Satpol PP Gerebek Sarang Prostitusi

CIPONDOH, SNOL—Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tangerang merazia satu unit rumah yang disewakan untuk praktik prostitusi di Jalan Panglima Polim, RT01/03 Kelurahan Poris Plawad Utara, Cipondoh. Rumah tersebut digunakan pekerja sekes komersial (PSK) yang mangkal di terminal Poris Plawad.

Rumah tersebut diketahui milik Maemunah. Dia menyewakan kamarnya seharga 50 ribu rupiah se­tiap kali digunakan PSK.

Kasatpol PP Kota Tangerang Mumung Nurwana membenarkan ihwal penangkapan tersebut. Menurut dia adanya penggerebekan itu dilaku­kan setelah petugas mendapatkan informasi dari warga sekitar yang mulai resah.

“Kita mendapatkan informasi dari masyarakat yang resah karena sering adanya pekerja seks komersial yang mangkal di wilayah tersebut, akhirnya kita lakukan pengecekan,”ujarnya pada Satelit News, Kamis (8/3).

Mumung melanjutkan setelah mendapatkan informasi pihak Satpol PP melakukan penyelidi­kan. Sebelum membongkar praktik tersebut, Sat­pol PP melakukan penyamaran terlebih dahulu. Mereka mendatangi warung yang digunakan se­bagai tempat mangkal PSK. Di sana, ditemukan dua wanita diduga PSK yang menawarkan jasa.

“Tim kami ke warung yang ada di sana (Terminal Poris) melakukan penyamaran, kemudian ada dua wanita yang menawarkan jasa. Wanita diduga PSK tersebut mengajak petugas yang menyamar ke se­buah rumah kontrakan di RT 01/03, Kelurahan Po­ris Plawad Utara, Kecamatan Cipondoh,” jelas dia.

Dalam sekali menggunakan jasanya, lanjut Mu­mung, PSK tersebut hanya menarifkan Rp 50.000 sekali berkencan. Saat merazia tempat kontrakan tersebut, ditemukan satu pasangan mesum yang tengah melakukan perbuatan asusila.

“Ada lima orang yang kita amankan ke Mako Sat­pol PP Kota Tangerang, yakni dua wanita diduga PSK, satu pasangan mesum, dan pemilik kontrakan. Kami akan menutup tempat tersebut agar tidak ada lagi praktik prostitusi di wilayah ini,” ujarnya.

Ketua RT 01/03 mengatakan pemilik rumah tersebut sebelumnya bukan merupakan warga asli Kelurahan Poris Pelawad Utara. Dirinya juga mengaku rumah tersebut sebelumnya pernah di­tutup oleh camat Cipondoh waktu itu.

“Dulu dia orang (Poris) Plawad, pindah kesini pas jaman Pak Sachrudin masih jadi Camat. Dulu mah dia ada warung, nah digerebek sama Satpol PP juga, didalem nya ada botol minuman dua krat, akhirnya disegel,” ujar Samin saat disam­bangi Satelit News di kediamannya, Kamis (8/3).

Dia melanjutkan meskipun sering ditegur oleh warga dan juga aparat daerah, Mae, panggilan akrab Maemunah, masih tetap nekad membuka tempat prostitusi tersebut. Bahkan menurut dia Mae sempat membuka tempat bermain Bilyard.

“Abis disegel, dia buka usaha Biliard, rame rumahnya, banyak yang datang. Akhirnya tetang­ga juga resah tapi masih kita biarin asal engga ada minuman keras dan perempuan, “ujarnya.

Namun begitu, kata Samin, lantaran resah, warga setempat pun menutup kegiatan biliard tersebut hingga akhirnya petugas Satpol PP Kota Tangerang kembali merazia rumah Mae.

“Ini juga kita kurang tahu kalau dia ngontrakin ka­mar, cuma memang kalau malem sering keluar masuk orang, kita mah ngiranya temennya aja gitu,” ujarnya.

Samin mengungkapkan, Ibu Mae memiliki empat anak dimana seluruh anak, ibu, dan cucu­nya tinggal di rumah tersebut. Penyewaan kamar tersebut dilakukan meski ada seorang bayi tinggal di rumah tersebut.

“Dia salah satu anaknya juga dipenjara, ditang­kapnya di rumah itu juga, kasus narkoba. Bayi yang ada di rumahnya itu cucu dari anaknya yang dipenjara,” ujarnya. (iqbal/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.