Lahan Tol Serbaraja Terganjal di 7 Desa

TIGARAKSA, SNOL—Pembe­basan lahan proyek tol Ser­pong – Balaraja (Serbaraja-red) menemui kendala. Sejumlah pemilik lahan di tujuh desa yang terkena im­bas pembangunan proyek tol tersebut masih ke­beratan. Alasan keberatan­nya bermacam-macam. Diantaranya proyek akan menggusur makam kera­mat hingga lapangan golf.

Tol Serbaraja akan mele­wati 32 desa. Kasi Pengadaan Tanah BPN Kabupaten Tangerang Sugiyadi men­gatakan BPN masih melaku­kan verifikasi dan identifi­kasi pembebasan lahan tol tersebut. Semestinya, kata Sugiyadi, proses tersebut telah selesai akhir Februari 2018. Namun karena adanya keberatan sejumlah pemilik lahan maka proses verifikasi dan identifikasi belum ram­pung.

“Setelah verifikasi dan identifikasi, semestinya akan ada pengumuman bersamaan dengan desa lainnya. Namun proses itu belum selesai dari sebe­ lumnya dijadwalkan untuk bisa diumumkan Februari kemarin,”kata Sugiyadi kepada Satelit News, Rabu (7/3).

Sugiyadi menjelaskan se­banyak 4.011 bidang tanah direncanakan akan terkena proyek tol Balaraja-Serpong. Hingga kemarin, BPN baru menyelesaikan proses verifi­kasi dan identifikasi terhadap 2.636 bidang saja. Sisanya, kata Sugiyadi, masih terus menung­gu hasil rapat bersama dengan Kementerian PUPR RI.

“Dari 32 desa yang akan di­lalui, baru 26 desa yang ram­pung diumumkan. Tujuh desa lainnya masih menunggu hasil rapat bersama dengan kemen­terian PUPR RI. Apakah nanti­nya akan ada perubahan atau masih akan mengikuti gambar detail engineering design yang lama,” kata Sugiyadi.

Menurut Sugiyadi, verifikasi dan identifikasi yang terham­bat diantaranya di Desa Pasir Nangka, Desa Pasir Bolang, Desa Tapos, Desa Cisereh, Desa Cileles, Desa Pete dan Desa Pematang. Seluruhnya berada di Kecamatan Tiga­raksa.

Di desa Pasir Nangka dan Pa­sir Bolang, penolakan datang dari pabrik. Sementara di Desa Tapos, keberatan dilayangkan pemilik lahan Takara Golf. Se­dangkan untuk Desa Cisereh, Desa Cileles, Desa Pete dan Desa Pematang, imbuh Sigi­yadi, hal itu disebabkan dam­pak pergeseran sebelumnya sehingga perhitungan sudut jalur tol masih terus dilakukan.

Menurut Sugiyadi, pembe­basan lahan dilakukan untuk keperluan pembangunan ruas jalan tol Serpong – Balaraja berikut akses menuju pintu masuk tol atau Interchange-nya.

Oleh karena itu, imbuh Sugi­yadi, pihaknya berharap ke­pada seluruh pihak untuk ikut mensukseskan program pem­bangunan tol yang bertujuan menekan kemacetan di ruas jalan nasional.

Menurut Sugiyadi, peruba­han letak pembangunan pada suatu titik di sepanjang jalur tol, hal itu akan berdampak pada pergeseran titik lainnya. Akibatnya, pembangunan tol Balaraja-Serpong yang ren­cananya untuk mengurai ke­macetan di sepanjang jalan pr­otokol yang selama ini terjadi dikhawatirkan akan terancam lambat dikerjakan.

Disinggung mengenai harga tanah, Sugiyadi menyatakan persoalan tersebut menjadi urusan tim appraisal. “Kalau urusan harga tanah yang akan dibebaskan itu bukan urusan BPN. Namun, ada pada tim apraissal Satgas B,” katanya.

Sugiyadi meminta agar pihak yang keberatan terhadap pem­bebasan lahan mengirimkan surat protes kepada Kementri­an PUPR RI selaku perencana program tol tersebut. “Kalau ada keluhan dan keberatan akibat lahannya terkena gu­suran, silahkan tanyakan lang­sung ke Kementerian PUPR RI langsung,” katanya.

Sementara itu, Ketua RT RW 01/01 Desa Cisereh Keca­matan Tigaraksa Madrohim mengungkapkan pihaknya keberatan dengan proyek tol Serpong-Balaraja. Proyek tersebut, kata Madrohim, akan menggusur makam keramat di wilayah tersebut.

Menurut Madrohim, ke­beradaan makam keramat di Desa Cisereh Anyon telah ada sejak lama dan kerap dijadikan tempat oleh para peziarah baik dari daerah sekitar maupun dari luar daerah.

“Warga keberatan kalau makam keramat ini digusur. Karena didalamnya terdapat sesepuh dari Desa Cisereh sini. Antaranya makam Buyut Tunggal, makam Ratu Siti Ai­syah, makam Muhammad Firdaus, makam Abah Ma­nahong, makam Haniyatul Firdaus,” katanya.

Madrohim mengaku, pi­haknya pun telah berkoordi­nasi ke Kementerian PUPR RI agar rencana pembebasan la­han yang melalui makam kera­mat yang ada di Desa Cisereh Anyon bisa diubah. Ddengan begitu, kata Madrohim, ke­beradaan makam yang diang­gap keramat oleh warga sekitar tersebut bisa terus berlang­sung keberadaannya ke depan.

“Kita sudah berkoordinasi agar pembangunannya tidak mengenai makam keramat Cisereh ini,” tandasnya.

Jalan tol Serpong – Balaraja akan dibangun sepanjang 39,82 kilometer di atas lahan seluas 437,57 hektare dengan jumlah bidang tanah sebanyak 4 ribu. Daerah terkena dam­pak pembangun jalan tol Ser­baraja meliputi, Kelurahan Ci­lenggang, Kecamatan Serpong Kota Tangerang Selatan.

Sementara di Kabupaten Tangerang terdapat 32 Desa dalam 8 Kecamatan yang ter­dampak pembangunan Tol Serbaraja. Yakni, desa Sampo­ra di Kecamatan Cisauk, Desa Pagedangan, Desa Situ Ga­dung, Desa Kadu Sirung, Desa Jatake, Desa Malang Nengah di Pagedangan, Desa Ciracab, Desa Caringin, Desa Bojong­kamal, Desa Palasari di Legok, Desa Mekar Jaya, Desa Ser­dang Kulon, Desa Ranca Iyuh, Desa Ranca Kalapa di Panon­gan, Desa Ancol Pasir, Desa Ranca Buaya, Desa Kutruk, Desa Tipar Raya, Desa Jambe, Desa Pasir Barat di Kecamatan Jambe dan Desa Munjul dan Desa Pasanggrahan di Solear. Selain itu, Desa Jeungjing di Kecamatan Cisoka juga terke­na pembebasan lahan.

Sementara Kecamatan Ti­garaksa adalah wilayah paling banyak desa terdampak pem­bangunan tol Serbaraja yang mencapai 9 desa, Desa Ban­tar Panjang, Desa Tapos, Desa Cileles, Desa Pete, Desa Tegal­sari, Desa Pematang, Desa Cis­ereh, Desa Pasir Nangka dan Desa Pasir Bolang. (mg1/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.