Stockpile Pasir di Kampung Kopi Dimusnahkan

Pemilik dan Pekerja Penambang Pasir Diperingatkan

SAJIRA,SNOL–Sejumlah stockpile milik penambang pasir di Kampung Kopi, Desa Parungsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, dimusnahkan Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lebak, Selasa (10/4). Selain memusnahkan menggunakan sem­protan air mobil pemadam kebakaran (Damkar), Satpol PP juga menegur agar para pengelola, maupun penambang pasir di Kampung Kopi untuk segera menghentikan aktifitasnya, sebelum penambangan pasir dilokasi tersebut memiliki izin dari Pemerintah Kabu­paten (Pemkab) Lebak.

Kepala Dinas Satpol PP, Dartim mengatakan, stockpile yang disimpan para pemiliknya disekitar lokasi penambangan pasir Kampung Kopi, sangat meng­ganggu kenyamanan masyarakat. Untuk itu, agar tidak lagi mengganggu, maka pihaknya melakukan pemusnahan.

“Selain itu, kami-pun menegur para penambang pasir untuk menghentikan aktifitasnyanya. Urus dulu izinnya, baru boleh beroperasi,” ujar Dartim, Selasa (10/4).

Katanya, selain menjadi program Satpol PP Lebak, penertiban ini juga menindaklanjuti tuntutan warga, un­tuk menertibkan stockpile pasir yang marak di jalan serta penambang yang belum memiliki izin. “Kita harapkan, setelah ditertibkan stockpile pasir dan pengusaha pasir, untuk lebih menaati aturan yang sudah ditetapkan,” ujarnya.

Ditambahkannya, lokasi penam­bangan pasir di Kampung Kopi se­lama ini sering diprotes warga Desa Parungsari, Kecamatan Sajira, karena sering menjual pasir yang kondisinya masih basah. “Saat diangkut oleh truck, airnya berceceran ke badan ja­lan. Akibatnya, lama kelamaan kondi­si jalan disekitar Sajira rusak dan becek,” tandasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Penegakan Per­da Dinas Satpol PP Lebak, Wahyudin menambahkan, terkait stockpile yang diletakkan disembarang tempat, ser­ta dapat mengganggu kenyamanan umum. Maka harus ditindak tegas. Be­gitupula stockpile yang berada disekitar lokasi penambangan pasir di Kampung Kopi, harus dimusnahkan.

“Pemusnahan stockpile pasir di Kam­pung Kopi kami lakukan, karena me­mang keberadaanya mengganggu ke­nyamanan masyarakat setempat,” tegas Wahyudin. (mulyana/mardiana)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.