Dua Suplemen Kandung DNA Babi

BPOM Perintahkan Produsen Tarik Enzyplex dan Viostin DS

TANGERANG, SNOL—Badan Pengawas Obat dan Makan­an (BPOM) menyatakan Viostin DS dari PT Pharos Indonesia dan tablet Enzy­plex produksi PT Medifarma Laboratories, suplemen makanan terbukti mengand­ung DNA babi. Produsen kedua suplemen itu dim­inta menarik produknya dari peredaran.

Pernyataan BPOM disam­paikan Selasa (30/1) malam menanggapi viralnya suirat Balai Besar POM di Mata­ram kepada Balai POM di Palangka Raya tentang dua merek suplemen makanan. Dalam keterangan resmin­ya, BPOM menyampaikan sampel produk yang tertera

dalam surat tersebut adalah Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia (nomor izin edar/NIE POM SD.051523771, bets BN C6K994H), dan tablet Enzyplex produksi PT Medifarma Labora­tories (NIE DBL7214704016A1, bets 16185101).

Enzyplex merupakan obat lambung dan saluran cerna yang mengandung enzim-enz­im perncernaan, multivitamin dan mineral untuk melancar­kan pencernaan dan metabolis. Sementara Viostin DS adalah suplemen makanan yang di­gunakan untuk meringankan osteoarthritis, rematik, dan gangguan pada persendian dan tulang rawan.

“Berdasarkan hasil penga­wasan terhadap produk yang beredar di pasaran (post-market vigilance) melalui pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemu­kan bahwa produksi di atas ter­bukti positif mengandung DNA babi,” ungkap keterangan resmi yang juga tercantum di situs res­mi POM.

Terkait hal ini, Badan POM RI telah menginstruksikan PT Pharos Indonesia dan PT Medifarma Laboratories untuk menghentikan produksi dan/atau distribusi produk dengan nomor bets tersebut.

Dalam penjelasannya, BPOM juga menegaskan PT Pharos Indonesia telah menarik selu­ruh produk Viostin DS dengan NIE dan nomor bets tersebut dari pasaran, serta menghen­tikan produksi produk Viostin DS. Sementara, PT Mediafarma Laboratories juga telah menarik seluruh produk Enzyplex tab­let dengan NIE dan nomor bets tersebut dari pasaran.

Sebagai langkah antisipasi dan perlindungan konsumen, Badan POM RI menginstruksi­kan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia untuk terus memantau dan melakukan penarikan produk yang tidak memenuhi ketentuan, terma­suk yang terdeteksi positif men­gandung DNA babi, namun ti­dak mencantumkan peringatan ‘Mengandung Babi’.

Badan POM RI secara rutin melakukan pengawasan ter­hadap keamanan, khasiat/man­faat, dan mutu produk dengan pengambilan sampel produk beredar, pengujian dilaborato­rium, serta tindak lanjut hasil pengawasan.

Lewat penjelasannya ini juga, surat penjelasan yang dikeluar­kan Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan POM RI juga menghimbau masyarakat untuk tidak resah dengan beredarnya surat.

Menanggapi hal tersebut, Sek­retaris Yayasan Lembaga Kon­sumen Indonesia (YLKI), Agus Suyatno mengatakan bahwa salah satu hal konsumen adalah mendapatkan informasi yang jelas, benar dan jujur. Karena itu, jika BPOM telah mengu­mumkan bahwa dua produk tersebut mengandung babi, maka harus ada informasi di label produk yang bisa diakses oleh konsumen.

“Jika tidak ada tentu meru­pakan sebuah bentuk pelang­garan terhadap hak konsumen yang ada di Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Infor­masi tersebut juga harus men­cakup dalam iklan, mengingat mayoritas masyarakat adalah muslim di negeri ini,” kata Agus seperti dilansir tempo.co.

Karena itu, YLKI mende­sak pada BPOM untuk segera berkoordinasi dengan dua pe­rusahaan terkait yang terbukti di dalam produksnya mengand­ung DNA babi. Jika diperlukan, kata Agus, BPOM bisa memberi­kan sanksi.

“Sanksi untuk menarik produk beredar yang tanpa informasi jelas. Sampai administrasi beru­pa pembekuan izin edar produk, jika terbukti melanggar ketentu­an,” kata dia. (t.co/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.