11 Bulan di Dubai TKW Asal Kemiri Pulang Tak Bawa Uang

Hanya Bawa Luka Bekas Siksaan Majikan

KEMIRI, SNOL—Nasib nahas men­impa Winda (24) tenaga kerja wanita (TKW) asal asal Kampung Lontar RT 05 RW 02, Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Setelah bekerja selama 11 bulan di Dubai, Uni Emirat Arab, bukannya membawa uang hasil jerih payahnya melainkan luka bekas siksaan majik­annya.

Perempuan yang hanya tamatan SMP ini menceritakan dorongan awal untuk pergi menjadi TKI ke Dubai adalah untuk merubah eko­nomi keluarga. Dengan dibantu, oleh sponsor berinsial HA yang meru­pakan tetangga dirinya, hanya butuh satu minggu untuk terbang ke Dubai. Namun sebelum terbang ke Dubai, dirinya ditampung di sebauh kon­trakan di Jakarta. “Saya tidak tahu, apakah kebarangkatan saya resmi atau tidak resmi. Yang saya tahu, saat terbang ke Dubai banyak juga yang berangkat bareng dengan saya,” be­ber Winda kepada Satelit News saat ditemui di rumah salah seorang re­lawan Kampung Lontar, Desa Lontar, Senin (16/4).

Winda mengaku, hingga kini tidak mengetahui siapa nama majikan­nya, hanya saja dia mengaku bekerja hampir 24 jam, dengan waktu isti­rahat sekitar 3-4 jam saja. Sisanya, dia harus bekerja keras menyiapkan makan, membersihkan seluruh ru­angan rumah, mencuci, dan lain-lain. “Majikan saya yang perempuan sering memukul pakai tangan bah­kan kayu bila saya ada keselahan sedikit seperti bila menutup gorden dengan suara keras langsung diten­dang dan dipukul,” keluh Winda

Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, ujar Winda ketika dipulang­kan dirinya tak mampu menuntut haknya karena tidak memahami apa yang harus dituntut dan apa yang ha­rus diutarakan kepada majikannya. Hanya ketika majikannya memarahi dan memulangkannya, hanya di­antarkan ke Bandara Dubai hingga sampai ke Bandara Soekarno Hatta. “Dari bandara Soekarno Hatta, saya pulang naik taksi yang dibayar di rumah oleh orang tua. jadi, selama 11 bulan bekerja di Dubai jangankan gaji yang didapat, untuk ongkos dari badara Soekarno-Hatta juga tidak ada,” ujarnya.

Winda memiliki harapan agar sponsor bisa membantu untuk mengurus haknya selama bekerja di Dubai ke perusahan yang mem­berangkatkan namun harapan terse­but masih belum terpenuhi oleh sponsor meski sudah hampir 6 bulan lalu. “Sponsor yang memberangkat­kan saya hanya janji-janji akan mengurus gaji saya tapi sampai seka­rang belum ada,” paparnya.

Sementara itu salah seoarang rela­wan Kampung Lontar, Desa Lontar, Kecamatan Kemiri Mahmud men­gaku prihatin dengan nasib yang diterima Winda yang merupakan salah seorang warga kurang mampu di Desa Lontar. Mahmud berharap, sponsor yang memberangkatkan Winda memiliki tangungjawab untuk meyelesaikan hak yang harus didapat Winda selama bekerja di Dubai. “Saya minta, peran pemerintah un­tuk menjadi mediasi antara sponsor HA dengan Winda. Sebab beberapa kali keluarga Winda meminta tan­gungjawab dari sponsor hanya janji terus,” ujarnya.

Mahmud menghimbau, ke warga Kecamatan Kemiri khususnya yang akan mengadu nasib menjadi TKI jangan termakan bujuk rayu spon­sor yang menjamin bekerja ke luar negeri dengan cara cepat namun tidak mengikuti prosedur yang ber­laku sehingga kejadian yang men­impa Winda tidak terulang. “Warga yang mau menajdi TKI harus selek­tif. Ikuti aturan yang ditentukan oleh pemerintah. Yang paling penting, harus menjadi TKI secara resmi agar mendapat perlindungan pemerintah bila ada masalah di tempat kerja,” pungkasnya. (imron/hendra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.