Pembuat Upal Diciduk di Tangsel

Bareskrim Sita 2.970 Lembar Upal Pecahan Rp 50 Ribu

PAMUlANG,SNOL— Direktorat Tin­dak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri menciduk empat orang tersangka pembuatan dan pengedar uang palsu (Upal). Dua di­antaranya ditangkap di Kecamatan Pamulang dan Ciputat.

Penangkapan terhadap para ter­sangka berawal dari adanya informasi warga pada awal Januari lalu bahwa diduga ada pelaku pembuat uang pal­su emisi Rp50 ribu. Berbekal informasi itu, tim Subdit IV/Uang Palsu melaku­kan penyelidikan dan berhasil menda­patkan nomor handphone pelaku. Lalu polisi melakukan penyamaran se­bagai calon pembeli uang palsu. Upaya itu ternyata berhasil. Pelaku dan calon pembeli sepakat melakukan transaksi di halaman SPBU Gandasari Cikarang Bekasi Jawa Barat pada Rabu (24/1).

“Pada 24 Januari, pukul 23.45 dua pelaku datang ke tempat yang sudah disepakati di halaman SPBU, setelah tim yakin pelaku membawa uang palsu maka langsung menangkap keduanya, setelah diinterogasi diketahui pelaku berinisial AL dan MAR Alias D yang be­ralamat di Harja Mekar, Cikarang Utara Bekasi,” ungkap Direktur Tindak Pidana Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya di kantor Bareskrim Polri, gedung KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (29/1).

Dari tangan AL penyidik menemu­kan tiga lak (100 lembar) Upal peca­han Rp50 ribu. Lalu penyidik meng­geledah tempat tinggal kedua pelaku dan ditemukan alat yang digunakan untuk proses akhir pembuatan Upal pecahan Rp50 ribu. Uang yang dicetak para pelaku memiliki nomor seri 259 dan 258. Nomor ini biasanya terdapat di pojok atas uang. Kedua nomor seri ini belum terdaftar di Bank Indonesia.

AL juga ternyata bukan pemain baru. Dia pemain lama yang sudah pernah masuk bui karena kasus upal pula. “AL adalah pelaku peredaran yang belum lama keluar dari Lapas terkait Upal,” katanya.

AL mengaku pembuat atau pencetak Upal adalah AD yang beralamat di Pon­dok Cabe Ilir Kecamatan Pamulang Tangsel. Tanpa buang waktu, pada 25 Januari sekitar pukul 04.15, tim Subdit IV mengepung AD di Pondok Cabe Ilir dan berhasil meringkusnya. Dari pen­gakuan AD terungkap bahwa dirinya memiliki kontrakan di Kelurahan Ci­payung Kecamatan Ciputat Tangsel. Kontrakan itu digunakan sebagai tem­pat pembuatan Upal. Saat itu juga pukul 05.00, polisi meluncur ke lokasi dan me­nangkap JS yang sedang memproduksi Upal. JS adalah pelaku yang selama ini membantu AD memproduksi Upal.

“Kepada Polisi, tersangka J men­gaku dibayar denga upah Rp 130 ribu per hari,” ujar Agung.

Modusnya, AD dibantu JS mem­buat Upal setengah jadi. Selanjutnya dijual kepada tersangka AL dengan harga Rp70 ribu per 100 lembar ker­tas bergambar menyerupai uang Rp50 ribu (1 lembar kertas jika di­potong menjadi 2 lembar uang palsu pecahan Rp50 ribu),” jelasnya.

Selanjutnya AL melakukan finishing (menyulam benang pengaman, pilok transparan untuk lem, ngepress meng­gunakan alat laminating) dan menge­darkan kepada pemesan dibantu ter­sangka MAR yang tiada lain menantu AL. Motif dari perbuatan para pelaku adalah untuk mencari keuntungan ekonomi berupa uang tunai.

Dari AL disita barang bukti tiga lak uang pecahan Rp50 ribu, alat yang digunakan untuk finishing pembua­tan Upal pecahan Rp50 ribu, satu unit sepeda motor merk Yamaha X Ride. “Dari tersangka AD disita 2.970 lembar Upal pecahan Rp50 ribu, lembar ker­tas yang bergambar menyerupai uang Rp50 ribu, peralatan untuk membuat uang palsu,” terangnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan pasal 36 ayat (1), ayat (2), ayat (3), pasal 37 UU Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang jo 55 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Perwakilan Bank Indonesia, Luctor Tapiheru, menjelaskan metode pence­takan uang palsu yang dilakukan kom­plotan ini memiliki kualitas rendah dan tidak identik. (jpg/jarkasih)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.