Pak RT Minta Dihukum Ringan

Saat Sidang Lanjutan Pembacaan Pledoi Kasus Persekusi

TANGERANG, SNOL—Keenam terda­kwa kasus persekusi terhadap sejoli di Kecamatan Cikupa beberapa waktu lalu menangis saat membacakan nota pembelaan atau pledoi atas tuntutan jaksa, saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Tangerang, Kota Tangerang, Selasa (3/4). Komarudin, Ketua RT salah satu terdakwa yang di­tuntut 7 tahun bui dalam pleidoi-nya meminta maaf dan minta dihukum ringan.

Pantauan wartawan, keenam terda­kwa memasuki ruang sidang 5 dengan mengenakan rompi tahanan berwarna kuning Saat memasuki ruang sidang, para terdakwa hanya tertunduk. Mer­eka langsung duduk di bangku bari­san paling depan menunggu sidang dimulai. Sidang yang berlangsung se­jak pukul 14.00 hingga 18.00 tersebut dipimpin oleh Majelis Hakim, Muham­mad Irpan. Dalam prosesnya, sidang berlangsung penuh haru lantaran para terdakwa memohon agar tuntutan yang jatuh pada mereka dapat diringankan dengan alasan keluarga.

Tangis mulai pecah saat salah satu terdakwa, Ketua RT, Komarudin mem­bacakan pledoi dengan tangan gemetar dan menangis. Dia memohon keringa­nan atas kesalahan yang telah diper­buat. Pihaknya juga bercerita tentang amanah sebagai RT yang ia emban, yang dianggapnya sebagai tugas yang mulia.

“Saya meminta maaf kepada korban, saya memohon keringanan hukuman kepada yang mulia. Saya meminta per­timbangan, apalah jadinya keluarga dan keberlangsungan sekolah anak-anak saya yang jelas penghasilan saya amat mereka nantikan,” kata Komarudin.

Senada dengan ketua RT, Ketua RW yakni, Gunawan Saputra juga menangis yang turut menginginkan keringanan hukuman, demi pertimbangan nafkah yang harus ia cukupi untuk keluarga.

Pledoi dibaca secara berurutan oleh tiap terdakwa yakni diawali oleh Ketua RT Komarudin, Ketua RW Gunawan Sa­putra, warga bernama Iis Suparlan, An­war Cahyadi, Suhendang dan Nuryadi.

Sementara tim pengacara terdakwa, Mas’ud mengatakan, kliennya harus mendapatkan pasal yang sesuai dengan perbuatan mereka. “Kalau memang is­tilahnya menghukum seseorang yang harus dipertanggung jawabkan ialah bukan pada terdakwanya saja, tapi ada pertimbangan nurani seperti bagaima­na keluarga yaitu anak istri mereka setelah adanya putusan,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Komarudin terhenyak. Ketua RT 07/03 Kelurahan Su­kamulya Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang itu kemudian tak kuasa mena­han tangis. Air matanya tumpah setelah mendengar tuntutan 7 tahun penjara yang dibacakan jaksa dalam sidang kasus persekusi di Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (20/3). Sidang ini terkait penelan­jangan sejoli RA dan MA di Kampung Su­kamulya pada 11 November 2017 lalu.

JPU Rahmadi Seno dari Kejari Tiga­raksa menyatakan, Komarudin melang­gar pasal 170 KUHP tentang pengeroyo­kan, pasal 335 KUHP tentang pembiaran dan Pasal 29 UU Pornografi. Mendengar tuntutan Jaksa, Komarudin hanya diam. Saat ditanya, Komarudin tampak ber­linang air mata. Dia sempat berhenti se­jenak sebelum keluar ruang sidang. Pak RT tersebut juga menutupi mulut dan hidung menggunakan tangan kanannya.

Tuntutan jaksa terhadap pelaku persekusi berbeda-beda. Selain Koma­rudin, Gunawan Saputra yang juga ketua RW dikenakan tuntutan 4 tahun penjara. Pelaku lainnya, Iis Suparlan, Anwar Cahy­adi, Suhendang dan Nuryadi dikenakan tuntutan 2 tahun penjara. (iqbal/aditya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.