Dinding Underpass Harus Dibongkar

Hasil Evaluasi Komite Keselamatan Kontruksi

TANGERANG, SNOL—Penyelidikan terhadap insiden longsor underpass Perimeter Selatan Bandara Soekarno – Hatta yang menewaskan satu penumpang mobil, Senin (5/2) lalu telah rampung dilakukan. Komite Keselamatan Konstruksi (KKK) menyatakan dinding underpass tersebut tidak ses­uai kriteria.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimoel­jono di Jakarta kemarin menyatakan KKK mereko­ mendasikan agar dinding un­derpass tersebut harus dibong­kar. Menurutnya, hasil evaluasi KKK tersebut telah disampaikan ke Kementerian Perhubungan selaku instansi terkait yang ber­tanggung jawab atas infrastruk­tur transportasi di kawasan ban­dara.

“Itu dari desainnya tidak ses­uai dengan kaidah teknisnya. Konstruksinya juga. Sehingga saya minta itu ditutup dan un­derpass itu dibongkar. Diper­baiki. Baru boleh dibuka lagi,” ungkap Basuki seusai rapat per­siapan Asian Games di Gedung INASGOC, Senayan, Jakarta, Senin (19/2).

Terkait sanksi terhadap pelak­sana proyek tersebut, Basuki menyerahkan hal itu pada Ke­menhub. “Itu (hukuman) nanti Menhub, karena itu proyek Kemenhub. Saya hanya dari Komite Keselamatan Konstruksi merekomendasikan pada Men­hub,” ujarnya seperti dilansir kumparan.com.

Namun menurut Basuki, karena kejadian tersebut sampai memakan korban jiwa, seharus­nya ada pihak yang bertanggung jawab. “Karena itu kan ada yang meninggal. Pasti ada pidan­anya. Apakah orangnya, SDM-nya, peralatannya atau SOP-nya kan,” ujar Basuki.

Dinding underpass di ja­lan perimeter selatan Bandara Soekarno-Hatta ambruk pada Senin (5/2). Peristiwa itu terjadi setelah hujan lebat, membuat dinding beton tak mampu me­nahan pergerakan longsoran tanah. Akibat peristiwa itu, dua orang yang sedang berada dalam mobil tertimbun, hingga seorang di antaranya meninggal dunia.

Insiden tersebut menarik per­hatian DPR RI. Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis kema­rin menyambangi lokasi kejadi­an. Dia mendorong kementerian terkait untuk melakukan investi­gasi dan evaluasi longsornya un­derpass Jalan Parimeter Selatan Bandara Soekarno Hatta.

“Kami ingin hasil investigasi bersifat transparan dan dibuka ke publik. Karena kami curiga pembangunan yang dituntut cepat selesai ini, berakibat pada kurang sempurnanya aspek de­sain awal, pelaksanaan, sampai pengawasan kontruksi,” kata Fary Djemi Francis saat menin­jau bekas longsor di Jalan Parim­eter Selatan di Bandara Soek­arno Hatta, Tangerang, Senin (19/2).

Menurut Fary, pihaknya san­gat menyayangkan adanya ket­erlambatan penanggulangan bencana yang hingga memakan korban jiwa tersebut.

“Jika lebih cepat saja infor­masi itu disampaikan kepada Basarnas oleh pihak bandara mungkin korban bisa tertolong,” kata politisi asal NTT ini.

Dijelaskan Farry, Komisi V DPR RI setelah masa reses akan mengadakan rapat dan memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan atas kejadian longsor di underpass Jalan Parimeter Selatan Banda­ra Soekarno Hatta, Tangerang. Politisi dari dapil NTT ini juga meminta seluruh masyarakat untuk selalu sigap dan siaga mengantisipasi kondisi sebelum datang musibah.

“Kita semua harus selalu tang­gap bencana, agar penaggulan­gan bencana dapat dilakukan secara cepat, sebagai wujud ke­siapsiagaan kita agar musibah tidak terulang kembali,” tandas­nya. (iqbal/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.