Lansia Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

KAB SERANG, SNOL—Salah seorang warga lanjut usia, Asibah (70), warga Kampung Kosambi Dalem, Desa/Kecamatan Lebak wangi, Kabupaten Serang menghabiskan masa tuanya dengan tinggal di dapur rumah cucunya yang tidak layak huni. Hal itu dikarenakan kondisinya sudah pikun dan kerap bermasalah dengan pencernaannya.

Anak pertama Asibah, yakni Juntiyah mengatakan, setiap pagi dan sore dirinya datang untuk memberi makan ibunya. Bahkan saat malam hari pun ia kerap melihat ibunya. “Kalau pagi itu kopi makanya nasi goreng di anterin dari subuh. Terus orang lain juga suka melihat kalau malam mah (jagain-red),” ujarnya.

Ia menjelaskan, ibunya tersebut tinggal bersama dengan cucunya. Namun cucunya itu kerap uring- uringan, lantaran sang nenek sudah bermasalah dengan pencernaannya. Tiap kali makan sang ibu pun langsung buang air. “Jadi tinggal di dapur,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini cucunya itu sedang bekerja di luar negeri menjadi TKI. Ia pergi sekitar delapan bulan lalu. Dirinya lah yang kini merawat sang ibu. “Anaknya itu ada delapan semuanya, tapi yang hidup cuma tiga, saya (Juntiyah), Salka dang mang Bari. Tapi kalau Mang Bari mah enggak tahu dimana dia merantau,” tuturnya.

Ia mengaku sudah pernah mencoba untuk mengobati ibunya di puskesmas terdekat. Namun sampai saat ini masih belum juga sembuh pencernannya. “Diobati di puskesmas pernah,” katanya. Namun demikian, ia menolak saat petugas dari Dinas Sosial Kabupaten Serang hendak membawanya ke balai. Dirinya beralasan tak mau jauh dari sang Ibu, dan ingin terus mengurusnya. “Enggak boleh, biar saya yang merawat saja,” katanya.

Sementara, Camat Lebak Wangi, Epi S Sukma yang turut mengunjungi lansia tersebut mengaku prihatin melihat kondisinya. “Saya dapat kabar itu tadi pagi, katanya ramai di Instagram. Makanya saya langsung ajak Kasie Kesos ke sini,” ujarnya.

Namun demikian, kata dia  ketika datang ke lokasi saat itu sang anak yakni Juntiyah sedang memberi makan ibunya. Padahal dalam informasi yang beredar sang nenek itu telantar. “Pas saya kunjungi anaknya bawa makanan, berartikan ada perhatian. Hanya memang dia tinggal di ruangan yang hanya berukuran 4 X 4 meter persegi,  sehari hari dia dikasih makan dan BAB nya juga dibersihkan sama anaknya,” tuturnya.

Berdasarkan informasi yang didapat dari RT nya, kata dia Asibah memang sudah pikun. Pernah suatu ketika dirinya mendatangi rumah RT dan bertanya mengapa suaminya tidak pernah memberinya makan dan tinggal bersama. Padahal sang suami sudah meninggal tiga tahun lalu.  “Terus infonya juga katanya kenapa digembok pintunya, karena kalau malam suka keluyuran dan suka lupa jalan pulangnya. Terus kenapa enggak dikasih tempat tidur karena dia juga suka merusak tempat tidurnya,” katanya.

Sementara, Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Serang, Marphindo Desra Chaniago mengatakan karena sang anak tidak mengizinkan untuk membawa ibunya ke Dinsos pihaknya pun akan mencoba mengomunikasikan agar tempat tinggalnya saja yang direhab. Agar Asibah bisa tinggal ditrmpat yang layak.  “Nanti biar direhab, tadi juga kan dari respek peduli nawarin untuk rehab. Jadi ada dua pilihan untuk rehabnya,” pungkasnya. (sidik/made)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.