Daerah Diminta Sosialisasi Bahaya Policresulen

KOTA SERANG, SNOL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten meminta Dinkes kabupaten / kota di wilayah Banten untuk memberikan imbauan kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing untuk tidak menggunakan obat yang mengandung Policresulen dengan contoh Albothyl, Medisio dan Aptil. Imbauan itu penting dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kepala Seksi (Kasi) Kefarmasian dan Pangan Dinkes Banten Khania Ratnasari mengatakan, berdasarkan hasil pengkajian aspek keamanan, obat yang mengandung Policresulen dalam bentuk cairan obat luar konsentrat diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan dan penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan, sariawan dan gigi. Oleh karena itu, Dinkes mengimbau agar Dinkes kabupaten / kota memberikan imbauan kepada profesional kesehatan dan masyarakat untuk tidak menggunakan terlebih dahulu obat tersebut dalam praktek maupun untuk penggunaan sehari-hari.

“BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) membekukan izin edar produk yang mengandung Policresulen tersebut dan meminta produsen obat tersebut menarik obat tersebut di peredaran,” katanya, Senin (19/2). Oleh karenanya, produsen dan distributor farmasi harus menghormati keputusan BPOM yang membekukan izin edar hingga ada persetujuan perbaikan indikasi. “Makanya kami mengimbau agar semua obat yang mengandung polycresulen yang ada di produsen dan distributor agar ditarik,” tutur Khania.

Ia juga meminta profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut. Makanya Dinkes bersama dengan Dinkes kabupaten / kota akan melakukan pengawasan bersama ke setiap apotek dan fasilitas kesehatan lainnya yang menjual obat mengandung Polycresulen. “Bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping dari obat yang mengandung policresulen dapat menghubungi fasilitas kesehatan (faskes) setempat,” tuturnya.

Sanksi apa yang akan diberikan kepada para pemilik apotek atau toko obat lainnya yang masih menjual obat yang mengandung policresulen tersebut ? Khania enggan berkomentar banyak. Ia menyerahkannya ke Pemkab / Pemkot setempat. “Itu ranahnya kabupaten / kota, apakah dicabut izin usahanya, atau dilaporkan ke aparat penegak hukum atau seperti apa,” tuturnya.

Sementara, Kepala Dinkes Banten Sigit Wardojo mengaku, akan segera menandatangani surat imbauan kepada Dinkes kabupaten / kota terkait obat yang peredarannya dilarang tersebut. “Dalam waktu dekat ini suratnya akan kita sampaikan,” tukasnya. Soal warga Banten yang menjadi korban akibat menggunakan obat yang mengandung policresulen tersebut, Sigit mengaku hingga saat ini belum menerima keluhan dari warga. “Mudah-mudahan saja tak ada warga yang menjadi korban akibat memakai obat yang dilarang peredarannya. Makanya masyarakat harus mencari tahu obat apa saja yanh berbahaya dan boleh dipakai,” pungkasnya. (ahmadi/made)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.