SBY Bernostalgia di Situ Gintung

CIPUTAT,SNOL— Ketua Umum Par­tai Demokrat Susilo Bambang Yud­hoyono (SBY) bersilaturahmi dengan kader partainya di Restoran Taman Ayam Panggang, Situ Gintung Ke­camatan Ciputat, Selasa (24/4). Di­dampingi Ani Yudhoyono, SBY sem­pat mengajak warga berdialog untuk menyerap aspirasi. Di sana, SBY juga bercerita tentang kenangannya se­masa menjadi presiden RI.,

SBY menceritakan pengalaman­nya saat mengunjungi Situ Gintung, pada Maret 2009 lalu. Dia datang saat terjadi bencana alam, tanggul Situ Gintung jebol hingga menelan kor­ban jiwa. SBY yang saat itu merupa­kan capres petahana meninggalkan kampanye demi warga yang tengah dilanda bencana.

“Sebelumnya pernah terjadi musibah di Situ Gintung, saya tidak akan pernah lupa. Ketika mendengar musibah itu saya sedang perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Saya masih ingat Indonesia sedang kampanye pemilu 2009,” ujar SBY.

Pada saat itu baik dirinya maupun Jusuf Kalla terpaksa menghentikan proses kampanye yang sedang berlang­sung, dan membatalkan seluruh agen­danya demi untuk mengunjungi lokasi bencana jebolnya Situ Gintung. Pada saat itu keduanya berkomitmen untuk melakukan pembangunan kembali.

“Dan kali ini berlokasi di tempat yang sama pembangunan yang telah lakukan bersama dengan para kabi­net pemerintahan membuahkan ha­sil,” ungkapnya.

Dari cerita tersebut dia belajar bahwa dalam kompetisi politik, kekompakan dan perdamaian bisa dijaga. Tiap calon yang bersaing tidak seharusnya berkonflik yang hanya merugikan masyarakat. Da­lam kompetisi politik, termasuk pil­pres, masing-masing kandidat itu ya berkompetisi tapi tidak harus perang Baratayuda,” imbuhnya.

Usai bercerita soal pengalamannya, SBY mengajak warga yang hadir un­tuk mengheningkan cipta dan men­doakan para korban Situ Gintung.

Sementara di tempat yang sama Ketua DPC Kota Tangsel Gacho Su­narso menyampaikan rasa terimasih­nya dengan kunjungan tersebut. Dari kedatangan ini, seluruh kader partai bisa belajar banyak dari kepemimpi­nan Presiden Ke-6 ini.Menurutnya, perlu ada keberanian untuk menjadi seorang pemimpin. Salah satunya adalah merombak kepengurusan.

Seusai dialog, tiba tiba seorang pria langsung mendatangi SBY. Orang-orang yang berkerumun pun mem­beri jalan untuk pria tersebut dan panitia memberinya pelantang. Pria berkumis yang berkalungkan handuk itu mengaku seorang kuli bangunan dengan pendapatan terbatas.

Ia merindukan zaman SBY me­merintah yang menurutnya lebih enak. Zaman itu ia berdagang buah dan banyak pembelinya. Lantaran jumlah pembeli menurun, ia bera­lih menjadi kuli bangunan dengan pendapatan tidak seberapa.

SBY pun menanggapi langsung dengan menyebut membangun kembali ekonomi sebagai solusinya. “Kita bangun lagi ekonomi Pak,” ujar SBY. (jarkasih)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.