Takjub dan Menangis saat Pertama Kali Melihat Kabah

Cerita Perjalanan Umroh Bersama Malika Tour & Travel (2)

DEDDY MAQSUDI

JARUM jam menunjuk­kan pukul 03.00 dinihari waktu Arab saat rombongan jamaah umrah Ma­lika Travel & Tour tiba di perbatasan Kota Mekah. Rasa kantuk dan lelah masih cukup terasa. Setelah 9 jam perjalanan udara ditambah dua jam per­jalanan darat menggunakan bus, rombongan akhirnya tiba di Kota Mekah.

Sejurus kemudian, pembimbing umrah, Ustadz H Zamzami memimpin doa memasuki Kota Mekah atau Tanah Haram.

Mata saya yang tadinya me­nahan kantuk, mendadak ter­belalak melihat megahnya Kota Mekah. Jalanannya bersih. Lam­pu terang benderang berjejer se­antero jalanan. Tampak jejeran hotel dan penginapan berdiri megah di sepanjang jalan. Banyak juga pertokoan yang men­ jual aneka barang berdiri rapih di sisi jalan.

Mulut ini tak henti-hentinya memuji kebesaran Allah. Inilah Tanah Haram yang tidak pernah sepi didatangi kaum muslim dari seluruh dunia.

Dari dalam bus, saya melihat banyak mobil pribadi berderet di tepi jalan. “Itu mobil orang Arab. Mereka biasa memarkirkan kendaraannya di jalan atau di depan rumah. Karena biasanya, orang Arab jarang yang punya garasi. Tapi dijamin gak bakalan hilang,” ujar H Zamzami.

Meski dinihari, lalu lalang orang berpakaian Ihrom terus menerus mengalir memasuki Kota Mekah. Baik rombongan bus, juga tak sedikit yang meng­gunakan kendaraan pribadi.

Sesaat kemudian, bus rom­bongan saya masuk area gedung Tower Zamzam. Letaknya ada di area paling bawah gedung.

Biasa disebut lantai -2. Area lalu lalang kendaraan masuk Tower Zamzam itu tak terlalu besar. Hanya muat dua lajur. Kenda­raan kecil maupun besar hanya menurunkan penumpang di lokasi itu. Tidak mengherankan jika di jam-jam sibuk, banyak kendaraan antre di situ.

Ada sekitar enam hotel yang berada di Tower Zamzam. Salah satunya adalah tempat saya menginap, yakni Hotel Pullman. Semua tamu hotel yang berada di Tower Zamzam, pintu masuknya hanya satu. Di area parkir bawah. Semua hotel juga memiliki pintu masuk ma­sing-masing di area drop pen­umpang. Untuk menuju lobi hotel, para tamu masih harus naik lift lagi sesuai dengan tem­pat hotel masing-masing.

Saya bersama rombongan yang menginap di Pullman Ho­tel, naik ke lantai P11. Ustadz H Zamzami dengan cekatan men­gurus adiministrasi dan pem­bagian kamar masing-masing jamaah. “Silakan bapak-bapak dan ibu-ibu untuk ke kamar masing-masing untuk mena­ruh barang. Lalu kita kembali ke lobi untuk menunaikan iba­dah umroh,” perintah H Za­mzami kepada para jamaah.

Setelah menaruh barang-ba­rang di kamar, lalu kami berge­gas menuju lobi. Di lobi, sudah ada Ustadz H Abdul Rahman. Dia yang akan membimbing kami menjalani ibadah um­roh. Ustadz Abdul Rahman ini sudah lama tinggal di Mekah. Selain belajar ilmu agama di Mekah, pria kelahiran Madura, Jawa Timur ini juga berpengal­aman menjadi pembimbing, baik umrah maupun haji.

Sekitar pukul 04.00 waktu Arab, kami semua turun ke lantai dasar untuk menuju Masjidil Haram. Saat di dalam lift, terdengar suara adzan ber­kumandang. “Itu adzan per­tama. Di Mekah, waktu subuh ada dua kali adzan. Adzan pertama satu jam sebelum waktu subuh yang biasanya untuk membangunkan orang menunaikan sholat tahajud. Nah, kalau adzan yang kedua berarti itu adzan waktu subuh,” kata Ustadz H Abdul Rahman memberitahu jamaah yang masih tampak bengong.

Sampai di lantai dasar pe­lataran Tower Zamzam, kami semua disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Bangunan mas­jid berdiri kokoh dengan corak ornamen yang membuat mata takjub. Dari kejauhan, tampak ribuan umat Islam seakan tanpa henti berkeliling (tawaf) mengi­tari Kabah. Pemandangan yang biasa dilihat di layar kaca, kini benar-benar nampak di hada­pan kami. “Subhanallah. Inilah Masjid yang didamba-dam­bakan umat Islam. Tak terasa air mata menetes, haru bercam­pur bahagia bisa berkunjung ke ‘Rumah Allah’” lirih saya.

Tepat di depan Gate (pintu) King Abdul Aziz Masjidl Ha­ram, Ustadz Abdul Rahman kemudian memimpin doa me­lihat Kabah. Setelah itu, den­gan lantunan kalimat talbiyah dan doa-doa lainnya, kami memulai tawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali.

Di tawaf jelang subuh itu, suasana Masjidil Haram san­gat padat. Sangking banyaknya orang, kami tidak bisa lebih dekat lagi dengan Kabah. “Baru dua hari kemarin tawaf dibuka bebas (baik yang ber­pakaian ihrom maupun tidak). Kemarin tawaf sempat diba­tasi hanya yang pakaian ihrom saja, karena ada pembangu­nan proyek sumur Zamzam,” kata Ustadz H Zamzami yang berjalan beriringan.

Selesai tawaf, kami kemu­dian salat sunah di belakang Hijir Ismail. Setelah itu, mi­num air Zamzam. “Nanti kalau minum air Zamzam lagi, usa­hakan yang ada di dalam mas­jid ya. Karena biasanya yang di luar masjid sepertinya bukan air zamzam karena tidak ada tulisannya,” pesan Ustadz Ab­dul Rahman.

Setelah selesai tawaf, kami kemudian bergegas ke bukit Safa dan Marwa untuk melaku­kan Sai. Letaknya tidak jauh dari Kabah. Kalau dari arah Tower Zamzam, letaknya di se­belah kanan. Masih dibimbing Ustadz Abdul Rahman, kami memulai Sai. Sebanyak tujuh kali kami berjalan dari bukit Safa ke Marwa. Di area Sai, baik yang menuju bukit Safa mau­pun Marwa, terdapat tanda lampu hijau. Adanya di pinggir atas plafon. Panjangnya sekitar 100 meter. Jamaah kalau sam­pai di lokasi itu, disunahkan untuk berlari kecil. “Sai ini se­jarahnya saat Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail bolak-balik dari bukit Safa dan Marwa mencari air,” ujar Ustadz Abdul Rahman.

Setelah selesai Sai, kami kemu­dian melakukan Tahalul. Yakni mencukur sebagian rambut. Caranya bergantian. “Lebih bagus lagi kalau digundul, tapi bukan di area Sai ya. Nanti di luar saja,” te­gas Ustadz Abdul Rahman. Dan selesailah ibadah umrah pertama kami. (*/bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.