Rumah Janda Tua Nyaris Ambruk

Terpaksa Hidup Menumpang dengan Keluarga

KAB SERANG, SNOL—Sungguh mem­prihatinkan nasib yang dialami Sa­piah (51), Warga Kampung Wangun, RT 018/008, Desa Waringin Kurung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Janda yang memiliki dua orang anak tersebut kini harus hidup menumpang di rumah saudaranya lantaran rumah tidak layak huni mi­liknya hancur dimakan usia.

Dari pantauan, konstruksi rumah berukuran 4 X 5 meter persegi terse­but terbuat dari material kayu, geribik dan atap rumbia, kemudian lantai masih berupa tanah. Hampir semua sisi bangunan sudah rusak, dan nyaris ambruk. Pemilik rumah yang sehari-hari hanya bekerja mengumpulkan melinjo yang jatuh dari pohon di ke­bun milik warga, tak mampu untuk memperbaiki rumahnya.

“Sekarang Sapiah diungsikan di rumah adiknya, tinggal di dapur ru­mah adiknya, sudah enam bulan, jadi sekarang ada lima orang kelu­arga yang tinggal di rumah adiknya itu,” kata salah seorang warga set­empat, Muhamad Abdurohim (47)

saat ditemui di dekat kediaman Sapiah, Rabu (6/2).

Abdurohim menuturkan, bahwa kehidupan Sapiah sehari-hari sangat memprihatinkan. Dia hanya bekerja sebagai buruh serabutan yang penghasilanya tak menentu. Bahkan saat tidak ada pekerjaan terpaksa meng­umpulkan tangkil di kebun milik warga yang jatuh dari pohon­nya, kemudian setelah terkum­pul tangkil tersebut dijual ter­hadap pengepul. “Sedihnya itu dia nyariin tangkil (melinjo) di bawah (tanah) buat dijual, peng­hasilannya juga sehari gak sam­pai Rp 20 ribu, jadi jangankan buat benerin rumah, buat makan saja masih susah, “ katanya.

Senada diungkapkan oleh adik ipar Sapiah, Sukeri (33). Kata dia kaka iparnya tersebut sudah tidak memiliki suami setelah berpisah sejak 6 tahun yang lalu. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan hidup se­hari-hari dengan terpaksa harus mencari nafkah sendiri sebagai buruh serabutan. “Suaminya sudah pisah, punya dua anak, yang paling besar bernama Sat­ibi berumur 17 tahun dan paling kecil bernama Sunariah SDN kelas 6 berumur 13 tahun, mere­ka tinggal di pondok pesantren,” katanya. Ia pun mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk membantu saudaranya tersebut. Selama ini pihak keluarga ber­harap rumah milik saudaranya tersebut segera mendapat ban­tuan perbaikan dari Pemerintah daerah.

“Pernah ada yang datang ke ru­mah (meninjau rumah Sapiah-red), tapi dipungut biaya Rp 50 ribu, katanya ada bedah rumah, tapi membutuhkan biaya seki­tar Rp 50 ribu, sudah satu tahun (memintanya), dia meminta su­rat tanah, terus langsung difoto, RT yang meminta, tetangga juga ada yang diminta, ada sekitar 15 orang warga,” katanya.

Menanggapi persoalan terse­but, Wakil Ketua Komisi II De­wan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Serang, Heri Azhari meminta Dinas So­sial (Dinsos) Kabupaten Serang untuk segera turun melakukan verifikasi ulang data data ru­mah tidak layak huni yang su­dah masuk, jangan sampai ada masyarakat yang betul betul membutuhkan bantuan rutila­hu secara prioritas, tetapi tidak segera diakomodir.

“Lakukan monitoring betul tidak rumah tersebut sudah tidak layak huni, dan harus mendapatkan bantuan. Jadi ka­lau masih agak layak dan bisa dilakukan (pembangunan) ta­hun depan ya tahun depan, tapi kalau memang ini sudah tidak layak, sampai dia nggak tidur di tempat tinggalnya, sudah bocor, sumah roboh, berarti masuk pri­oritas,” tuturnya. (sidik/made)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.