59 Anak Derita Gizi Buruk

SERPONG,SNOL— Sebanyak 59 anak di Kota Tangerang Sela­tan (Tangsel) mengalami gizi buruk disertai penyakit lain, seperti penyakit jantung bawaan, tubercolusis paruparu, down syndrome, dan cerebal palsy. Ini merupakan data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tang­sel sejak Januari hingga Februari 2018.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Tangsel, Iin Sofiya­wati menuturkan, gizi buruk ini diderita oleh masyarakat ber­taraf hidup ekonomi kelas me­nengah ke bawah. Dari 59 anak yang mengalami gizi buruk, ada 26 anak yang lulus setelah diintervensi dengan pendampingan.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya tengah berupaya me­nekan angka gizi buruk dengan cara pendampingan dan kun­jungan ke rumahrumah yang dilakukan petugas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat.

“Sampai dengan Februari 2018, masih ada 33 anak masih mengalami gizi buruk yang disertai penyakit lainnya, seperti jantung bawaan, Tuber­colusis (TB) paruparu, down syndrome, dan cerebal palsy. Pendampingan dan kunjungan ke rumahrumah ini dilakukan seminggu sekali,” terang Iin melalui pesan singkat, Selasa (13/3).

Jumlah anak penderita gizi bu­ruk ini tidak sebanding dengan jumlah di kota dan kabupaten lain di Provinsi Banten. Meski jumlah penderita gizi buruk yang terbilang sedikit, pihaknya tetap berkomitmen untuk meningkatkan layanan kesehatan masyarakat Kota Tangsel.

“Kami pastikan terus memberikan asupan gizi terbaik untuk 59 anak penderita gizi buruk ini. Oleh karena itu, peran petugas Puskesmas di 54 kelurahan dan tujuh kecamatan di Kota Tangsel ini sangat penting dalam mene­kan angka penderita gizi buruk, terlebih korbannya masih anak-anak,” terangnya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Tangsel, Ahmad Syawqi mema­parkan, butuh kerjasama yang aktif dari para orang tua dan tenaga kesehatan setempat. Terka­dang pemahaman para orang tua terhadap penyakit gizi buruk masih minim. Ia berharap, dari jumlah tersebut, pihak Dinkes Kota Tangsel dapat menekan angka gizi buruk.

“Orang tua tidak mengetahui tandatanda atau gejala gizi buruk. Diperlukan peran ak­tif para orang tua dan tenaga kesehatan. Selain itu, program gizi dan pendataan dari bawah ke atas juga perlu ditingkat­kan. Terkait sosialisasi, bukan hanya ke para ahli gizi dan staf Puskesmas. Pemahaman juga perlu disampaikan kepada para orang tua sehingga dapat diketahui jika ada gejala gizi buruk,” tandas Syawqi yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda In­donesia (KNPI) Kota Tangsel ini. (mg2/jarkasih)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.