Diduga 65 Perusahaan Terlibat Kasus Dugaan Korupsi P3T

Giliran 3 Pengusaha dan Mantan Bendahara DCKPK Diperiksa

PANDEGLANG,SNOL–Penanganan kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek Program Pembangunan Infrastruk­tur Perdesaan Tertinggal (P3T), terus berlanjut. Kali ini, sekitar pukul 09.00 WIB, tiga pengusaha yakni Fatul Badri Direktur CV Sinar Cikudus, Hendra Jo­hana selaku Direktur Alpatir dan Tuba­gus Rohmat Solihin yang juga selaku kontraktor, menjalani pemeriksaan di ruang Seksi Pidana Khusus (Pidsus) Ke­jari setempat, Senin (5/2).

Selain itu, sekitar pukul 14.30 WIB, mantan bendahara Dinas Cipta Karya Penataan Ruang dan Kebersihan (DCK­PK), Mutmainah yang akrab disapa Mumut, juga menjalani pemeriksaan. Ia datang mengenakan baju batik ber­warna coklat, kerudung kuning, celana hitam dan sepatu warna coklat.

Berdasarkan data yang berhasil dihim­pun, ada sekitar 65 perusahaan yang ter­libat mengerjakan proyek dalam program tersebut. Instansi terkait, bersama-sama dengan kontraktor pelaksana, diduga mengangkangi Peraturan Presiden (Per­pres) RI Nomor 54 Tahun 2010, tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, yang terakhir diubah dengan Perpres RI Nomor 70 Tahun 2012 beserta petunjuk tekhnis Perpres RI tersebut yakni, Per­aturan Kepala LKPP Nomor 14 Tahun 2012 dan Peraturan Kepala LKPP Nomor 15 tahun 2012, tentang Standar Dokumen Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Ke 65 perusahaan itu, khusus dalam proyek P3T Tahun Anggaran (TA) 2016 mengerjakan sekitar 98 paket proyek yang nilainya variatif antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Proyek pe­kerjaan itu tersebar di 10 Kecamatan yakni, Kecamatan Sumur, Cibaliung, Sukaresmi, Jiput, Patia, Panimbang, Koroncong, Sidangresmi, Mekarjaya dan Cibitung.

Saat meminta izin keterangan ad­anya pemeriksaan tersebut, Kepala Ke­jari Pandeglang, Nina Kartini meminta sejumlah wartawan untuk langsung mengkonfirmasi Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Pandeglang, Feza Reza. Karena, ia mengaku sedang sakit.

“Boleh, langsung saja ke Pak Kasi Pid­sus ya. Ibu (Nina,red) sedang sakit, meng­gigil. Kepalanya sakit sekali, di lambung seperti ada batunya, mulut pahit,” ujar Kajari Pandeglang, Nina Kartini, dalam bahasa WA (Whats App), Senin (5/2).

Saat hendak di konfirmasi ke Kasi Pid­sus, ia sedang tidak ada di ruangannya. Menurut salah seorang stafnya, Kasi Pid­sus sedang mewakili ibu Kajari meng­hadiri acara   Pemkab Pandeglang, di salah satu rumah makan di Pandeglang.

“Bapak sedang tugas luar, mewakili ibu Kajari. Karena ibu sakit,” ujar staf itu.

Diberitakan sebelumnya, Pengamat kebijakan publik yang juga Dosen FI­SIP  Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Kabupaten Pandeglang, Eko  Su­priatno mengaku, sangat mendukung langkah Kejari Pandeglang dalam men­egakkan supremasi hukum di Kabupaten Pandeglang. Tapi katanya, dalam proses pemeriksaan kasus dugaan korupsi P3T, jangan setengah-setengah.

“Kami atau publik, pasti akan terus memberikan semangat kepada siapap­un dan pihak manapun, khususnya Ke­jari Pandeglang untuk terus mengusut tuntas tindak pidana korupsi (Tipikor), yang dilakukan para oknum pejabat dil­ingkungan Pemkab Pandeglang. Maka dari itu, saya meminta Kejari jangan te­bang pilih dan harus menuntaskannya,” tegas Eko, Minggu (4/2).

Pembuat buku yang berjudul “Poli­tik Zaman Now” ini, juga mengingat­kan kepada Mantan Ketua Dewan yang juga pemilik CV Herdiansyah Putra, Aris Turisnadi yang sudah menjalani pemeriksaan di Kejari, Jumat (2/2) lalu. Kalau memang ingin membongkar ling­karan konspirasi atau dugaan Tipikor dalam perkara tersebut, jangan sampai setengah-setengah. (nipal/mardiana)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.