Pembangunan Pasar Tradisional Terbentur Lahan

Bikin Macet, Sering Dikeluhkan Masyarakat

TIGARAKSA, SNOL—Kemacetan se­lalu terjadi di depan Pasar Curug Kecamatan Curug. Lahan di pasar tersebut dinilai sudah tidak optimal mengakomodir kebutuhan pembeli dan para pedagang yang banyak. Namun Pemkab Tangerang tak bisa berbuat banyak, karena hingga kini terkendala lahan dalam membangun pasar tradisional, khususnya yang berada di tepi jalan.

Keluhan disampaikan Budi, salah satu pengendara yang melintas di depan Pasar Curug. Menurutnya, keberadaan pasar tradisional khu­susnya di Curug kurang tertata rapi. Dikarenakan keberadaan pasar yang terlalu dekat dengan bibir jalan, se­hingga menjadi pemicu kemacetan setiap harinya.

“Selalu saja macet kalau lewat sini (Pasar Curug, red). Keberadaan para pedagang dan para pembeli yang semerawut memicu kemacetan di jalanan,” keluh Budi, kepada Satelit News, kemarin.

Menurut Budi, agar aktivitas di dalam pasar tidak mengganggu para pengguna jalan lainnya yang melin­tas, ia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk bisa melakukan pelebaran atau pembangunan ke atas.

“Dengan begitu, semua bisa berja­lan lancar tanpa ada gangguan hing­ga ke jalanan,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB) Ka­bupaten Tangerang, Taufik Emil mengatakan, untuk dapat dilakukan­nya pembangunan pasar tradisonal seperti di , Pasar Curug Kecamatan Curug, Pasar Gembong Kecamatan Balaraja, Pasar Cikupa Kecamatan Cikupa dan lainnya, diperlukan ketersediaan lahan yang cukup. Dan itu pun, kata Emil, pengelolaan pasar berada langsung di tangan pemerintah, bukan desa yang bekerjasama pihak investor untuk mengelolanya.

“Seperti pasar Cikupa dan Gem­bong itu, kita (Pemkab, red) tidak bisa melakukan pelebaran atau pembangunan pasar karena statusnya adalah tanah milik desa. Untuk dilakukannya pembangunan atau pelebaran pasar, harus disediakan lagi terlebih dahulu lahannya yang baru, baru bisa diker­jakan,” jelas Emil.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kata Emil, ada tiga pasar tradisional yang selesai dikerjakan dalam upaya meningkatkan daya beli masyara­kat. Diantaranya Pasar Cisauk Ke­camatan Cisauk, Pasar Jambe Keca­matan dan Pasar Ceplak Kecamatan Sukamulya, disusul dengan pem­bangunan Pasar Mauk dan Pasar Sepatan yang ditargetkan rampung Desember tahun ini.

Lanjut Emil, terlepas pembangu­nan pasar tradisional yang dilakukan oleh Pemkab Tangerang, terdapat pula pembangunan pasar tradisional lainnya oleh PD Pasar Niaga Kerta Raharja (NKR). Ia berharap ke depan, seluruh kecamatan di Kabu­paten Tangerang bisa memiliki pasar baru sendiri.

“Tapi itu semua bergantung arah kebijakan daerah. DTRB hanya tinggal menjalankan program saja,” katanya.

Pada sisi lain, pihaknya juga me­nyayangkan masih rendahnya per­hatian pemerintah pusat untuk bisa membangun pasar tradisional, dengan tujuan untuk menumbuhkem­bangkan pedagang tradiaional di daerah. Terbukti dari pembangunan yang ada saat ini, semua anggaran­nya bersumber dari APBD Kabupaten Tangerang dan pengelola pasar saja. “DAK (Dana Alokasi Khusus)-nya be­lum ada,” tandasnya. (mg1/aditya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.