Hoaks Serangan Terhadap Ulama Menyebar

Tanda Pramuka Dikaitkan dengan Serbuan

TANGERANG, SNOL—Informasi penyerangan terh­adap para ulama di Kabupaten Tangerang menye­bar selama libur panjang Imlek lalu. Isu pertama memuat nama-nama ulama di wilayah pesisir utara yang menjadi sasaran penyerangan. Selanjutnya, beredar informasi tentang tanda silang dan tanda panah di tiang listrik di kawasan Legok yang dikait­kan dengan serbuan terhadap tokoh agama. Polisi memastikan dua kabar tersebut hoaks alias berita palsu.

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto, Minggu (18/2), mengatakan isu peny­erangan ulama di Legok men­cuat setelah tanda silang dan tanda panah muncul di tiang listrik di wilayah Desa Babat. Tanda tersebut awalnya dikira menunjukkan arah ke rumah tokoh-tokoh agama. Polisi yang mendengar kabar tersebut lang­sung melakukan penyelidikan. Maksud dari adanya tanda pa­nah dan tanda silang itu pun diketahui.

“Setelah kami lakukan penye­lidikan, tanda panah atau silang itu ternyata dibuat oleh adik-adik kita yang bersekolah di SDN Babat 1 Desa Babat,” kata Fadli.

Fadli mengaku timnya telah menemui pihak SDN Babat 1, Koramil, dan tokoh agama serta tokoh masyarakat setempat. Da­lam pertemuan itu, Kepala SDN Babat 1 memberikan klarifikasi terkait tanda panah yang ternya­ta dibuat oleh pembina pramuka sekolahnya.

“Tanda panah itu dibuat oleh pihak sekolah sebagai tanda arah atau jalan yang dipergunakan adik-adik pelajar untuk mencari jejak dalam kegiatan Persami SDN Babat 1,” sebut Fadli.

Adapun, kegiatan Persami tersebut dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2016 oleh kelas 4,5 dan 6. Sayangnya, hal itu dimunculkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai isu penyerangan terhadap para ulama.

“Kami meminta kepada masyarakat untuk tidak mem­buat isu-isu yang meresahkan masyarakat lainnya, dan jangan ter­provokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya,” ucap Fadli.

Sebelumnya, kabar menghe­bohkan terjadi di wilayah Te­luknaga, Kabupaten Tangerang. Tersiar kabar puluhan ustaz di lokasi tersebut akan menjadi target eksekusi penyerangan.

Kabar tersebut sudah terse­bar melalui jaringan media so­sial. Berisikan bahwa pelaku penganiaya ulama berhasil dia­mankan. Modusnya berpura – pura bertamu ke rumah – rumah para ustad yang menjadi target. Pelaku yang berhasil ditangkap, ditemukan daftar nama – nama ustad yang akan diserangnya.

Ada 10 ustaz yang menjadi target berlamatkan di Kampung Melayu, Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Serta 10 ustaz lain­nya di Tanjung Burung, Keca­matan Teluknaga. Bahkan nama – nama ustad serta alamatnya tertera dalam selintingan kabar tersebut.

Kapolsek Teluknaga AKP Fredy Yuda menjelaskan isu yang su­dah menyeruak tersebut meru­pakan kabar palsu. “Itu kabar hoax. Ini ada orang mudah buat sensasi dengan membuat isu itu di media sosial. Maka pemaha­man menggunakan medsos san­gat penting. Kami masih proses ini,” ujar Fredy.

Kasatreskrim Polresta Tangerang, Kompol Wiwin Set­iawan akan melakukan penge­jaran terhadap sejumlah pemi­lik akun yang menyebarkan hoaks. Tim Cyber Patrol terus mengawasi hilir mudik isu yang beredar di dunia maya. Sekali­gus, kata Wiwin, meng-counter pemberitaan tidak benar yang disebarluaskan.

“Polisi tidak segan-segan mematikan akun yang menye­barluaskan isu hoaks. Sampai sekarang sih belum ada. Un­tuk melakukannya, kami akan menggunakan Undang-undang ITE,”ujar Wiwin, Minggu (18/2).

Menurut Wiwin, penyebaran hoaks sengaja dilakukan untuk menimbulkan keresahan di kalan­gan masyarakat. Sehingga, imbuh­nya, keadaan menjadi tidak stabil.

Kapolresta Tangerang Komb­espol Sabilul Alif mengaku se­jumlah upaya terus dilakukan dalam upaya menjalin silatur­ahmi antara pemuka dan to­koh masyarakat di Kabupaten Tangerang. Sabilul berharap to­koh agama dan masyarakat dap­at bekerja sama untuk mengatasi hoaks yang beredar saat ini.

Isu penyerangan terhadap ulama muncul seiring sejum­lah kekerasan terhadap pemuka agama terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya, pe­nyerangan terhadap pimpinan Pesantren Al Hidayah, KH Umar Basri bin Sukrowi, di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. Saat ten­gah berzikir, seorang pria masuk masjid dan langsung mengania­ya Umar Basri pada 27 Januari 2018. Kemudian, tokoh Persatu­an Islam Indonesia (Persis), HR Prawoto, meninggal di rumah sakit setelah dianiaya seseorang yang diduga mengalami depresi (sakit jiwa) pada awal Februari. (mg1/jpg/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.