Taubat dan Harapan di Raudhah Atau Taman Surga

Cerita Perjalanan Umrah Bersama Malika Tour & Travel (7)

DEDDY MAQSUDI

BERDOA dan bersujud di Raudhah atau Ta­man Surga adalah im­pian bagi hampir setiap orang yang berkunjung ke Masjid Nabawi di Kota Madi­nah. Apalagi mereka yang pertama kali berziarah. Raudhah adalah se­buah ruangan yang terletak di an­tara mimbar Masjid Nabawi dengan makam (dahulu kamar tidur) Rasu­lullah Muhammad Saw.

Selepas sarapan di Hotel Al Rawda Royal Inn, rombongan Malika Tour & Travel melakukan ziarah di ka­wasan Masjid Nabawi. Yang pertama kami singgahi adalah pemakaman Baqi. Lokasinya di sebelah kiri Mas­jid Nabawi. “Makam ini merupakan tempat pemakaman para sahabat, yang salah satunya adalah makam Khalifah Utsman Bin Affan. Imam Besar umat Islam, yakni Imam Malik juga dimakamkan di kawasan ini,” kata Ustadz Abdul Rahman, pem­bimbing rombongan kami.

Rombongan kemudian melanjut­kan ziarah ke Makam Nabi Muham­mad Saw. Dan tentu saja, yang tidak ketinggalan adalah berdoa di Raud­hah. Konon Sang Nabi sendiri yang menyebut ruangan seluas 22×15 meter itu sebagai taman surga dan meminta umatnya untuk berdoa sebanyak-banyaknya di tempat itu. Kabarnya laiknya berdoa di Mult­azam atau lokasi antara Hajar Aswad dan Pintu Kabah di Kabah, Mekkah, di Raudhah semua doa yang tulus akan dikabulkan.

Selain untuk berdoa, bagi umat Islam era kini, Raudhah adalah jarak terdekat yang dapat dicapai untuk bersanding secara fisik dengan Sang Nabi karena tepat di balik bangunan persegi empat berwarna hijau dengan kaligrafi emas yang terletak di sebelah kiri saat mer­eka bersujud di Raudhah itulah makam Nabi Muhammad SAW.­

Dari pelataran masjid yang dihiasi oleh kanopi-kanopi ber­bentuk payung-payung raksasa karya arsitek Jerman Mahmoud Bodo Rasch, kawasan Raud­hah dapat dicirikan dari kubah berwarna hijau. Cukup berdiri di sisi terluar pelataran untuk dapat melihat seluruh warna kubah di Masjid Nabawi, tepat di bawah kubah berwarna hijau yang terletak di samping kubah perak lokasi imam itulah lokasi taman surga.

Bagi jamaah laki-laki, pintu terdekat untuk mencapai Raud­hah adalah melalui gerbang Babus Salam atau gerbang Ji­bril yang memang dikhususkan bagi peziarah. Sementara untuk jamaah perempuan masuk me­lalui pintu Ali bin Abu Thalib atau pintu nomor 25-29.

Dari dalam masjid, kawasan Raudhah ditandai oleh karpet berwarna hijau. Sementara se­luruh bagian masjid yang lain dilapisi oleh karpet berwarna merah. Jadi ketika kaki belum menjejak karpet berwarna hi­jau maka belumlah tiba di ta­man surga. Selain karpet hijau, arsitektur bagian dalam Masjid Nabawi di sekitar Raudhah juga tampak berbeda dari bagian masjid yang lain.

Langit-langit Raudhah dihisa­si oleh fresco bergambar jalinan bunga berwarna merah, hijau dan biru dalam latar putih serta kaligrafi sementara itu tiang-tiangnya tidak berwarna putih dan abu-abu dengan hiasan emas seperti bagian masjid yang lain melainkan berwarna merah jambu dengan hiasan emas dan kayu.

Di dalam Raudhah peziarah dapat menemukan bekas mim­bar yang digunakan oleh Sang Nabi yang terbuat dari kayu den­gan hiasan kaligrafi emas dan hijau serta mihrab yang konon digunakan oleh Sang Nabi untuk memimpin shalat.

Untuk bisa masuk ke Raud­hah, jamaah harus antre. Pagi itu, antreannya lumayan pan­jang. Bagi jamaah laki-laki, ada dua antrean untuk bisa menca­pai Raudhah. Masing-masing antreannya bisa mencapai ra­tusan orang yang dibagi dalam tiga sekat. Masing-masing sekat dibatasi dengan kain putih me­manjang. Sambil menunggu antrean, jamaah mengisinya dengan mengaji atau memper­banyak sholawat.

“Sabar pak, sabar, nikmati saja antreannya. Tidak usah terburu-buru nanti juga akan tiba waktu­nya,” pinta salah seorang jamaah kepada jamaah lainnya yang mencoba menyela ke depan.

Sekitar setengah jam lebih akhirnya saya menginjakkan kaki di Raudhah. Karpet yang berwarna hijau itu terasa em­puk. Sangat nyaman untuk ber­doa. Sambil berjubel, saya beru­saha mencari posisi. Di barisan depan, para askar atau petugas Masjid Nabawi, selalu mengin­gatkan pada antrean jamaah un­tuk tidak berebut mencari posisi terdekat makam Sang Nabi kare­na seluruh area yang beralaskan karpet berwarna hijau adalah Raudhah. Mereka juga mengin­gatkan jamaah untuk tidak salat menghadap makam Sang Nabi namun tetap menghadap kiblat.

Umumnya jamaah akan bere­but untuk berusaha mencari po­sisi salat yang terdekat dengan makam Sang Nabi, tak jarang bahkan yang mencuri-curi ke­sempatan untuk mengintip ke balik dinding berwarna hijau dan emas itu. Sisanya mencoba memotret bagian dalam Raud­hah sebelum dihentikan oleh askar.

Di area Raudhah, diupayakan untuk memperbanyak salat su­nah, baik salat sunah taubat atau salat sunah lainnya. Apalagi waktunya terbatas. Hanya sekitar 10 sampai 15 menit jamaah bisa salat dan berdoa di Raudhah.

Jamaah yang telah selesai ber­doa di Raudhah, keluar melalui jalur khusus. Yakni melewati de­pan makam Nabi. Selain makam Nabi yang berada paling depan, di lokasi itu terdapat makam Khalifah Abu Bakar As-Siddiq yang merupakah ayah dari Siti Aisyah dan kemudian di sisi Abu Bakar adalah makam Khalifah Umar bin al-Khatab. Posisi ke­tiga makam tersebut berundak bukannya sejajar.

Keesokan harinya, kami kem­bali berdoa di Raudhah. Tidak puas rasanya kalau berziarah ke Madinah tidak memanfaatkan berdoa di Raudhah. Apalagi, beribadah di Raudhah diyakini pahalanya adalah 1.000 kali lipat. (*/bersambung)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.