Mahasiswa: Tarik Buku Bahasa Jawa Banten

KOTASERANG, SNOL—Puluhan Front Aksi Mahasiswa (FAM) UIN SMH Ban­ten menuntut kepada Dinas Pendidi­kan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang untuk bertanggungjawab dan menarik kembali buku paket Belajar Bahasa Jawa Banten yang sudah disebar selama empat tahun.

Kesalahan bahwa gambar yang ada pada buku paket untuk kelas enam, Seko­lah Dasar (SD) yang melegalkan gambar Sultan Hasanuddin Makassar sebagai pahlawan Banten. Yang berarti Dindik­bud Kota Serang, tidak mengetahui wajah dari Sultan Maulana Hasanuddin Banten, mereka berdalih bahwa dinas tersebut tidak ada yang tahu wajah asli Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

“Artinya Dindikbud Kota Serang, tidak mengkroscek kembali apa kesalahan-kesalahan yang memang sudah terjadi, sudah tersebar luas. Lalu berapa korban anak bangsa, khususnya di Kota Serang, itu sudah terjadi indoktrinasi, buku itu akan menyebabkan bahwa itu Sultan Hasanuddin Banten, tapi aslinya Sultan Hasanuddin Makasar,” ucap Kordinator Aksi (Korlap) FAM UIN SMH Banten, Nahrul Muhilmi kepada awak media, saat ditemui didepan kantor Dindikbud Kota Serang, Kamis (19/4).

Pihaknya juga mendesak kepada Dindikbud Kota Serang bertanggung­jawab selama empat tahun ini yang me­mang siswa SD yang sudah lulus harus mengetahui bahwa itu gambar bukan Sultan Maulana Hasanuddin Banten. “Ini sudah menyimpangi sejarah, ini sudah terlalu kelewatan. Sudah banyak sekolah-sekolah yang memang melihat bahwa itu Sultan Maulana Hasanud­din Makasar, dijadikan Sultan Maulana Hasanuddin Banten,” katanya

Setelah keteledoran itu pula, kata dia, pihak Dindikbud Kota Serang belum sama sekali mem­berikan keterangan terkait ke­salahan pemasangan gambar tersebut. “Artinya, ini pembodo­han tentang sejarah Banten, bahkan anak-anak SD yang ada di Serang yang setiap hari meng­konsumsi kesalahan tersebut. Kemudian ironinya, kesalahan ini dilakukan oleh Dindikbud merupakan sebuah tragedi da­lam sejarah Banten,” ungkapnya

Ia juga menilai, intansi pemer­intah di Banten tidak melihat dan tidak jeli dalam memeriksa sosok gambar pahlawan Banten, karena menurutnya, kejadian ini pernah terjadi beberapa ta­hun lalu dalam pemasangan gambar Sultan Ageng Tirtayasa menjadi Sultan Agung Mat­aram. “Kesalahan serupa ter­jadi pada pemasangan gambar sultan Maulana Hasanuddin, kesalahan ini sudah sepatutnya ditindak tegas, terlebih gambar tersebut tendensi mengesamp­ing nalar generasi Banten dalam mengenal sosok pahlawannya,” ujarnya

Di sisi lain, masih kata Nahrul, buku paket yang diedarkan ke tiap sekolah SD yang ada di Se­rang ini merupakan alokasi ang­garan APBD 2014, akan tetapi hingga tahun 2018 gambar terse­but belum sama selali di revisi. “Dengan jumlah buku puluhan, ratusan bahkan ribuan. Tragedi kesalahan pemasangan gambar ini harus segera dihentikan. Dan jamin kelayakan fasilitas pen­didikan di Kota Serang,” ucap­nya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas (Kadis) Dindikbud Kota Serang, Ahmad Zubadil­lah mengungkapkan memang ada editor, penerbit yang mung­kin manusia biasa yang tak lu­put dari kesalahan, tapi dari pihaknya sudah melakukan pe­narikan. “Artinya, bertanggung­jawab melakukan penarikan dan kemudian dan sudah di revisi. Jadi hanya itu saja subtansinya, tidak ada masalah apa-apa,” ucap Zubadillah.

Memang, masih kata Zubadil­lah, perlu segera disosialisasikan kepada anak-anak dan guru-gu­ru dan kepala sekolah, bahwa ini merupakan pembelajaran bagi Dindik, dalam rangka menc­etak buku apapun bentuknya memang harus ekstra hati-hati. “Sebaiknya dibedah dulu oleh para praktisi pendidikan agar tidak ada hambatan-hambatan dalam perjalanan. Karena ini untuk membangun karakter bangsa,” katanya

Untuk penarikan sendiri yang sampai saat ini masih ada dibeber­apa sekolah SD, Zubadillah me­nyebutkan, pihaknya mengklaim sudah menarik dan memberi su­rat edaran kepada kepala sekolah. “Kami juga sudah menyampaikan kepada UPT-UPT untuk segera dit­indaklanjuti untuk ditarik. Mung­kin di Kota sudah tapi mungkin dipinggir-pinggir masih ada buku satu dua,” ujarnya

Untuk pembuatan buku pa­ket ini, kata Zubadillah, ia tidak mengetahui pembuatannya, karena dirinya pada tahun 2014 belum masuk menjadi kepada Dindikbud Kota Serang. “Pastin­ya sudah dilakukan penyortiran, mungkin dimana salahnya tidak tahu, kenapa ada kesalahan. Buku itu dicetak 2014. Sebelum saya masuk kesini (Dindikbud, red),” ucapnya

Ia juga menyebutkan masih banyak kepala sekolah yang membandel, karena pihaknya sudah memberikan surat edaran untuk penarikan buku paket tersebut. “Akan saya monitor besok, sudah kita berikan surat edaran untuk ditarik tapi masih aja ada yang belum ditarik. Kami juga akan koordinasi dengan ahli sejarah,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Komisi II DPRD Kota Se­rang fraksi PDIP, Ali Soerohman kembali Inspeksi Mendadak (Sidak) di SDN 13 Kota Serang. Dia pun kembali menemukan buku paket Muatan Lokal (Mu­lok) Bahasa Jawa Banten untuk kelas enam yang dinilai banyak kesalahan. Padahal kata Ali, pihak Dindik Serang berjanji akan menarik semua buku yang sudah tersebar, namun kata ia, sampai saat ini masih banyak ditemukan buku yang sama ter­bitan pada tahun 2014 ini.

“Seperti didalam buku terse­but pada halaman 18 yang salah memasang foto Sultan Hasanu­din Makasar, dinamakan Sultan Hasanudin Banten,” kata Ali So­erohman yang akrab dipanggil Ali Soero kepada Banpos ditemui dilokasi, beberapa waktu lalu. “Saya juga sudah berkali-kali meminta kepada Dindik segera menarik, namun sampai saat ini masih banyak ditemukan hal yang sama,” sambungnya.

Ali Soero pun menyebutkan se­lama empat tahun banyak siswa siswi SD kelas enam diracuni se­jarah yang salah. Pihaknya juga sudah menemukan di dua seko­lahan lainnya, diantaranya SDN 3 dan SDN 20 Kota Serang.

“Berkali-kali saya sampaikan kepada Kabid SD untuk segera menarik, pihaknya juga pada­hal sudah berjanji akan segera menarik, kalau terus menerus dibiarkan, ini berdampak tidak baik untuk pendidikan dikota serang soalnya sudah empat ta­hun lagi,” ungkapnya.

Ia berharap dalam ajaran baru, tidak ada lagi ditemukan kesala­han. “Harus diganti dengan buku edisi yang baru, kan ini menggu­nakan anggaran APBD,” ujarnya Ia menilai kesalahan ini adalah kecerobohan dinas terkait dan penerbit, seharusnya, kata Ali, buku yang akan disebar tersebut harus ada pengecekan kembali. “Ini kesalahan dinas terkait, Ka­bid SD nya juga ceroboh, harus­nya kalau ada yang salah seperti foto Sultan Hasanudin Makasar dinamakan Sultan Hasanudin Banten itu kan bisa diganti dan ditempel menggunakan stiker,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SDN 13 Kota Serang, Agus Zatnika mengungkapkan terima kasih kepada Dewan yang sudah peduli dan sekaligus mengingatkan bahwa sejarah memang harus diluruskan. (cr-01/azm/bnn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.