Pabrik Ciu Berkedok Tauco Digerebek

MUI Apresiasi Langkah Kepolisian

SEPATAN, SNOL—Pabrik ilegal minuman keras jenis ciu mi­lik Tju Ji Hin bebas beropera­si selama enam tahun di Pe­rum Prima, Kampung Karet, Kecamatan Sepatan, Kabu­paten Tangerang. Berkedok sebagai pembuat bumbu tauco, Tju Ji Hin leluasa memproduksi ratusan botol minuman keras tradisional tersebut setiap minggunya.

Wakapolres Metro Tangerang, AKBP Harley H Silalahi di lokasi, Senin (19/3) mengatakan Tju bekerja sendirian. Pelaku memasarkan produk terse­but dengan cara dimasuk­kan ke dalam kemasan botol ukuran 600 mililiter. Dalam seminggu ia bisa membuat ratusan botol ciu.

“Ciu tersebut dijual oleh tersangka dengan harga Rp. 15.000 per botol. Pelaku ini hanya bekerja sendiri, tidak ada yang membantu. Keun­tungan bersih mencapai Rp 4 juta per bulan dengan pasar penjualan meliputi Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan,”ungkap Harley.

Tju leluasa memproduksi ciu home karena kawasan Perum Prima memang sepi. Sehingga, tersangka memil­ih kawasan tersebut untuk menjadi pabrik pembuatan ciu.

“Pabrik ini sudah ada sejak tahun 2012,” ungkap Harley.

Terungkapnya pabrik ciu ilegal tersebut berkat infor­masi dari warga sekitar. Poli­si yang menerima informasi itu, langsung bergegas melakukan penggerebekan.­

“Saat kita menggerebek, ter­sangka sedang melakukan pem­buatan ciu, minuman keras tradisional itu,” paparnya.

Atas perbuatannya, tersangka disangkakan dengan Pasal 196 dan Pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan Pasal 106 UU RI Nomor 7 Ta­hun 2014 tentang perdagangan dan Pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Kon­sumen dengan ancaman maksi­mal 15 tahun penjara.

Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Tangerang menga­presiasi tindakan kepolisian membongkar praktik pembua­tan ciu. Ketua MUI Kabupaten Tangerang KH Ues Nawawi mengatakan masyarakat jangan sampai terjebak hingga meng­konsumsi miras.

“Tentu kita apresiasi langkah kepolisian dan kita juga ber­harap jangan sampai kita terje­bak dengan khamer,” ungkap dia saat dihubungi kemarin.

Menurut Ues, pembuat miras tradisional tersebut terbilang li­hai karena berhasil mengelabui masyarakat, pemerintah dan aparat kepolisian selama 6 ta­hun. Modus pembuatan pabrik Tauco mampu mendukung produksi barang haram terse­but.

“Dengan adanya hal seperti ini dan kita bisa terkelabui itu termasuk pintar. Dan kita harus bisa lebih jeli lagi dalam melihat kedok mereka yang mau meru­sak generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Ues mengaku dalam hal ini Miras merupakan pintu bagi se­luruh kemaksiatan yang terjadi. Menurut Ues dengan adanya upaya pemberantasan penyakit masyarakat ini dapat menjadi langkah baik dalam pencega­han.

“Dan masyarakat juga jangan sampai lengah. Tentu kita harus berantas minuman keras yang menjadi penyakit masyarakat ini. Jangan pernah takut untuk melaporkan hal ini pada pemer­intah maupun aparat sipil. Dan bagi kaum muda jangan pernah coba coba miras atau narkoba yang jelas akan membuat kecan­duan dan juga rusak moral kita,” tukasnya. (iqbal/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.