Kosmetik Senilai Rp 5,4 Miliar Disita

Didatangkan dari Filipina Tanpa Izin

SERANG, SNOL—Balai Pen­gawas Obat dan Makanan (BPOM) Serang menyita ribuan dus kosmetik ilegal yang akan didistribusikan ke seluruh wilayah Indone­sia. Barang tak berijin seni­lai 5 miliar rupiah lebih itu diduga didatangkan dari Filipina.

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito mengatakan ri­buan dus kosmetik terse­but disita pada hari Min­ggu (25/3) pukul 12 malam. Saat itu, truk kontainer yang membawa kosmetik illegal dari Pulau Sumatera sedang berhenti di SPBU Jabal Nur di sekitar Wilayah Merak.

“Kemudian dibawa ke Ba­lai Karantina BPOM di Serang, setelah kita bawa ke balai karan­tina, kita buka segel dan ditemu­kan produk kosmetik ini, den­gan nilai sampai dengan Rp5,4 Miliar,” kata Penny di kantor BPOM di Serang, Selasa (27/3).

Dari dalam mobil truk dengan nomor polisi BM 830 RY terse­but, petugas menemukan kotak-kotak yang memuat kosmetika llegal merek RDL HY Roquinone Tretinoin Baby Face sebanyak 1.055 karton atau 120 pieces dus.

“Produk llegal tersebut dike­mas ke dalam karton-karton polos yang hanya bertuliskan tanggal kedaluwarsa dan diser­tai lembar surat jalan. Kosme­tik ini termasuk sebagai produk ilegal dan mengandung bahan dilarang,” ungkapnya.

Selain itu, kosmetik ini pun sangat berbahaya untuk digu­nakan. Pasalnya, bisa menye­babkan iritasi pada kulit. “Ini kan untuk menghilangkan jer­awat dan pemutih, bahaya jika pemakaiannya tanpa dengan re­sep dokter akan menyebabkan iritasi pada kulit, bahkan bisa menyerang ginjal,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan, ber­dasarkan penelitian sementara, BPOM menemukan sejenis ba­han kimia berbahaya yang ter­kandung dalam kosmetik terse­but. Diantaranya hidrokuinon dan tretionin.

“Artinya belum terjamin dari aspek kemananan, mutu dan manfaat dari produk ini. Bahkan produk ini mengandung bahan yang berbahaya, hidrokinon dan tretionin yang keduanya dila­rang di kosmetik,” terangnya.

BPOM juga masih menelu­suri produsen kosmetik tersebut dari hulu sampai hilir. Sebab menurut Penny, meski produk tersebut berasal dari negara tet­angga, namun tidak menutup kemungkinan, kosmetik terse­but diproduksi di dalam negeri.

“Tapi kita pasti telusuri kem­bali karena bisa jadi meski im­portnya dari negara tetangga tapi produksinya dari Indone­sia. Kosmetik ini penggunan­ya cukup tinggi. Ini yang kita khawatirkan. Dari sisi lain kita juga merasa dirugikan karena produk ini ilegal dan tanpa pa­jak,” tegasnya.

BPOM pun akan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan in­stansi terkait lainnya untuk terus melakukan proses investigasi kepada pemilik dan penang­gung jawab produk tersebut.

“Ini pelanggaran terhadap pasal 196 dan pasal 197 UU No 36 tahun 2009 tentang kesehat­an, dimana mendistribusikan produk sediaan farmasi jenis kosmetika tanpa izin edar dan mengandung bahan dilarang dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar,” tegasnya.

Sementara itu, untuk sang sopir pengangkut barang ilegal tersebut, telah dilakukan pemer­iksaan oleh petugas BPOM dan berstatus saksi. Sampai pemilik dan penanggung jawab barang tersebut berhasil diungkap.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, Babar Suwarso mengatakan, kosmetik tersebut disita lantaran mengandung bah­an yang berbahaya bagi kesehatan.

“Dua zat itu digunakan untuk obat, sementara kalau kosmetik sangat terbatas kandungan yang diperbolehkan, sehingga tidak boleh diedarkan sembarangan, kenapa tidak ada izin edarnya, karena berbahaya,” kata Babar.

Ia menegaskan, setelah dia­mankan, pihaknya bersama instansi terkait akan menin­daklanjuti temuan kosmetik berbahaya tersebut, lantaran dikhawatirkan sudah beredar di beberapa wilayah di Banten.

“Di Banten belum ada, cuma ini harus ditindaklanjuti, teruta­ma khawatir disalahgunakan di rumah kecantikan, kita bersama Dinkes dan BPOM segera me­nyisir tempat kosmetik, toko ke­cantikan dan toko obat,” pung­kasnya. (ahmadi/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.