Polda Banten Tangkap Penyebar Hoakskejadian

Salah Satunya Mantan Anggota Kepolisian

SERANG, SNOL—Polda Bant­en menangkap empat orang yang diduga menyebarkan isu penyerangan terhadap ulama, melakukan penghi­naan kepada pejabat atau tokoh dan memunculkan hoaks kebangkitan PKI. Mantan anggota kepolisian yang dipecat kemudian pernah menjadi anggota Muslim Cyber Army (MCA) turut ditangkap.

Dirkrimsus Polda Banten Kombes Abdul Karim men­gatakan pelaku pertama yang ditangkap adalah seorang guru berstatus PNS, Yayi Haidar Aqua. Yayi di­tangkap pada Selasa (20/2) di Rangkasbitung, Lebak, karena menyebarkan hoax kebangkitan PKI. Tersangka menyebarkan hoax gambar kejadian di Filipina seolah-olah terjadi di Indonesia. Polda Banten bekerja sama dengan Bareskrim untuk menangkap pelaku.

Pelaku kedua yakni Wisnu Kristanto, warga Pulomerak, Cilegon. Dia ditangkap ang­gota Subdit II Ditreskrim­sus Polda Banten pada Mei 2017. Wisnu menyebarkan isu bernada SARA karena kesal terhadap Habib Rizieq Syihab yang tak taat pada proses hukum.

Lewat akun media sosial, dia menyinggung upaya perlindungan Habib Rizieq ke PBB. Wisnu sempat di­persekusi dan dipecat dari sebuah rumah sakit di Ci­legon. Ormas Cilegon yang menjadi pihak pelapor juga sudah mencabut laporan.

Selanjutnya, Satgas Siber Polda Banten juga menang­kap Zunet, warga Pandeglang. Zunet menyebarkan hoaks terkait kebangkitan PKI di wilayah Pandeglang. Pelaku berniat memprovokasi warga agar seolah-olah PKI bangkit dan segera menyerang ulama.

Zunet menyebut PKI bang­kit dan anggotanya dibayar Rp 5 juta untuk membunuh ulama. Dia menyebut ada 10 orang anggota PKI yang dise­bar di wilayah Pandeglang.

Terakhir, seorang mantan anggota Muslim Cyber Army (MCA) ditangkap di Cilegon atas tersangka Ifan Taufani. Pelaku menyebarkan keben­cian dan penghinaan terhadap Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan pemerintah.

“Tersangka melakukan uja­ran kebencian hoax terhadap Panglima TNI Marsekal Hadi melalui Facebook sebanyak 6 kali melalui akun Ifan Taufani Al Fath,” kata Abdul Karim di kantornya, Kota Serang, Jumat (2/3).

Pelaku, kata dia, sudah menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk restor­ative justice. Namun, pelaku masih dalam pengawasan Dittipidsiber Bareskrim Polri.

Ifan Taufani (49) mengakui perbuatannya dan menyam­paikan permintaan maaf. Ifan merupakan mantan anggota grup WhatsApp Muslim Cyber Army (MCA) selama 2 bulan.

“Benar bahwa saya mem-posting di konten FB (Face­book) penghinaan terhadap Panglima TNI dan pejabat negara. Saya bersalah dan menyesal dan ingin menyam­paikan permintaan maaf dan tidak akan mengulangi per­buatan hoax,” kata Ifan kema­rin.

Pelaku melakukan ujaran kebencian terhadap Panglima TNI sebanyak 6 kali melalui akun Facebook bernama Ifan Taufani Al Fath. Polda Banten dan Dittipidsiber Bareskrim Polri pada Januari 2018 lalu melakukan penyelidikan ter­hadap akun ini.

Sebelum bergabung di grup MCA, Ifan mengaku bertugas sebagai anggota kepolisian di Polsek Malingping dengan pangkat terakhir adalah ajun inspektur polisi satu (aiptu). Namun karena alasan mang­kir, ia mengaku kemudian dipecat dari kepolisian pada 2015.

Ifan mengaku bergabung dengan grup MCA karena diundang orang tak dikenal. Begitu ditangkap polisi, akun Facebook Ifan diselidiki. Ifan pun langsung dikeluarkan dari grup MCA.

“Semenjak itu (ditangkap), saya dikeluarkan,” katanya.

Ifan mengaku di dalam grup terbatas tersebut, dirinya tak memperhatikan apakah ada tokoh tertentu. Namun, di dalamnya ada anggota dari berbagai daerah dan tak sal­ing bertemu.

Dari grup WhatsApp MCA tersebut, ia mengaku menye­barkan kebencian melalui Facebook. Motifnya, ia men­gaku hanya menyukai konten perbincangan dan menyebar­kannya melalui media sosial.

“Motifnya saya tidak ada, motif hanya like-share, like-share,” katanya.

Dirkrimum Polda Banten Kombes Onny Trimurti Nu­groho mengatakan hoaks yang disebarkan membuat ma­syarakat resah dan termakan isu penyerangan ulama. Ada 4 kasus pengeroyokan terhadap orang gila yang tiap kasusnya terjadi di tempat berbeda, yakni Kota Serang, Lebak dan Pandeglang.

“Di sini korbannya adanya konten provokatif sehingga ODGJ tahu-tahu diserang. Mereka (warga) mungkin an­tisipasi,” kata Onny di Mapol­da Banten, Kota Serang, Jumat (2/3).

Onny mengatakan, dalam empat kasus tersebut, orang gila yang dipersekusi dipasti­kan benar-benar mengalami gangguan jiwa. Di antara ko­rban tersebut, ada orang gila bernama Wahyu yang dituduh anggota PKI hingga akhirnya diamuk massa.

Menurutnya, isu penyeran­gan ulama dan kebangkitan PKI disebarkan untuk mem­pengaruhi opini publik. Isu ini juga memprovokasi warga sehingga menganiaya orang gila.

“Kesimpulannya bentuk reaksi daripada hoaks yang terjadi di wilayah kita,” ujar Onny. (ahmadi/bnn/gatot)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.