Pabrik Kosmetik Ilegal di Grogol Digerebek

Produksi Obat Gunakan Bahan Berbahaya

JAKARTA,SNOL – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap adanya pabrik kosmetik ilegal, dengan area edar seluruh Indonesia. BPOM menyita barang bukti berupa bahan baku dan kosmetik siap edar senilai Rp2,5 miliar. Seorang pelaku berinisial HS (57), pemilik ruko tiga lantai di Jalan Jelambar Utama Raya, Grogol, Jakarta Barat ditetapkan sebagai tersangka.

Kondisi pabrik kosmetik itu jauh dari kata higienis. Bahanbahan baku dicampur dalam panci sebesar tan­don air di lantai satu yang penuh sesak dengan tumpukan barang. Campuran bahan untuk krim malam dan krim siang itu ditempatkan dalam galon air yang dipotong bagian bawahnya.

Galon itu difungsikan sebagai corong untuk memasukan bahan-bahan itu ke dalam wadah lebih kecil yang siap edar. Sedangkan di lantai dua difungsikan untuk penge­masan dan lantai tiga untuk me­nyimpan kemasan kosong. Dalam sepekan bisa diproduksi tak kurang 1.300 kemasan kosmetik siap edar.

Kepala BPOM Penny Kusumas­tuti Lukito mengatakan, pabrik kos­metik itu tidak memenuhi standar mutu. Mulai dari kondisi pabrik yang tidak higienis, tidak ada tenaga ahli kosmetik yang terlibat, serta meng­gunakan bahanbahan berbahaya seperti merkuri.”Formula campurannya pakai catatan seperti ini dari kardus,” ujar Penny, Kamis (15/2). Dia menun­jukan potongan kardus usang yang di­tulisi daftar bahan beserta jumlahnya.

Di antara bahannya adalah asam stearat, gliserin, merkuri, lilin, paselin, konsentrat, dan TCA (tri chloroacetid acid). Dari pemerik­saan awal terhadap HS, produk kos­metik yang dibuat terdiri atas krim malam, krim siang, sabun cair dan padat, serta toner rambut.

Ada yang sudah dikemas dalam paket komplit disertai tas kecil merah muda dan dikemas dalam kardus. Merek yang terpasang pada kemasan antara lain HN, Natural 99, dan Ling Zhi. Ada pula yang dikemas dalam ember putih berukuran sekitar 20 liter yang juga siap jual. ”Omzetnya sekitar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per pekan. Nilai barang yang ditemu­kan saat penggerebekan sekitar Rp 2,5 miliar,” ungkap Penny.

Kepala Balai Besar POM di Ja­karta Dewi Prawitasari menambah­kan, dari pemeriksaan awal terha­dap HS, kosmetik itu telah dijual ke berbagai daerah. Bahkan ada yang dijual di mal. ”Kalau di mall yang dijual di booth itu,” kata dia.

Bukan kali ini saja BPOM menggere­bek kosmetik ilegal di kawasan Jelam­bar. Dewi mengungkapkan sekitar dua tahun lalu ada pula penggerebekan distributor kosmetik ilegal siap edar di daerah tersebut. ”Sudah siap dikirim, dijual juga secara online,” ungkap dia.

Penangkapan terhadap tersangka HS itu atas laporan masyarakat. Petu­gas lantas menyelidiki dan menggere­bek pabrik tersebut pada Rabu malam (14/2). Selain tersangka HS sebagai pemilik, petugas juga memeriksa 13 karyawan sebagai saksi.

Dari pengakuan HS, bisnis ilegal itu dijalankan sejak setahun terakhir. ”Para karyawan masuk sebelum subuh dan keluar pada malam hari sehingga tidak mudah dicurigai tetangga sekitar,” ujar seorang petugas yang turut dalam penggerebekan.

HS dijerat dengan pasal 196 dan pasal 197 UndangUndang 36/2009 tentang Kesehatan. Ancaman hu­kumannya maksimal 15 tahun pen­jara dan atau denda maksimal Rp 1,5 miliar. (jun/agm/jpg)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.