“Impor” Dua Bakteri Perusak Ditangkal

BANDARA, SNOL—Balai Besar Karanti­na Pertanian (BBKP) Soekarno-Hatta kembali menemukan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Golongan A1 pada komo­ditas pertanian yang masuk melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Bakteri yang ditemu­kan adalah Pseudomonas Firidiflava yang terbawa media pembawa bibit sawi putih asal Korea Selatan dan To­bacco Streak Virus (TSV) yang terba­wa oleh media pembawa biji kedelai asal Kanada.

Kepala Balai BBKP Bandara Soetta Eliza Suryati Roesli menjelaskan dua jenis bakteri ini belum pernah dite­mukan di wilayah Indonesia dan jika tersebar pada tanaman inang dapat merusak produksi tanaman tersebut. Adapun media pembawa tersebut antara lain sebanyak 300 kilogram bibit sawi putih yang diimpor oleh PT East West Seed diamankan pada Senin (15/1) lalu. Sementara 1 kilo­gram biji kedelai diimpor oleh PT Ex­indo Karsa Agung diamankan pada Kamis (18/1).

“Kedua jenis media pembawa ini telah disiapkan Sertifikat Phytosani­tary dari negara asal oleh para im­portir, “ujarnya.

Namun begitu, lanjut dia sesuai SOP, karantina Soekarno-Hatta tetap wajib melakukan tindakan pemeriksaan karan­tina terhadap media pembawa tersebut.

“Dan ternyata terbukti hasil dari pemeriksaan laboratorium, positif ditemukan bakteri Pseudomonas Viridiflava dan Tobacco Streak Virus (TSV) pada media pembawa terse­but,” kata Elizabeth.

Selanjutnya menurut Elizabeth jika tidak dilakukan pemeriksaan melalui lab pihaknya tidak mengatakan bak­teri ini akan berdampak buruk.

“Seperti saat ini, andai kami tidak lakukan pemeriksaan lab, karena merasa sudah ada phytosanitary maka bisa dibayangkan bagaimana dampaknya, bakteri berbahaya yang belum ada di Indonesia dapat meru­gikan produksi pertanian petani kita. Sungguh fatal bukan” tambahnya.

Dia melanjutkan media pembawa bakteri tersebut pun dimusnahkan dengan cara dibakar di Incenerator BBKP Bandara Soetta. Pada pemus­nahan kali ini turut dimusnahkan 401,15 kg media pembawa HPHK dan 7,2 kg Media Pembawa OPTK yang masuk secara illegal dan tidak dilengkapi dokumen karantina.

“Komoditi pertanian yang di­musnahkan kali ini merupakan peri­ode penahanan Januari dan Februari 2018,” jelasnya.

Secara ekonomis, Eliza menerang­kan bahwa 300 kg bibit sawi putih ini dapat ditanam untuk 600 ha lahan dengan produktivitas 60 ton per hek­tar. Jadi BBKP Soetta dapat menyela­matkan 36.000 ton sawi hasil petani Indonesia. Dengan estimasi harga pasar saat ini, BBKP Bandara Soetta mencegah kerugian sebesar Rp 252 miliar.

“Terlebih lagi jika bibit sawi putih ini diperuntukkan menjadi indukan tanaman. Berapa akumulasi keru­gian yang harus ditanggung petani kita, jelasnya,” ungkapnya.

Untuk diketahui, OPTK Golongan A1 adalah bakteri tumbuhan ber­bahaya yang belum pernah ditemu­kan di Indonesia dan tidak dapat dibebaskan dengan cara perlakuan Karantina. (iqbal/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.