Petani Mauk Kesulitan Modal Tanam

Merugi di Musim Tanam Sebelumnya

MAUK, SNOL- Sejumlah petani Keca­matan Mauk, Kabupaten Tangerang belum melaksanakan penanaman padi pada musim tanam kedua 2018 ini. Pasalnya, sejak penurunan hasil panen di musim tanam sebelumnya membuat sejumlah petani kesulitan modal ber­tanam.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ke­bon Kelapa Samsudin membenarkan sejumlah petani di Kecamatan Mauk kesulitan modal untuk mulai menanam padi. Bahkan menurut Samsudin, para petani khususnya yang tergabung di Poktan Kebon Kelapa yang berjumlah 30 petani sepakat untuk tidak mena­nam padi meski sudah memasuki masa tanam.

Menurut Samsudin, hampir seluruh anggota Pokta Kebon Kelapa merasakan persoalan yang sama, yakni ketakutan akan gagal panen dan tidak memiliki biaya lagi untuk memulai penanaman. “Kesulitan modal, akibat panen tidak maksimal karena gagal panen mem­buat para petani tidak mengarap lahannya,” kata Samsudin kepada Satelit News, Senin (23/4)

Samsudin mencontohkan, sawah se­luas sembilan hektar yang digarapnya, mengalami penurunan produksi padi selama 3 kali masa taman secara ber­turut-turut. Yang terparah, sambung­nya, terakhir panen padi pada masa tanam ini (20 Desember 2017-1 April 2018-red), dari lahan seluas 1 hekare, sama sekali tidak menghasilkan gabah. “Saya menggarap sawah padi seluas 9 hektare, cuma dapat gabah sebanyak 3 ton,” katanya

Menurut Samsudin, Penurunan produksi padi ini berimbas pada pendapatan para petani. Dia sendiri mengaku rugi puluhan juta rupiah se­lama tiga kali masa tanam, lantaran bi­asanya, hasil panen lahan persawahan padi yang dia garap bisa memproduksi gabah sebanyak 5 ton/hektare. Namun belakangan ini jumlah hasil padinya tu­run hampir 50 persen.

Anehnya, beber Samsudin, para petani yang mengalami penurunan produkksi hingga gagal panen itu yang memakai bibit subsidi dari pemerintah jenis Inpari 30. Tetapi, ada petani yang memakai bibit non subsidi, walau­pun terkena hama wereng, masih bisa memperoleh gabah sebanyak 2 ton/hektare.

Samsudin menambahkan, para petani yang mogok tanam itu lantaran ti­dak memiliki modal. Modal pinjaman untuk mengelola sawah yang gagal saja belum bisa dikembalikan lantaran hasilnya yang menurun. Dia menjelas­kan, banyak anggota Poktan Kebon Kelapa yang modalnya berasal dari me­minjam dan harus dikembalikan saat sudah panen. “Saya sekarang ragu-ragu untuk nanam padi, sebab khawatir ha­sil panen begini lagi. Yang ada malah menghasilkan hutang lagi,” sedih Sam­sudin.

Samsudin berharap, Pemkab Tangerang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, turun ke lahan persawahan di Kecamatan Mauk untuk mengkroscek penyebab pasti penu­runan hasil produksi ini. “Saya minta Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan untuk membantu masalah yang diha­dapi sejumlah petani mauk,” pungkas­nya. (imron/hendra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.