Menangis dan Tersedu saat Berdoa di Multazam dan Hijir Ismail

Cerita Perjalanan Umrah Bersama Malika Tour & Travel (4)

DEDDY MAQSUDI

SELAIN ibadah umrah, apa yang menjadi daya tarik lainnya bagi jamaah? Ya, mencium Hajar Aswad, berdoa di depan Mult­azam, salat di Hijir Ismail. Dan tentu saja air zamzam.

Sepulang dari ziarah, rombongan umrah Malika Travel & Tour melaksanakan umrah kedua dengan mengambil miqat di Masjid Ji’ranah. Berbeda ketika umrah pertama yang dilaksanakan dini hari jelang waktu Subuh, umrah kedua dilakukan di siang hari. Kira-kira pukul 13.00 waktu Arab.

Saat itu cuaca di Kota Mekah se­dang terik-teriknya. Suhunya an­tara 38-40 derajat celcius. Meski berpanas-panasan, melakukan ibadah umrah di siang hari ada enaknya juga. Jumlah orang yang melakukan tawaf tidak sebanyak kala di pagi, sore, malam atau dinihari.

“Sebagaimana hadits Nabi, um­rah satu ke umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga,” kata Ustadz Abdul Rahman, pembimbing umrah kami.

Di umrah kedua ini, para jamaah terlihat lebih santai. Tidak tampak tegang seperti umrah sebelumnya. Wajah-wajah penuh ceria dan gem­bira menyelimuti para jamaah. Mes­ki berdesak-desakan saat melaku­kan tawaf, namun para jamaah tetap enjoy melakoni semua sarat rukun tawaf.

Usai melakukan tawaf, salat sunah tawaf dan minum air zamzam, kami menyempatkan diri untuk berswafoto di depan Kabah. Setelah itu, melaksanakan sa’i dari bukit shafa dan marwa dan dilan­jutkan menyempurnakan umrah dengan tahalul atau mencukur se­bagian rambut.

Jelang waktu Ashar, umrah kedua selesai. Kami yang masih berada di area sa’i, tidak langsung ke penginapan. Kami menunggu saat salat Ashar tiba, dan melak­sanakan Ashar di area sa’i. Setelah salat, baru kami beranjak ke penginapan untuk istirahat, mandi dan bersiap untuk kembali ke Masjidil Haram menunaikan Salat Maghrib dan Isya.

“Nanti kita ke Hajar Aswad yuk? Enaknya sebelum Subuh, kira-kira jam 04.00, sekalian kita Salat Subuh di shaf (barisan) depan Kabah,” ajak Roni Setiawan, salah seorang jamaah. Saya dan Muhammad Si­dik mengangguk mengiyakan.

Selain memang satu kamar, kami bertiga nyaris selalu bersama dalam setiap menjalankan ibadah wajib maupun sunah di Masjidil Haram. Teman yang “satu semangat” ini sangat penting ketika menjalankan umrah. Tujuannya untuk saling menguatkan kalau rasa malas menghantui salah sa­tunya. Bukan tanpa sebab, dengan tinggal di hotel bintang lima yang fasilitasnya mewah, rasa malas pasti selalu menghampiri. Nah, gu­nanya teman untuk saling mengingatkan bahwa kita ke Tanah Ha­ram bukan untuk liburan, tapi untuk memperbanyak ibadah.

Usai Salat Maghrib dan Isya di Masjidil Haram, kami berge­gas untuk makan malam. Kecu­ali sarapan, tempat makan siang dan malam bukan di hotel tempat kami menginap, tapi di restoran yang dikhususkan untuk semua jamaah Indonesia yang menginap di hotel kawasan Tower Zamzam. Lokasinya di lantai P3, atau lantai tiga 3 gedung Tower Zamzam. Na­manya Tasneem Restaurant. Koki dan pelayannya semua orang In­donesia. Menu makanannya juga khas Indonesia banget. Ada tem­pe, ikan, terong, bahkan sambal. Dan yang lebih Indonesia tentu saja kerupuk.

Jadi tak perlu khawatir selera makan turun, karena di Mekah tetap tersedia makanan Indone­sia. Di area Tasneem Restaurant, juga terdapat kios-kios yang men­jajakan makanan khas Indonesia lainnya, seperti bakso, gorengan, bahkan gado-gado. Untuk yang terkendala dengan alat komuni­kasi, jangan khawatir, di area Tas­neem ada gerai selular yang siap sedia membantu alat komunikasi Anda.

Usai makan malam, jam menunjukkan pukul 22.00 waktu Arab. Kami bergegas untuk istira­hat. Mengumpulkan tenaga untuk berjuang mencium Hajar Aswad dan Salat Subuh di Masjidil Ha­ram. Dalam benak kami semua, semangat mencium Hajar Aswad tidak boleh terlewatkan.

Sekitar pukul 03.30 waktu Arab, kami semua bangun. Setelah se­lesai mandi dan bersih-bersih kami berangkat menuju Masjidil Haram. Saat memasuki Gate King Abdul Aziz, suasana Masjidil Ha­ram sama seperti biasanya, selalu ramai. “Waduh, gimana ini, ramai banget,” ujar Muhammadi Sidik. “Gak apa-apa, kalau sudah niat pasti ada jalannya,” kata Roni Se­tiawan berusaha menenangkan kami.

Untuk menuju ke Hajar Aswad, kami bertiga melakukan tawaf sunah terlebih dahulu. Tawaf mengelilingi Kabah kami lakukan dengan cara berjalan menyerong ke kiri. Dengan cara itu, posisi kami akan terus mendekat Kabah maupun Hajar Aswad. Butuh per­juangan ekstra, karena nyatanya bukan hanya kami bertiga yang punya niatan mencium Hajar As­wad, tapi seluruh jamaah yang tawaf juga memiliki niatan yang sama.

Berdesak-desakan menjadi santapan kami dalam upaya mendekat ke Kabah dan Hajar Aswad. Apalagi postur kami yang standar orang Indonesia kalah kuat dan tinggi dibanding jamaah dari negara-negara lain. Makin dekat waktu subuh, makin ramai orang yang ingin menuju Kabah dan Hajar Aswad.

Sangking kuatnya desakan, saya dan Muhammad Sidik ter­pisah dengan Roni Setiawan. Roni yang mempunyai badan tinggi besar, dengan mudah mengimbangi desakan beragam orang. Kami berdua terseret gel­ombang desakan hingga ke Hijir Ismail. Akhirnya kami berdua menyerah. “Sudah ya, kita di sini saja. Kita bikin shaf Salat Subuh,” kata saya. Muhammad Sidik mengangguk tanda setuju.

Bersama dengan jamaah lain dari berbagai negara, kami berdua ikut membuat shaf Salat Subuh di belakang Hijir Ismail. Sekitar 15 menit sebelum Subuh, shaf sudah terbentuk 10 baris. Dan kami ber­dua melakukan Salat Subuh berja­maah di belakang Hijir Ismail.

Usai Salat Subuh, di pintu ke­luar Gate King Abdul Aziz, kami bertemu dengan Roni Setiawan. “Gimana Pak, bisa mencium Hajar Aswad?” tanya saya. “Ternyata susah. Desakannya kenceng ban­get. Saya tadi cuma bisa megang doang. Tapi saya puas karena bisa salat di barisan depan, persis di belakang Hajar Aswad,” ujar Roni tersenyum.

Meski gagal mendekat dan mencium Hajar Aswad, namun salat di shaf terdepan di Kabah sudah menjadi kepuasan tersend­iri bagi kami. “Gak apa-apa, nanti jam 09.00 pagi kita coba lagi,” kata saya berusaha menghibur diri.

Setelah sarapan, kami bertiga kembali ke Kabah. Tujuan kami adalah Hajar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail. Kami bertiga memulainya dengan menunai­kan ibadah salat sunah di Masjidil Haram. Setelah itu, kami bergegas menuju Kabah. Sama seperti usa­ha sebelumnya, kami tawaf sunah terlebih dahulu agar mendekat ke Kabah. Sampai di Hajar Aswad, kepadatan jamaah masih terus berlangsung. Saya lihat di sebe­lah Hajar Aswad, Multazam, agak longgar. Akhirnya niatan saya ali­hkan untuk berdoa di Multazam dulu. Meski agak longgar, tapi berdesak-desakan dan saling do­rong seakan menjadi barang lum­rah di area tersebut.

Dengan terus berusaha kuat, akhirnya saya sampai di dinding pintu Multazam. Kedua tangan saya menggelayut di lantai batas pintu Multazam, sedangkan ke­pala dan badan saya rapatkan di dinding bawah pintu Multazam. Di situ, saya menangis sejadi-jadinya memohon ampun kepada Allah, juga doa-doa lainnya.

Selesai berdoa di Multazam, saya lalu ke Hijir Ismail. Walau posisinya di luar Kabah, Hijir Is­mail masih merupakan bagan dari Kabah. Di dalam Hijir Ismail yang kecil itulah orang berebutan masuk, salat dan berdoa memin­ta apa saja sesuai dengan hajat masing-masing. Konon doa yang paling mustajab di Hijir Ismail dilakukan di bawah talang air. Untuk masuk ke area Hijir Ismail juga tidak mudah. Jamaah harus berdesakan antre menunggu ja­maah lain selesai berdoa di situ. Kalau dianggap kelamaan, Askar (pasukan pengaman) langsung datang menyuruh pergi. Setelah berusaha dan berdesakan, akh­irnya saya berhasil masuk dan berkesempatan menunaikan salat sunah dan berdoa di Hijir Ismail. (*/bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.