Kuncinya Jangan Terlalu Mudah Percaya dengan Biaya Murah

Cerita Perjalanan Umroh Bersama Malika Tour & Travel (1)

DEDDY MAQSUDI

LABBAIK Allahumma Labbaik. Gema ka­limat talbiyah ini menggema di Termi­nal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (26/3) lalu. Hari itu, ada ratusan bahkan mungkin ribuan jamaah dari berbagai travel berkumpul di bandara untuk melakukan per­jalanan ke Tanah Suci.

Saya tergabung di Malika Tour & Travel Tangerang. Se­buah biro perjalanan asal Kota Tangerang yang sudah lama malang melintang di dunia per­jalanan, baik haji plus maupun umroh. Ada 120 jamaah yang diberangkatkan Malika Tour & Travel di hari itu. Ke-120 jamaah itu terbagi dalam tiga kategori, yakni kategori premier, reguler dan paket hemat.

Kebetulan saya tergabung di kategori premier. Karena kelas­nya agak “beda”, hanya ada 24 jamaah yang tergabung di kategori ini. Perbedaan dari masing-masing kategori itu hanya pada tempat tinggal di Tanah Suci. Kalau kategori premier, saat di Mekkah, ditempatkan di ho­tel yang dekat dengan Masjidil Haram, yakni di hotel kawasan Tower Zamzam. Sedangkan kategori reguler dan paket hemat, hotel tempat mereka menginap di luar kawasan Tower Zamzam. Sementara untuk trasportasi penerbangan, dari semua kategori itu sama. Semuanya terbang dengan menggunakan pesawat Ga­ruda Indonesia.

Perjalanan saya bersama rom­bongan jamaah Malika Tour & Travel kemarin langsung menuju Bandara King Abdul Aziz di Jed­dah. Artinya, perjalanan saya bersama rombongan langsung menuju Mekkah untuk melakukan ibadah umroh. Ada juga perjalanan umroh dari Jakarta ke Bandara Pangeran Muhammad Bin Abdul Aziz Madinah. Untuk yang ini, jamaah akan melakukan ziarah dulu ke Makam Nabi Muhammad di Mas­jid Nabawi, lalu selang beberapa kemudian baru melakukan ibadah umroh di Tanah Suci Mekkah.

Butuh waktu 9 jam perjalanan dari Jakarta ke Jeddah. Sebelum berangkat, dalam hati sempat terbersit “Ngapain aja 9 jam di pesawat?”. Jelas sebuah rentang waktu lama. Apalagi buat saya yang baru pertama kali ke luar negeri. Namun saat memasuki pesawat, kekhawatiran booring time alias bete (dalam bahasa gaul) ternyata tak terbukti. Ada banyak pilihan menghabiskan waktu di pesawat. Di pesawat Garuda jenis Boeing 777-300ER itu, tersedia beragam aktifitas. Seperti mendengarkan lantunan ayak suci Alquran, menonton film, mendengarkan lagu, bah­kan menonton syiar Islam.

Saya tengok kanan kiri, depan belakang, banyak juga jamaah yang membaca Alquran di pe­sawat. “Di pesawat lebih baik banyakin istirahat mengumpulkan tenaga. Karena saat turun nanti, kita langsung melakukan ibadah umroh,” kata Ustadz H Zamzami yang kebetulan duduk di sebelah, berusaha menasehati dan menenangkan saya yang terlihat kikuk.

Ustadz H Zamzami merupakan pembimbing umroh di rombongan saya. Usianya masih muda, kisaran 32 tahun. Kulitnya putih, ganteng. Pembawaannya kalem. Sangat sabar melayani rombongan jamaah yang dibawanya. “Sebenarnya saya baru tiba mendampingi jamaah bulan lalu, sekarang saya diberi tugas lagi,” ujar H Zamzami.

Ustadz H Zamzami juga adalah adik kandung Ustadz H Multazam, pemilik Malika Tour & Travel. Di Malika Travel & Tour, Ustadz H Zamzami menjabat sebagai wakil direktur. Sangat beruntung um­roh saya kali ini dikomandani langsung oleh direksi perusahaan yang bermarkas di Cikokol Kota Tangerang itu.

Kesempatan duduk dengan pemilik travel ini tidak saya sia-siakan. Dalam perjalanan ke Jed­dah itu, saya berusaha mengorek keterangan seputar travel. Apa­lagi, beragam kasus yang mem­belit biro perjalanan umroh tengah hangat-hangatnya mencuat. Setelah terbongkar kasus First Travel, kemudian kasus PT Solusi Balad Lumampah (SBL), dan ter­baru Abu Tour begitu menyita perhatian khalayak.

“Kuncinya jangan terlalu mu­dah percaya dengan biaya mu­rah. Lebih baik mahalan dikit tapi pasti, dan kita bisa tidur nyenyak,” kata H Zamzami membuka per­cakapan seputar bisnis travel.

Malika Tour & Travel merupakan biro perjalanan umroh yang sudah pengalaman memberang­katkan jamaah ke Tanah Suci. “Orang bilang Malika agak mahal, itu karena kita melayani kepastian. Sistem kita adalah mem-booking semua kebutuhan keberangka­tan, seperti tiket pesawat, hotel dan transportasi di sana. Kalau semua itu sudah kita penuhi, baru kita jual ke jamaah. Jadi bukan sebaliknya, mengumpulkan uang jamaah dulu, sementara tiket pe­sawat, hotel dan transportasi be­lakangan. Ini yang sering terjadi yang akhirnya biro travel kejebak dalam persoalan,” jelas H Zamza­mi gamblang.

Tak terasa, sekitar pukul 22.00 waktu Arab, pesawat kami mendarat di Bandara King Ab­dul Aziz Jeddah. Setelah mengurus administrasi di Imigrasi setempat, para jamaah langsung berganti pakaian Ihrom, lalu bersama-sama menaiki bus yang akan mengantar ke Kota Mek­kah. Ada tiga bus yang sudah tersedia di bandara. Bus dibagi sesuai dengan kategori pekat um­roh masing-masing. Rombongan kategori premier naik bus 1, rom­bongan kategori reguler bus 2 dan rombongan kategori paket hemat di bus 3. Masing-masing bus su­dah tersedia pembimbing umroh (muthowif) dan guide (pemandu wisata). “Fatwa MUI, mengambil Miqot di Bandara Jeddah diper­bolehkan,” kata H Zamzami.

Butuh waktu dua jam perjala­nan darat dari Bandara Jeddah ke Kota Mekkah. Dengan meng­gunakan bus dan sudah berpakain Ihrom, rombongan menuju Mekkah seraya berniat umroh di dalam bus. “Labbaik Allahumma Labbaik”. (*/bersambung)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.