Nilai Aset Turun Ratusan Miliar

Pemkot Serang Diminta Benahi Manajemen

KOTA SERANG, SNOL–Turunnya nilai aset di Kota Serang yang mencapai ratusan miliar rupiah mendapat so­rotan dari Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Banten. Merujuk pada temuan BPK tahun 2016 terkait nilai aset, dirasa harus ada perbaikan manajemen yang dilakukan oleh Pem­kot Serang.

“Kelalaian Pemkot dalam penge­lolaan aset dapat mengakibatkan be­berapa hal yang sangat krusial, sebab itu pemkot harus meningkatkan mana­jemen asetnya. Hal ini agar nilai aset yang dimiliki tetap tinggi, memiliki usia yang lebih panjang, serta menghindari kerusakan terhadap aset yang bisa me­nyebabkan turunnya nilai jual,” ujar Di­visi Kebijakan Publik PATTIRO Banten, Amin Rohani, Selasa (10/7).

Pemkot tidak dapat memonitor Pe­nyusutan Aset, dimana Penyusutan merupakan salah satu risiko atas peng­gunaan aset tetap, dimana aset akan mengalami penyusutan, mulai dari pe­nyusutan fungsi hingga nilai. Namun, dengan adanya manajemen aset, Pem­kot akan lebih mudah melakukan pe­monitoran terhadap penyusutan.

“Untuk menjaga nilai aset, Pemkot Serang harus menyediakan biaya oper­asional yang memadai sehingga meng­hasilkan output yang tinggi dan sesuai dengan tujuan Pemkot,” lanjutnya.

Dengan perbaikan manajemen aset, diharapkan akan memudahkan mem­buat perencanaan yang menyangkut pendanaan aset seperti dana untuk pembelian atau konstruksi, pemeli­haraan, hingga dana untuk memper­panjang usia dan menghapus aset Pemkot. “Pemkot wajib mengontrol aset dengan baik sehingga dapat meng­hindari pembelian yang tidak perlu. Tanpa adanya manajemen aset, Pemkot akan mengalami kesulitan dalam me­nentukan priorotas untuk penyediaan barang,” tegas Amin.

Jka BPK melihat adanya laporan dan catatan terhadap aset yang terkesan fiktif, seharusnya BPK dapat menin­daklanjuti dengan melakukan audit investigatif terhadap temuan tersebut. “Sehingga clear bahwa manajemen aset di daerah jauh dari penyimpangan atau pelanggaran hukum,” tandasnya.

Sementara, data yang didapatkan oleh awak media, aset tetap menjadi penyumbang terbesar penyusutan ni­lai aset, adapun rinciannya adalah aset tanah mengalami penurunan sebesar 21.49 persen, sedangkan peralatan dan mesin mengalami penyusutan sebesar 65.83 persen.

Selain itu, gedung dan bangunan mengalami penurunan sebanyak 9.31 persen, selanjutnya jalan, irigasi dan ja­ ringan mengalami penyusutan pula sebesar 26.36 persen, lalu aset tetap lainnya juga menurun sebanyak 11,49 persen dan tera­khir konstruksi dalam penger­jaan mengalami penyusutan se­banyak 49,61 persen.

Terpisah, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Serang Adang Darmawan mengatakan, penyusutan aset sesuai dengan kebijakan akun­tansi untuk peralatan, mesin, dan gedung/bangunan. “Itu hasil penilaian mandiri mau­pun berdasarkan nilai perole­han aset,” tuturnya.

Kata dia, setiap tahun selalu ada penyusutan aset. Selain itu setiap tahun juga ada kapi­talisasi aset. Ia mengungkap­kan, penyusutan aset kerap terjadi di aset jalan, irigasi, dan jaringan (KIB D). Selain itu, ada juga penyusutan me­sin dan peralatan (KIB B), ser­ta gedung dan bangunan (KIB C). “Kecuali KIB A (tanah-red) dan KIB F (konstruksi dalam pengerjaan-red) tidak ada pe­nyusutan,” terangnya. (pbn/azm/bnn)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.