SMKN 3 Terdampak JLU

CILEGON, SNOL—Pembangunan mega proyek, Jalan Lingkar Utara (JLU) tampaknya akan dihadapi dengan satu persoalan baru. Sebab, infratruktur jalan yang dibangun sepanjang 12,5 kilometer itu, diprediksi akan membelah lahan dan gedung SMKN 3, yang berada di Lingkungan Tunjung Putih, Kelurahan Gedong Dalem, Kecamatan Jombang, Cilegon.

Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Banten, Ofa Saefudin mengatakan, pembangunan JLU yang akan dilakukan pemkot memiliki dampak luas terhadap keberadaan SMKN 3. Pembangunan itu, akan membelah lahan sekolah serta menggunakan lahan seluas 2.215 meter persegi dari total luasan lahan sekitar 1,8 hektar.

“Tadinya lahan SMKN 3 yang mau digunakan untuk (JLU, red) itu seluas 1.653 meter persegi. Karena ada aturan itu, sepadan jalan menjadi 2.215 meter persegi,” ungkap Ofa saat ditemui di KCD Banten di Cilegon, kemarin.

Penggunaan lahan untuk JLU itu, kata Ofa, akan berdampak pada sejumlah fasilitas yang ada di sekolah. Di antaranya, pembangunan jalan akan berdampak peniadaan sejumlah ruang kelas, lapangan basket dan fasilitas lainnya.  “Yang terkena dampak itu, ada aula, 5 ruang kelas, toilet, lapangan basket,” papar Ofa. Untuk menyikapi masalah itu, pihaknya langsung mengusulkan ke Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten agar mencari solusi dengan Pemkot Cilegon.

“Saat ini baru tahap pembicaraan dan rapat-rapat saja. Justru Pemkot Cilegon menunggu dari kita, (BPKAD, red) Provinsi seperti apa sih. Nah, sekarang kita sedang susun kajiannya. Setelah kajian selesai, baru kita ajukan ke Pemkot Cilegon melalui Bapenda (BPKAD Banten, red),” imbuh Ofa.

Dalam kajian itu, pihaknya mendesak agar permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan secepatnya, baik oleh Pemprov Banten maupun Pemkot Cilegon, supaya tidak mengganggu siswa jalannya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Harapannya, kami minta dibangun dulu. Masak harus numpang, kan malu. Yang penting ruang kelas untuk KBM tidak terganggu. Kalau mengejar di APBD perubahan, tidak mungkin karena maksimal (pembangunan sekolah, red) butuh 120 hari. Apalagi, Bulan Juni kan sudah ajaran baru. Jadi ini sudah mendesak,” urai Ofa. Terpisah, Kepala Sekolah SMKN 3, Tatang Satari Royat ketika coba dikonfirmasi wartawan, sedang tidak berada di tempat.

Sementara, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Futirot yang ditemui tidak dapat menjelaskan lebih jauh dan hanya menunjukan lahan dan gedung yang terdampak pembangunan JLU.  “Bapaknya sedang tidak ada. Tadi beliau ikut pelepasan di SMKN 1, terus langsung ke acara LKS di Tangerang. Kalau yang tahu persis soal JLU,  Pak Khotib, bagian Sarana dan prasarana. Kalau saya tidak begitu tahu karena bagian kurikulum,” tukas Futirot.

Pada bagaian lain, Sekertaris Daerah Kota Cilegon, Sari Suryati mengakui jika pembangunan JLU akan berdampak terhadap SMKN 3. Untuk memecahkan masalah itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemprov Banten.  “Kita sudah membuat surat dengan dinas pendidikan provinsi,  kemudian sudah dikoordinasikan dengan pihak sekolah, kita lagi menunggu kebijakan dari Provinsi.  Tetapi pada prinsip, sekolah ini harus direlokasi karena terpotong ditengah,” tutur Sari.

Beberapa opsi yang telah dikaji, di antaranya mengganti lahan yang digunakan ataupun meningkatkan struktur bangunan. Pihaknya belum dapat berbuat lebih jauh, karena aset sekolah saat ini merupakan kebijakan Pemprov Banten.  “Maksud relokasi, bukan relokasi jauh tetapi pengembangan lahan. Kalaupun tidak memungkinkan lahan naik ke atas. Kalau itu kebijakan, itu jadi kebijakan Provinsi. Tetapi  kan (JLU, red) sangat kompleks, ada tanah wakah, ada sekolah, ada pesantren juga. Itu oleh kita coba diminimalisir,” pungkas Sari.(nal/eky/bnn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.