Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi

Setiap Bulan Selalu Ada yang Melapor

KOta SeRaNG, SNOL – Kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Banten hingga saat ini masih tinggi. Itu terbukti dengan banyaknya lap­oran yang disampaikan masyarakat baik ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) maupun Dinas Pemberdayaan Perempuan Per­lindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AK­KB) Provinsi Banten. Bahkan pelakuknya ada yang sudah dipros­es oleh aparat kepolisian.

“Ya, memang setiap bulan ada saja yang lapor ke kita terkait du­gaan kekerasan terhadap anak,” kata Kepala DP3AKKB Banten, Sitti Ma’ani Nina usai launching Per­lindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di Pendopo Gubernur Banten KP3B, Curug, Kota Serang, Jumat (23/3).

Dikatakan Nina, mayoritas orang yang melakukan kekerasan terh­adap anak justru keluarga terdekat, karena anak sering bersinggun­gan dengan yang bersangkutan. Keluarga terdekat misalnya ayah, ibu, bibi, paman, nenek, kakek dan lainlain. “Makanya masyarakat juga jangan tinggal diam,” pa­parnya. Saat disinggung jumlah kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Banten dari Januari hingga Maret 2018 ini yang di­laporkan ke DP3AKKB Banten, Nina enggan berkomentar ban­yak. “Memang datanya ada di kantor,” paparnya.

Saat disinggung upaya yang dilakukan oleh DP3AKKB Ban­ten untuk meminimalisir ting­ginya kekerasan terhadap anak di wilayah Banten, Nina men­gaku terus melakukan sosial­isasi kepada masyarakat untuk terus peduli terhadap anak dan masyarakat juga dituntut un­tuk mencegah dan melapor ke aparat yang berwajib. “Jadi se­mua elemen harus peduli terh­adap anak,” tuturnya.

DP3AKKB Banten juga, kata Nina, melaunching Perlind­ungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). PATMB merupakan sebuah gerakan dari jaringan atau kelompok warga pada tingkat masyarakat yang bekerja secara terkoordinasi un­tuk mencapai tujuan perlind­ungan anak. “Ini adalah respon cepat terkait dengan pencegahan kekerasan terhadap anak, kita bantu dorong kabupaten/ kota layak anak, menuju Provinsi Ban­ten yang layak anak,” kata Nina.

Menurutnya, melalui PATBM ini persoalan kekerasan terhadap anak bisa dihilangkan serta berkurang­nya faktor-faktor penyebab per­masalahan dan resiko-resiko kek­erasan terhadap anak yang telah atau mungkin terjadi, baik pada anak, keluarga, dan masyarakat.

“Maka sasaran dari kegiatan ini adalah anak, orangtua, kelu­arga, dan masyarakat yang ada di wilayah PATBM dilaksana­kan,” ujar Nina seraya menye­butkan selain instansi pemerin­tah banyak unsur yang terlibat dalam kegiatan ini seperti tokoh agama, penegak hukum, forum anak, lembaga layanan keseha­tan dan sebagainya.

Sementara, Gubernur Banten Wahidin Halim menegaskan, banyaknya kasus kejahatan ter­hadap anak yang saat ini terjadi, tidak terlepas dari kurangnya perhatian orangtua terhadap anak. Selain menjadi korban aneka kejahatan, anak pun ban­yak mengalami hal buruk aki­bat lengahnya orangtua dalam mengawasi aktivitas anak. Un­tuk itu Gubernur berharap agar orangtua, khususnya ibu, agar sepenuhnya mencurahkan per­hatiannya kepada anak.

“Anak itu tergantung kepada pendidikan keluarga. Kalau emak-nya kerja, bapaknya kerja, kadang-kadang emak-nya selfie terus, anak lari-lari kemana-mana jangan harap jadi sesuatu. Gara-gara banyak selfie anaknya nyebur ke kali. Jangan banyak selfie, perhatikan anak,” pinta Wahidin Halim

Menurutnya, perhatian serta kasih sayang sangat penting bagi anak. Bukan hanya untuk men­jaganya dari tindakan kejaha­tan dan hal-hal buruk, namun juga untuk tumbuh kembang serta masa depan anak tersebut. “Coba, bangun hubungan komu­nikasi. Paling penting hubungan keluarga. Penuhi kasih sayang­nya. Kenapa tidak kita yang didik, kenapa tidak kita berikan kasih sayang. Emak-nya kerja, diserah­kan ke asisten rumah tangga. Kita tidak tahu dikasih apa anak kita. Kita tidak tahu susu yang kita beli benar-benar diberikan kepada anak kita atau tidak,” ucap WH.

Saat masih kecil, pria yang ker­ap disapa WH itu mengaku tum­buh di tengah perhatian yang san­gat besar dari kedua orangtuanya. Ibunya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, dan ayahnya se­orang guru. Hal ini membuatnya tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

“Saya bahagia, dibesarkan oleh ibu yang tidak bekerja, ayah seorang guru. Setiap hari saya hidup bahagia, meski saya susah, kadang makan dua hari sekali. Tidur satu tempat bareng. Nimba di sumur bareng, tidak pernah putus hubungan setiap hari. Makan bareng, nggak ma­kan juga bareng. Komunikasi terbangun,” ucapnya.

PATBM ini sendiri menurut Wahidin merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mem­berikan perlindungan kepada anak yang ada di Banten. Na­mun menurutnya, program-pro­gram pemerintah tetap memer­lukan dukungan masyarakat. “Saya sudah bilang ke Bu Nina (Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana) untuk terus mem­buat program perlindungan anak, tapi harus yang konkret,” pintanya. (ahmadi/made)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.