Wacana Pembongkaran Gedung SDN 3 Kembali Mencuat

Disampaikan Bupati Irna Saat Meninjau UN Tingkat SD

PANDEGLANG,SNOL–Wacana Pemerin­tah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang yang akan memperluas Pendopo Bupati, dengan menggusur gedung sekolah yang dibangun sejak zaman Belanda, yang saat ini masih diisi oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pandeglang 3. Nampaknya bukan isapan jempol belaka. Dimana, Pemkab setempat tetap akan mewujudkan ren­cana tersebut, meski tahun lalu sempat ditentang sejumlah pihak.

Keseriusan Pemkab, sempat diung­kapkan langsung oleh Bupati Pande­glang, Irna Narulita, saat meninjau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SD ke SDN Pandeglang 3 atau SD yang saat ini menyandang sebagai SD favorit di Pandeglang, Kamis (3/5).

Kata Irna, wacana itu kini masih dalam tahap pembahasan ditingkatan ekseku­tif. Tahun depan, pembahasan itu akan diseriusi, untuk kemudian ditargetkan mulai dikerjakan tahun 2020 men­datang. “Nanti tahun 2019, akan dibahas lagi perencanaannya seperti apa. Beli tanah dulu kah ? Pembangunannya seperti apa ? Kami buat Detail Engineering Design (DED)-nya dulu. Jadi ini baru se­batas wacana,” tegas Irna, Kamis (3/5).

Adapun alasan rencana penggusuran salah satu sekolah favorit di Pandeglang itu katanya, lantaran Pemerintah ingin memperluas area Pendopo Bupati Pan­deglang, yang terletak persis di sebelah sekolah tersebut.

“Sebagai salah satu Barang Milik Dae­rah (BMD) atau asset, pendopo perlu mendapat pemugaran yang meliputi, perluasan halaman dan pembangunan homestay untuk tamu undangan,” tam­bahnya.

Selain itu lanjut Irna, Pendopo juga nantinya akan jadi city tour dan jika dilihat dari belakang, nampak cukup luas. Sehingga kalau ada tamu katanya, tidak perlu di hotel lagi. Karena, biaya pengi­napan besar bagi tamu.

“Pemerintah harus hadir saat ada tamu dari instansi vertical. Jadi, kami akan bangun seperti di Banyuwangi. Disana, ada homestay untuk tamu undangan. Itu salah satu strategi mengurangi biaya besar, un­tuk biaya makan dan minum (Mamin) dan akomodasi yang lain,” terangnya.

Ia juga berdalih, rencana pemindahan sekolah yang termasuk cagar budaya itu, disebabkan kondisi bangunan yang dini­lai tidak layak dan kurang representatif bagi kegiatan belajar mengajar (KBM). Belum lagi, lokasinya yang berdekatan dengan jalan utama dengan kontur ja­lan yang menurun. Sehingga, dipandang akan membahayakan keselamatan siswa.

“Coba bayangkan, setiap hari turunan curam seperti ini, intensitas volume kendaraan padat sekali. Kalau ada apa-apa, Pemerintah kemana yah,” tandasnya.

Kendati demikian ia berjanji, akan lebih dulu menyediakan bangunan pengganti sebelum merelokasi SDN Pandeglang 3. Diharapkan, letak lahan pengganti sekolah tidak jauh dari pusat kota. Yang jelas, Irna menjamin Pemerintah akan memfasilitasi bangunan yang lebih nyaman, dan layak dijadikan sebagai sarana KBM.

“Kami akan carikan tempat, ini sekolah model. Kalaupun nanti ada lahan, selesaikan dulu lahannya di­mana. Namun, harus tetap di dekat (perkotaan,red). Jadi, ini tidak kami ganggu dulu sebelum ada tempat baru. Yang penting anak-anak tidak tergang­gu, tidak merugikan sekolah dan dunia pendidikan,” paparnya lagi.

Wacana tersebut mendapat peno­lakan keras dari pihak sekolah. Ke­pala SDN Pandeglang 3, Ikeu Suhar­tika menuding, jika rencana Pemkab itu tidak mencerminkan sikap yang pro terhadap dunia pendidikan dan kebu­dayaan. Mengingat, sekolah yang dipimpinnya itu termasuk cagar budaya.

“Kami mohon kepada warga Pan­deglang, ini ada warisan sekolah putri zaman dulu. Sekarang kami lestarikan bersama rekan-rekan guru, dan warga Pandeglang yang lain. Sekolah ini sudah banyak melahirkan siswa berprestasi. Jadi jelas, saya keberatan,” tegas Ikeu.

Ikeu juga mengaku, menolak jika dise­but tidak pro dengan program Pemerintah. Soalnya, alasan Pemkab untuk merelokasi sekolahan tersebut, lantaran dianggap tidak representative, justru ti­dak mendasar. Jika masa depan pendi­dikan dinilai penting, seharusnya Pemerintah mempercantik gedung sekolah.

“Kami bukan tidak mendukung Pemerintah, tapi jangan merusak bangunan pendidikan yang ada. Kalau bisa, justru diperbaiki. Karena ini jadi wajah Pande­glang, dekat Alun-alun dan bersebelahan dengan Pendopo,” pungkasnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar pemugaran Pendopo dilakukan dengan meningkatkan bangunan. Bukan justru membumihanguskan gedung sekola­han. Dengan tegas Ikeu kembali me­nyatakan, keberatannya dan mengaku akan mempertahankan bangunan ber­sama rekan-rekan guru lainnya.

“Sebaiknya Pendopo saja bangunan­nya ditingkatkan. Jangan membongkar bangunan ini. Kami jelas keberatan, bukan saya saja. Mungkin semua warga Pandeglang. Kami tidak akan melu­nak. Kami akan berusaha bersama pa­guyuban disekitar SD,” imbuuhnya.  (ni­pal/mardiana)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.