Jual Sabu Diupah Rp 6 Juta

BNN Tangkap Kurir Narkoba yang Dikendalikan dari Lapas Tangerang

SERANG,SNOL— Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten meringkus dua pelaku penjual sabu yang dikendalikan dari Lapas Tangerang. Keduanya diupah Rp 6 juta rupiah untuk sekali penjualan sabu seberat 200 gram. Kemarin, sabu tersebut langsung dimusnahkan dengan cara diblender.

Kepala BNN Banten Brigjen Nurochman mengatakan tersangka Yolanda Putra (24) dan Suryo Danu (26) ditangkap di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Rabu (11/7) lalu. Keduanya mendapat kiriman sabu seberat 200 gram yang dikirim melalui jasa ekspedisi Pontianak.

“Sabu yang dikirim melalui jasa ekspedisi tersebut dikirim ke alamat pelaku. Begitu barang sudah diterima, BNN langsung menemukan sabu yang dibungkus sebanyak 2 paket yang disembunyikan di pakaian bekas,” ungkap Nurochman disela acara pemusnahan sabu seberat 200 gram di kantornya, Jl Syekh Nawawi Al Bantani, Serang, Banten, Selasa (24/7).

Dari keterangan pelaku, mereka mengaku dikendalikan oleh AA alias Jul, napi di Lapas Tangerang. Setelah diinterogasi di lapas, AA mengaku membeli sabu dari Pontianak. Pengiriman dari Pontianak menurutnya sudah dua kali dilakukan dengan total sabu 600 gram. “Jadi mereka sudah nerima hampir satu kilo. Mereka dikendalikan dari lapas dan mendapatkan upah,” katanya.

Dari tangan pelaku diamankan sabu, timbangan digital, dan bukti resi penerimaan ekspedisi. Para tersangka diancam hukuman 20 tahun penjara sesuai pasal 114 ayat (2) juncto pasal 112 ayat (1) juncto pasal 132 ayat (1) UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Terkait dengan penangkapan itu, Nurochman menyesalkan komitmen Pemprov Banten dalam pemberantasan narkoba. Ia menuding gubernur saat ini tidak memiliki komitmen, khususnya terhadap pemberantasan narkoba. “Banten ini sudah jelas, pernah pabrik ditemukan di Tangerang, di Anyer, kemudian ditemukan pabrik PCC di Rangkasbitung. Banten sudah rawan. Tergantung pemda mau peduli atau tidak. Kalau gubernurnya begini-begini saja, Banten 10 tahun ke depan hancur pemudanya,” ujarnya.

Ia mengatakan pemda seharusnya juga peduli terhadap pemuda Banten, khususnya masalah narkoba. Pemda saat ini dinilai pasif dan hanya berdiam diri. Perang terhadap narkoba, menurutnya, tidak hanya dilakukan oleh BNN. Apalagi harus mengorbankan gaji bulanan penyelidiknya. “Kita perang narkoba nggak mungkin hanya potong gaji. Harus ada dana operasional. Kalau gubernur nggak mau bantu, jangan harap Banten bebas narkoba,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan di Banten akan percuma jika tidak ada upaya pemberantasan narkoba yang juga dilakukan oleh pemda. Apalagi Gubernur Banten yang sekarang, menurutnya, tidak pernah menunjukkan komitmen. “Boleh bikin jalan sekian puluh kilometer, bikin rumah sakit, bebas pendidikan. Kalau anak mudanya kena narkoba percuma pembangunan dijalankan, 10-15 tahun ke depan nggak ada pemuda Banten yang punya prestasi. Iris kuping saya,” katanya.(denny/Jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.