya tersebut hanya me­minta doa untuk bekerja di restoran.

“Saya tidak tahu sama siapa berangkatnya, karena waktu itu dari rumah berangkatnya sendiri, ngakunya mau kerja di restoran, minta doanya,” kata Ajid, Senin (29/1).

Namun setelah beberapa hari mendengar sudah ada di Kali­mantan, Ajid mengaku mera­sakan firasat buruk tengah men­impa anaknya. “Dia nelepon ke tetehnya terus minta doa, katan­ya selama di sana (Kalimantan-red) mau salat saja nggak boleh, tapi setelah itu dia berusaha ka­bur, tapi beruntung berhasil me­nyelamatkan diri, sepulang dari sana dia sekarang dia sakit, lagi ingin istirahat, nggak bisa dite­mui,” pungkasnya.

Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah membenarkan ad­anya dua orang warga di Ka­bupaten Serang yang menjadi korban human trafficking. Kata dia keduanya dijanjikan oleh orang yang membawanya untuk bekerja di restoran, namun ke­nyataannya justru dipekerjakan sebagai PSK.

“Tapi alhamdulillah mereka bisa keluar, ada yang memban­tu, dari situ pemda terus Polres, Kodim berkoordinasi memu­langkan mereka ke orangtuan­ya,” kata Tatu.

Namun kata dia peristiwa ini menjadi catatan penting untuk Pemkab Serang, terutama bagi industri yang jumlahnya sangat besar. Harusnya, dengan jumlah yang besar ini bisa menjadi solu­si dari persoalan pengangguran yang ada di Kabupaten Serang.

“Ini kan dengan iming-iming bisa bekerja, berarti mereka kan merasa sulit bekerja di Kabupat­en Serang, seperti itu kan logi­kanya, kalau mereka tidak sulit mencari kerja di Kabupaten Se­rang saya rasa mereka tidak akan pergi. Dan di Kabupaten Serang pun setingkat saleri di restoran bisa, UMR kita lebih tinggi, nah hanya persoalan sekarang ting­gal peluangnya nggak ada, jadi industri kemarin saya sharing di Hipwis harus bertanggung jawab atas kejadian seperti ini,” pungkasnya. (sidik/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.