Kontribusi BUMD Masih Nihil

KOTA SERANG, SNOL – Asupan penda­patan daerah dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan aset milik Pem­prov Banten dinilai masih lemah alias sangat nihil. Pasalnya, hingga saat ini perusahaan pelat merah tersebut be­lum juga mampu memberikan sum­bangan pada kas daerah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Banten Opar Sochari mengatakan, pendapatan daerah Pem­prov Banten saat ini masih didominasi oleh pajak kendaraan bermotor (PKB). Dari total pendapatan untuk 2018, 58 persen atau sekitar Rp 6 triliunnya dis­umbang oleh sektor pajak tersebut.

“Tahun 2017 saja pendapatan Rp 10,36 triliun, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor,red) menyumbang sekitar 58 persen. Kalau (pendapatan,red) yang lainnya dari dana perimbangan. (Pendapatan daerah di Banten) kita sudah masuk 4 besar secara nasional,” ujarnya usai menghadiri kegiatan forum perangkat daerah di ruang rapat Bapen­da Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Selasa (13/2).

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Pe­muda dan Olahraga Provinsi Banten itu menuturkan, meski sudah menunju­kan trend positif, namun pendapatan daerah masih bisa ditingkatkan. Salah satunya adalah menarik pendapatan di luar PKB seperti optimalisasi BUMD yang hingga kini belum menyumbang pendapatan daerah.

“Optimalisasi sumber lain, PT BGD (Banten Global Development, red) yang notabenenya BUMD milik Pemprov Banten itu, seharus­nya dari situ. Sekarang belum ada, mudah-mudahan ke depan ada. Bank Banten (anak perusa­haan PT BGD,red) belum, masih diobatin, masih perlu disusuin (butuh suplai pendanaan,red),” katanya.

Menurut Opar, BUMD adalah lahan pendapatan daerah yang sangat potensial. Dia mencon­tohkan, Pemprov DKI Jakarta dan Jawa Barat yang memiliki banyak BUMD dan kini men­jadi sumber pendapatan daerah yang diandalkan.

“Jawa Barat punya 130 BUMD. Siapa coba yang bangun gedung Dinas PU (saat ini sedang tahap pembangunan di KP3B,red)? (Pelaksananya) Jaya Konstruksi, itu siapa? Itu BUMD Pemprov DKI. Nilai konstruksi Rp 49 mil­iar, diatur di Keppres (Keputusan Presiden) keuntungan proyek itu 15 persen. Kita ngasih sumban­gan ke DKI Jakarta hampir Rp 6 miliar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia pun men­dukung kebijakan pembentukan sebuah BUMD untuk peningka­tan pendapatan daerah. Den­gan catatan, BUMD itu mampu bekerja secara produktif. “Dor­ong sampai ke sana, BUMD yang produktif. (Pembentukan BUMD) itu kewenangan siapa ya silakan,” tuturnya.

Sedangkan untuk upaya pen­ingkatan pendapatan daerah jangka pendek, Opar akan lebih ketat mengawasi pemasangan reklame di seluruh ruas jalan yang menjadi kewenangan provinsi. “Sudah kita coba, kita juga merevisi Perda Nomor 9 / 2011 tentang Retribusi. Misal­kan ini ada plang di pinggir jalan provinsi, ada hitungannya buat bayar pajak. Kalau sekarang be­lum optimal,” akunya.

Ketua Badan Anggaran (Bang­gar) DPRD Provinsi Banten Budi Prajogo mengatakan, selain op­timalisasi BUMD, pendapatan daerah juga bisa digali melalui pemanfaatan aset daerah. Dia mencontohkan pemanfaatan waduk atau rawa sebagai sum­ber air baku.

“Kalau dikelola dengan baik akan menjadi sumber PAD yang luar biasa. Selama ini waduk hanya untuk pengendali banjir dan pengairan pertanian. Pada­hal PDAM se-Banten dan DKI Ja­karta pasti butuh. Sekarang ada pembangunan Waduk Sindang Heula dan Karian, tapi harus disiapkan sekarang, kalau tidak, peluangnya lewat,” katanya.

Sementara, Sekda Provinsi Banten Ranta Soeharta menu­turkan, melalui forum perang­kat daerah setiap instansi harus mampu menyusun dan meme­takan potensi yang ada. Penda­patan menjadi hal yang sangat krusial karena pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah pembiayaannya diambil dari sana.

“Rencana 2019 harus meny­usun kegiatan agar sistematis dan bisa dipertanggungjawab­kan. Baik itu di RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menen­gah Daerah) maupun support­ing (dukungannya,red). Enggak bisa pembangunan berjalan kalau pendapatan enggak jalan. Alhamdulillah sekarang sudah luar biasa lah, tiap tahun naik terus,” imbuhnya. (ahmadi/made)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.